[Novel Review] Bingkai Memori—Petronela Putri
Yeay! Setelah sebelumnya
mengulas novel Antosianin karya Kak Putri, kali ini aku ingin mengulas novel karya
seorang yang katanya pecinta biru laut dan malam hari, Kak Petronela Putri. Atau
biar lebih asik kita panggil saja Kak Mput :D Bingkai Memori adalah novel miliknya yang
pertama kali aku baca. Yuk simak ulasannya!
Judul: Bingkai
Memori
Pengarang:
Petronela Putri
Penerbit: Grasindo
Editor: Anin
Patrajuangga
Desainer: Sapta P.
S
Penata isi: Yusuf
Pramono
Jumlah halaman:
210
Blurb:
“Serupa waktu, isi hati manusia termasuk
hal yang paling sulit diterka.”
Mei tidak pernah menyangka bahwa seluruh
kehidupan berubah setelah sang ayah pergi untuk selamanya. Dari catatan-
catatan ditemukan di laci meja kerja, kenangan masa lalu, dan sebuah foto serta
gambaran mengenai kalung bandul yang terus memenuhi pikirannya gadis itu
memulai perjalanan baru menuju kota masa kecil ayahnya. Hal-hal baru pun terkauk,
yang membuat semua kebahagiaan dan tawa terasa begitu palsu. Banyak cerita yang
ternyata tidak ia ketahui.
Tentang seorang perempuan di masa lalu.
Tentang cerita cita yang tak pernah padam.
Dan sebuah rahasia, yang berusaha disimpan
rapat-rapat.
| Penampakan Bingkai Memori bersama uculku {} |
But first, lets talk
about this cover!
Aku
suka dengan background warnanya yang berwarna
cokelat muda dengan aksen bingkai foto yang di opacity. Ada gambar sebuah jurnal hitam, foto, dan kalung dengan
bandul hijau. Lucuk!
Novel ini bercerita tentang Meilisia Changkarya, atau Mei,
gadis yang mencoba kembali menguak kisah masa lalu Papa nya tercinta. Hasratnya
ini berawal ketika ia tak sengaja menemukan jurnal using milik sang Papa yang
menyimpan 1001 kisah lama yang sama sekali tak pernah Mei ketahui sebelumnya. Cerita
awal dimulai dari kisah sang Papa yang telah meninggal dunia. Mei merasa
dunianya nyaris ikut runtuh juga tatkala sang papa pergi meninggalkannya untuk
selama-lamanya. Iya, nyaris runtuh, ditambah dengan ketidakhadiran Prima
kekasihnya, yang sebenarnya sangat ia diharapkan menjadi tempat bersandarnya di kala masa
berkabung itu.
"Ada hal lain yang bahkan tak sanggup membuatnya tertawa hari ini." -(hlm 134)
Karena
tidak ingin terus larut dalam kenangan yang membuat sedih, mereka sekeluarga
pun (Mei, ibu, dan adiknya, Wendi) memutuskan untuk pindah ke rumah baru. Sembari membereskan buku-buku milik papanya,
Mei menemukan sebuah tulisan-tulisan usang yang tersusun dalam sebuah jurnal
sang Papa. Jurnal itu seperti diari yang ditulis oleh papa mengenai kisah
asmaranya kita masih muda. Da Wei (nama papa Mei) yang amat mencintai Mei Lie. awalnya Mei tidak menaruh curiga. Namun,
sebuah foto ia lihat, membuat ia mengambil jurnal tersebut dan tertarik
menelisiknya lebih jauh.
Rasa
penasaran Mei pun membuat ia mengambil cuti dari kantornya dan terpaksa
berbohong kepada sang Ibu bahwa ia akan mengadakan liputan ke Kota Padang.
Padahal, kota itu adalah tujuan utamanya menguak kisah lalu Da Wei, sekaligus
mencari si wanita pemilik bandul yang amat di cintai sang papa, Mei Lie.
"Serupa waktu, isi manusia termasuk hal yang paling sulit diterka." - (hlm 148)
Awalnya, aku pikir akan merasa bosan dengan kisah ini. Karena
hanya akan mengulik seputar kisah masa lalu sang papa saja. Tapi ternyata
tidak, hal tersebutlah yang malah membuat ia bertemu dengan Malvin. Laki-laki
yang bisa membuat hari-hari Mei sedikit lebih cerah. Malvin adalah kunci dari
pintu yang Mei cari di kota ini.
Konflik yang disuguhkan mulai dari kemunculan Prima dengan
seribu permohonan maafnya yang sudah membuat Mei kebal, Ibu Mei yang mulai
mencium kebohongan sang anak, sampai Ibu
Malvin yang tiba-tiba saja berubah perangainya, ia menjadi tidak suka melihat
Malvin dengan Mei. Padahal Malvin begitu mencintai Mei.
Aku kurang tahu, apa alasan Kak Mput mengambil setting di
kota Padang, mungkinkah karena itu kota kelahirannya? Tapi aku cukup senang, karena dari novel ini
aku bisa mengenal Padang sedikit lebih jauh, karena beliau menyuguhkan beberapa
tempat wisata menarik yang dikunjungi Mei di ketika berada di Padang, seperti
Siti Nurbaya, Muaro, yang tentunya menarik mintaku juga untuk kesana><
"Berjalanlah sejauh mungkin, Mei. Tapi tetap ingat bahwa setiap perjalanan selalu butuh rumah untuk pulang." - (hlm 167)
Thanks
FYI, Kak Mput. Aku cukup menikmati novel ini hingga akhir cerita, konflik
perlahan terselesaikan dan Mei kini kembali pada kehidupan nyatanya, menutup
lembaran tentang masa lalu papanya dan fokus dengan masa sekarang. Ada sesuatu
yang tidak Mei lihat selama sibuk mengais kisah cinta sejati Da Wei dan Mei
Lie, yaitu Siaw Fang, wanita lain yang kuat dan tegar dibalik semua kisah cinta
sejati itu. Penasaran siapa Siaw Fang? Gkgk :D
Bicara kelebihan, aku salut dengan Kak Mput, meski kisah cerita novel ini
tentang perjalanan Mei yang menguak kisah lalu Da Wei, tapi tidak
menitikberatkan sepenuhnya pada masa lalu Da Wei. Maksudnya aku merasa porsi
Mei sebagai tokoh utama tidak berkurang sama sekali. Biasanya, beberapa
cerita-cerita tentang tokoh utama yang berusaha menelisik kisah yang tidak
berkaitan sepenuhnya dengan tokoh utama tersebut, akan mengurang ekistentsi
tentang si tokoh utama dalam novelnya. But,
this is tottaly not! Good.
"Sebuah janji wajib ditepati, sesulit appaun perjuangannya. Tetapi seseorang yang tidak pernah menjanjikan apa-apa , tidak perlu menepati apa-apa." - (hlm 177)
Untuk kelemahan, umm.. I just feel, kedatangan Malvin yang
tiba-tiba begitu saja. Coba ada adegan lain yang membumbui pertemuan mereka
biar jadi lebih manis. Dan tentang Mei yang setuju ditawari menginap di rumah
Malvin, mereka kan baru kenal, aku pikir ada sesuatu yang janggal. Aku
menangkap kesannya kisah ini dibuat tergesa-gesa.
Bicara tentang tokoh favorit, tokoh favoritku adalah Ega,
karena dia adalah sahabat yang baik, pengertian, dan sangat peduli dengan
sahabatnya, Mei. Ohya, untung di halaman 41 dikasih tahu kalau Ega itu
perempuan, jika tidaksampai akhir aku akan mengira Ega seorang laki-laki,
karena menurutku perhatiannya yang terlalu berlebihan dan ’berbeda’ kepada Mei,
heheh :p
Oke,
its
time to give rating.
3.0 of 5.0 stars for Bingkai Memori
><
Congrats
Kak Mput \m/
Pesan
yang bisa aku tangkap dari novel ini adalah bahwa:
~ Cinta
sejati tak harus saling memiliki
~Jangan
menjalani sesuatu bila terpaksa karena akan menyakitkan
~ Jangan
menyimpan kebohongan
Overall, novel ini cukup ringan, nggak
bertele-tele dan mudah dipahami. Cocok untuk dijadikan teman bersantai. Okeh,
sekian ulasanku. Untuk Kak Mput tetap semangat,
jangan pernah berhenti nulis karena kami menunggu karyamu berikutnya. Xie-xie
<3
"Ada sesuatu yang tidak bisa dibohongi di dunia ini. Namanya perasaan." - (hlm 187)

0 komentar