• Home
  • Download
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Travel
  • Contact Us

Follow us

VIGESTATION


Yeay! Ini adalah novel #YARN selanjutnya yang telah ku baca.  Seperti yang telah kukatakan sebelumnya bahwa daku amat semangat membaca novel seri ini. Yah, begitulah.
Ohya,izinkan daku berterimakasih kepada Kak Daniel Dian karena dia telah meng- giveaway- kan novel karangan Kak Mertha ini sebagai salah satu hadiah kuisnya. IM REALLY HAPPY.

Capcus!


 
Pengarang: Mertha Sanjaya
Penerbit: Ice Cube
Penyunting: Katrine Gabby Kusuma
Tata sampul dan Isi: Deborah Amadis Mawa
vi+ 254 hlm., 13 x 19 cm
ISBN 978-979-91-0906-4
Cetakan Pertama, Agustus 2015
Blurb
“Mengapa kau menari di sini?” tanya Kevin lantang. “Bukankah kau bisa menari di panggung dan dapat uang lebih banyak?”


“Aku tidak butuh uang. Aku hanya suka menari. Menari, menari, dan menunggu.”


Keputusan sang ayah untuk pindah ke New York membawa angin segar dalam kehidupan Kevin Huston. Di kota yang sibuk itu, dia bisa melupakan kenangan buruk akan ibunya dan bisa memulai hidup baru tanpa ada yang tahu riwayatnya sebagai mantan pasien di Pusat Rehabilitasi Mental Golden Sunshine (“Senyum, senyum, senyum karena kau ada di Golden Sunshine!”). Kevin berhasil menarik perhatian Carla Friday, gadis paling populer di sekolah dan dia bisa berteman dengan siapa pun yang dia mau. Siapa pun kecuali Scarlett Mendelsohn, gadis penari yang ia temui di Battery Park. Berulang kali Kevin mencoba mendekati Scarlett, tapi gadis itu tidak menggubrisnya, seolah pikirannya berada di tempat lain. Tapi Kevin tidak mau menyerah. Karena ada sesuatu dari gadis itu yang mengingatkannya pada kondisinya dahulu.


 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Duh, sebelum jatuh cinta dengan isinya saya rasa telah jatuh cinta lebih dulu pada covernya! Desainnya benar-benar ciamik. Dengan warna putih-hitam yang mendominasi. Kesannya kayak nih novel di black-white effect! Desain cover bener-bener telah menarik rasa penasaran saya tentang kisah apa di dalam novel Brink of Senses, terlebih pada seorang gadis yang berbackground merah, seperti seorang ballerina!

Ups! Tadinya saya pikir gadis yang menari itu adalah tokoh utamanya, namun setelah saya menelisik ke bagian belakang novel saya nemenukan Kevin Huston berpendar pada blurb. Dan di bawahnya ada gambar seorang lekaki didominasi background hitam. Saya yakin itu pasti si Kevin. Jadi, apa yang akan terjadi dengan mereka?

Menghirup aroma baru di New York, setidaknya itu lebih baik bagi Kevin saat ini dibanding harus memikirkan peristiwa-peristiwa ketika di Newport. Tapi itu sudah jadi masa lalu, Joseph telah menyusun rencana hidup yang baru lagi bagi kedua putranya. Tapi belum banyak yang berubah dari diri Kevin, apalagi dia masih ditemani dengan ocehan, ejekkan, rengekkan Gabe, adiknya yang terkadang membuatnya dongkol, juga ayah Kevin. Tapi itu sebelum Kevin bertemu Carla Friday, gadis dengan 1001 pesona. Dalam sedetik Kevin bagai tersihir oleh kecantikan Carla,  gadis itu bahkan meresponnya dengan mantap.

Keinginan Kevin yang ingin melihat Patung Liberty secara nyata, tak sengaja mempertemukannya dengan gadis bergaun merah. Entah kenapa gadis itu telah menyita perhatiannya hanya dalam waktu yang sangat singkat. Singkat cerita dia menemukan gadis itu menari di Baterry Park.

Sampai beberapa bab, saya begitu tenang membaca novel ini. Kisah Kevin yang berusaha untuk mengenal Scarlett, gadis penari di Baterry Park itu semakin menarik saja. Scarlett terlihat tampak menutup dirinya, namun ada sesuatu yang membuat Kevin berniat mengulik kehidupan Scarlett lebih jauh.  Marcus  cukup menganggu bagi Kevin di awal, ia seakan-akan ingin menjotos orang aneh itu. Saya juga pikir tadinya Marcus adalah orang gila/pengemis yang sukanya memungut uang hasil Scarlett menari. Tapi ternyata ada sesuatu dibalik itu semua.

Pada bab lainnya juga ada sedikit pengembalian pada kisah Kevin. Kisah kelamnya. Kita akan tahu apa yang pernah terjadi pada K.H sebelumnya, dan Golden Sunshine.

Konflik yang terjadi pun menurut saya cukup ringan, mulai dari perdebatan-perdebatan kecil antar totkoh (Kevin dengan Scarlett, Kevin dengan Marcus, Kevin dengan Dean, Scarlett dengan Marcus misalnya),  Kevin yang nyaris kambuh karena tak bisa mengendalikan emosinya. Ohya, untuk yang ini feel yang saya dapatkan juga kurang, saya kira dengan penyakit yang pernah diidapnya itu akan membuat dia meledak-meledak. Tapi tak sebatas itu.

Hingga di detik-detik bab terakhir ada hal yang tak bisa saya sangka. Disini Kak Mertha cukup kece dalam rahasia- merahasiakan. Saya ngga nyangka ini begini, dan ngga nyangka itu begitu. What a surprise lah!

Sampai di akhir cerita, ada beberapa hal yang saya aggak kecewakan..
Karakter Kevin, dia terlalu lugu dan terlihat sedikit cuek. Saya mungkin lebih suka kalau Kevin dihiasi karakter humor nya, jadi kelihatan kalau dia nggak kaku-kaku amat.  Disini saya lebih memfavoritkan karakter Albert, teman Kevin dengan aksen Persia payahnya itu.
Scarlett yang tadinya kekeuh menyangkal pernyataan tersebut dengan mudahnya segera berbalik. Saya ngga ngerti, mungkin perlu ditambahin bumbu-bumbu yang bisa bikin Scarlett really-really percaya secara perlahan.
Trus  tentang penyakit yang dialami Kevin atau Scarlett pun hanya bisa saya tangkap secara umum. Misalnya definisi skizoafektif, skizofrenia, dan biopolar. Sejujurnya saya ingin mengetahui lebih dalam tentang hal itu, apakah penyakit itu cukup berbahaya, atau bagaimana cara menanggulanginya. Um, maybe Kak Metha ingin pembaca mengulik sendiri lebih jauh tentang penyakit ini. Tapi makasih kak,kalau nggak baca Brink of Senses kemungkinan saya nggak akan pernaah tau seputar nama-nama yang masih asing di telinga tersebut.
Dan dibagian hubungan Kevin dan Scarlett saya merasa cukup puas. Karena mereka berpotensi *toooooottt* #nospoilhahahaha

Its time to rate!


3 of 5 stars for Brink of Senses verse me !
Congrats kak Metha!
Overall novelmu kece buat jadi temen santai, isinya ringan dan menarik karena mengangkat tema yang nggak biasa.  Saya tunggu novel KECE mu selanjutnya Kak! Tetap semangat menulis! ^^

Quotes of Brink of Sense



"Kepercayaan adalah salah satu kunci utama dalam kesuksesan menjalin persahabatan."—48
“Menunggu itu menyebalkan.”—83
“Dibohongi oleh orang yang kau percayai adalah hal terburuk kedua setelah dicampakkan oleh orang yang kau nanti-nanti.”—198
“Kalau kau menunggunya minta maaf duluan, menyapa duluan, atau kalau ka uterus menunggu-nunggu waktu yang tepat untuk minta maaf, aku yakin waktu yang akan mati bosan menuunggumu!”—216










08.29
Sekitar  setengah jam yang lalu aku baru saja terbangun dari hibernasi singkatku. Kurasakan aliran keringat yang kian menderas. Aku duduk di balkon sambil mencoba mengingat semalam. Kehadiranmu dibunga tidurku yang bak nyata.
Kamu mendekat, menggoreskan aksara indah dengan cat warna yang beragam tepat diwajahku. Membuatnya tak sekadar merona. Aku sendiri terpesona dihipnotis paras tak biasamu yang selalu berhasil memikat attention para gadis yang terjumpai.
Aku terus hanyut dengan eksistensimu bersama suasana ini. Kemeja putih polos yang tak ku ketahui merknya membalut tubuhku lewat dekapan hangatmu. Kau seolah-olah nyata. Tapi ternyata, kenyataan seakan-akan mempermainkan. Aku terbangun dan kau menghilang. Aku menangis.
Lagu kenangan dari penyanyi favorit kita berdua setia mengalun indah menggiring pagiku lewati matahari yang terus naik. Lagu ini rasanya memang diciptakan untuk kita berdua. Ya, hanya untuk kita berdua. Aku tak pernah lupa saat persilihan menyelimuti diri kita dan lagu ini yang jadi pengobatnya. Mendengar berdua, merenung berdua, menghayati liriknya berdua. Indahnya, kita menikmatinya!
“Kau tak pernah mengajakku berdansa!”
“Kau gila!”
“Apa?”
“Lagu ini terlalu keras untuk dipaksa bergerak slow.”
“Lalu? Kenapa tak ajak menari?”
“Kau mau kita epilepsi?.”
“Haha!”
Kemudian kita melanjutkan menyanyi bersama. Sengaja menyendandungkan lagu itu sekuat-kuat mungkin sampai pita suara terburai dan gendang telinga tak lagi bergema. Kau pernah berkata, entah saat kita menikmati lagu ini untuk yang keberapa kalinya.
“Berjanjilah padaku agar selalu mencintai lagu ini, dengan atau tanpaku.”
“Hah? Maksudnya?” Kataku yag sama sekali tak bisa mendengar sayup suaranya diantara riuh aliran alternatif rock yang kini menggema di apartemenku. Dan kamu mengulangi pernyataan itu lewat bisikan yang membuatku sedikit terperangah. Lalu air mukamu memaksaku untuk tak terlalu komplain dengan ucapanmu barusan. Aku menjawab dalam hati “Aku selalu mencintai lagu ini untuk kudengar. Aku selalu mencintai lagu ini untuk aku nyanyikan. Dan aku lebih mencintai lagu ini bila keduanya kulakuan bersama kamu.”
Tapi, semenjak peristiwa buruk itu terjadi, aku memang epilepsi.
Berhari-hari menyanyikan lagu ini di kamar saat masa-masa berkabung. Memutar lagu ini kencang-kencang sampai aku dihujat sebagai orang gila oleh para tetanggaku. Harusnya aku yang menghujat mereka, karna mereka tak mengerti perasaanku!
Kadang aku bernyanyi sambil teriak, sesekali terpingkal. Kadang aku bernyanyi di  balkon sampai mataku bengkak. Air mata, begadang. Merekalah yang kala itu setia menemaniku mendengar lagu ini. Bukan kamu! Yang tak tepati janji!
1,5 tahun aku lupa dengan irama ini. Tak pernah tau bahkan dengan lirik tersusun yang dulu, sangat-sangat dulu  yang tak pernah absen kita nyanyikan, nikmati saja. Aku terkurung lebih beratus-ratus detik tanpa mendengar lagi lagu ini. Aku dipaksa jiwa lain untuk bahkan sengaja membenci lagu yang dulu amat-amat aku dan kamu cinta. Dan aku membenci lagu ini.

08. 42
Keberhasilanku untuk mengingat betul-betul mimpi itu hanya sebagian. Dan sebagiannya lagi tak dapat ku ingat jelas. Yang ada sekarang aku malah terjebak memori silam bersamamu akibat kaset lagu yang baru-baru ini kutemukan kembali setelah mempugar kardus dan sekarang sedang kuputar. Ke amnesiaanku tentang irama dan liriknya hilang begitu saja meski telah bertahun. Aku lancar menyenandungkan semuanya, dari dalam hati.
Aku mencoba untuk tidak mengosongkan pikiranku hanya karna ini. Aku telah bangkit dan apakah semuanyaadalah percuma hanya terplaylist nya kembali karena lagu jadul dari Daughtry yang kembali terputar ini? Tidak-tidak. Tidak. Ini sulit.
Bayangkan saja seseorang yang pernah mengisi hidupmu dan dia kau nobatkan sebagai manusia terbaik bagimu lalu kemudian kau harus melupakannya begitu saja hanya karena semua kejadian yang sama sekali bukan karena kekeliruannya. Dia tak pernah minta dan aku tak pernah mau melakukannya. Tapi takdir Tuhan memaksa kami.  Siapa yang harusnya tersakiti didunia ini? Harusnya dia. Bila dia masih merasakannya.
.... Lagu berhenti. Aku terus menekan tombol play dan lagu itu memulai lagi dari awal. Pagi ini sudah yang kedelapan kalinya. Huh, kupingku takkan pernah bosan kan mendengarnya? Hey, hey, kenapa mataku basah? Oh, mana. Mana bingkai foto bergambar kita berdua sayang? Aku ingin segera menggunakannya untuk menutup daerah mataku yang perlahan bermetamofis menjadi kemerahan. Aku malu kau melihatku menangis, sayang?

“Tuhan, kami masih belia. Mengapa secepat ini kau putuskan jalinan kami? Aku dan dia sedang senang-senangnya merajut asa dan mencoba merangkainya. Mengapa dihancurkan semua mimpi-mimpi itu?” Kini suaraku terlontar keras sambil mengadah tangan bersama kepala yang menegak ke atas. Aku kumat. Meronta-ronta sendiri di balkon seperti orang ayan. “Aku gila! Aku gila tanpa dia!” Jerit batinku.
Badanku terus bergeliak tak beraturan. Sampai aku tak sadar lagu itu kini telah berhenti kembali. Kembali sunyi, senyap. Pemandagan pagi hari yang memilukan bagiku.
Drrt..Drrt.. Handphone ku berdering.
“Lihat kebawah sekarang.”
Sebuah pesan singkat yang memerintahkanku. Aku mencoba berdiri sambil dipopong jajaran pagar lantai atas. Mataku menyapu segala keadaan yang terlihat dibawah. Terus mencari ke sumber tujuanku.
Seorang laki-laki berkemeja garis-garis putih biru melambaikan tangannya padaku. Samar-samar ku dengar ia memanggil namaku. Sebuah bucket bunga disembunyikannya dari belakang oleh salah satu tangannya. Aku bisa melihatnya jelas dari atas sini. Senyum manisnya pun kelihatan.
Tak butuh waktu lama aku telah berada tepat 15 cm dari hadapannya. Pandangannya aneh, tapi penuh arti.
“Happy birthday Gretha!” Katanya sambil membuka kedua tangannya dan terlihatlah bucket bunga yang ia sembunyikan tadi.
Tidak! Aku bahkan melupakan hari ulang tahunku. Aku menepuk jidat.
“Terimakasih banyak. Bunganya cantik.” Kataku melihat bucket bunga yang sekejap sudah berpindah ke tanganku.
“You’re very welcome. Gre?”
“Ya?”
“I wish nothing. But the best for you.”
“Love you, Arlenda!”
“Love you too, Gretha.”
Aku memeluk laki-laki didepan ku ini erat. Pagi yang mengejutkan. Dan menyenangkan. Aku baru tersadar, bahwa Tuhan telah memberikan hadia teristimewa padaku. Kenapa aku malah tak bersyukur dan selalu mengeluh dengan yang Tuhan khendaki. Aku marah Tuhan menjauhiku dengan Jaosam, mengenalkanku dengan Jaosam dan mempersilahkan kami saling jatuh cinta dan menikmati sebuah lagu kenangan tanpa henti. Kemudian merebut Jaosam dariku dan tak mengizinkan kami bersama lebih . Aku marah dengan semua yang pernah terjadi. Marah dengan hidupku yang kacau.
Tapi ternyata, Tuhan amat menyanyangiku. Dia melakukan ini karna Dia punya rencana indah. Dia mengambil sesuatu dari tanganku, tapi kemudian menggantinya. Aku harap ini yang terbaik. Dan aku yakin ini yang terbaik.
Arlenda mengusap sisa-sia air mata yang sengaja tak turun dari kelopak mataku. Ah, malu. Arlenda melihatku menangis. Untungnya ia tak mempertanyakan ini lebih jauh.
Arlenda sekarang adalah masa depanku. Yang Tuhan berikan untukku. Jaosam adalah masa laluku, yang Tuhan jadikan pelajaran bagiku. Semuanya bermakna untuk hidupku.
Kini, Arlenda jadi pengisi hariku. Aku tau kesulitan dia menembus dinding hatiku yang dulu telah ku cor permanen bersama Jaosam. Tapi kuasa bukanlah dikendaliku, Arlenda kini berhasil menembusnya, dan lagi ia bersedia membersihkan puing-puing dinding yang telah hancur tak berbentuk itu. Ia mengosongkannya sampai bersih, lalu dengan sabar membangun kembali dengan satu persatu batu bata yang akan ia susun sendiri agar menjadi dinding, katanya. Ia berusaha memintaku untung memplesternya dengan hati agar dinding bangunan itu semakin kuat. Aku luluh. Lambat laun, dinding itu semakin besar, kami selalu memperluasnya dan mempercantiknya. Dinding itu, semoga saja kokoh. Tak ada lagi yang mampu menghancurkan. Tapi ya, semuanya bukanlah dikendaliku. Aku yakin, kalaukan dinding akan hancur lagi artinya Tuhan ingin menyuguhkan seseuatu yang lebih indah dan baik lagi untukku. Ah, seharusnya aku tak perlu mencemaskan itu. Tugasku hanyalah mensyukuri  apa yang terjadi hari ni, dan apapun yang akan terjadi kedepannya.
For Jaosam: Thanks for everything. Meski kamu bukan yang tepat lagi dihati, kamu akan tetap ada disini. Aku menyimpannya direlung terjauh, akan aku pugar saat aku perlu. Tapi tak akan ku sesali dan mengharap lagi darinya. Rhyme in Peace.
For Arlenda: Selamat pagi, calon masa depanku! I hope you the best for my life. Temani aku fitting baju ya hari ini ;)
Aku berteriak kencang “Terima kasih Tuhan..... Love you.”






 



Judul : 후아유: 학교 2015 / Who Are You : School 2015
Genre : Drama | Remaja | Sekolah | Misteri
Jumlah Episode : 16 Episode
Periode Tayang : 27 April 2015 - 16 Juni 2015
Jadwal Tayang : KBS | Senin dan Selasa | 21.55 KST
Pemeran Utama : Kim So-hyun | Nam Joo-hyuk | Yook Sungja



Sinopsis~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Lee Eun-byul (Kim So-hyun) adalah seorang siswi yang sangat populer di SMA Sagang. Sekolah SMA Sagang merupakan sekolah yang sangat terkenal di kota wilayah Sagang. Cerita dimulai ketika Lee Eun-byul tidak di ketahui keberadaanya dan di nyatakan hilang secara misterius, hingga Lee Eun-bi yang merupakan kembarannya masuk dan pindah ke sekolah Segang.

Eun Bi yang suatu ketika terbangun dan tidak bisa mengingat apa-apa terkejut dengan dirinya yang sudah tidak mengingat asal-usul tentang keberadaan dirinya.  Lee Eun-bi mendapat perlakukan yang tidak menyenangkan dan tidak mempunyai teman sama sekali di sekolah lamanya, untuk itu ia kemudian berpura menggantikan peran Eun-byul yang notabenenya merupakan siswa terkenal di sekolah Segang.

 Drama ini merupakan seri ke enam dari beberapa deretan drama korea "School" dan ceritanya juga masih mengangkat kisah anak-anak SMA namun dengan latar setting dan di kemas dengan tampilan baru agar semakin menarik.



 Okay, sebelumnya mari bertanya pada diri sendiri. Udah berapa lama ga nonton drakor?
Hehef! Belakangan tahun ini daku sempat vakum dari dunia drakor. Tsaah, masih inget tontonan drakor terakhirku sebelum sempet vakum yaitu TROG, kalo nggak salah itu pun pas SMA kelas 1 keknya. Abis tuh udah, segala tentang korea melanglang buana dari pikiran ku..zzz

 Leen Eun Bi, dia adalah seorang gadis manis nan rajin yang tinggal di rumah cinta (panti asuhan) dan menghabiskan lebih banyak waktunya bersama anak-anak di sana. Dia sangat menyayangi anak-anak tersebut, begitu pula sebaliknya. Namun, meski Lee Eun bi anak yang baik, tetap saja ada orang yang tidak menyukainya. Kang So Yoong cs berhasil membully Lee Eun Bi habis-habisan di sekolah. Perlakuan tak senonoh pun mereka lakukan kepada Lee Eu Bi. Hingga suatu hari, ada yang membuat relung hati Lee Eun Bi nyaris menyerah dan ia ..... *janganbiarkanguespoiler*

Di sudut kota Seoul, ada seorang gadis manis yang juga memiliki perawakan yang mirip dengan Lee Eun Bi. Dia adalah Go Eun Byul. Okee, gue bocorin aja yang ini karena ini juga lu pasti udah bakal paham. Go Eun Byul adalah kembarannya Lee Eun Bi. Mereka terpisah sejak masih anak-anak. Sebelumnya sih mereka hidup bersama. Go Eun Byul punya sikap yang lebih dingin dan terkesan cuek or maybe jutek dibanding adiknya, Lee Eun Bi.


Dari part 1 yang udah gue babat, beneran deh... gue udah berani bilang kalo nih drama kece! Gue udah dibikin penasaran gilak sama kelanjutannya. Apalagi kisah Lee Eun Bi yang amnesia dan Go Eun Byul yang menghilang tiba-tiba. Gue sempet pengen nangis liat Lee Eun Bi waktu dijahatin ama Kang So Yoong cs. Bener-bener tuh Kang So Yoong! Sampai-sampai si Lee Eun Bi menjalankan kehidupannya yang baru di Seoul, tu bocah ada nongol jugak di sekolah barunya Lee Eun Bi. Dan yang pasti, bagi gue dia pengacau hidupnya si Lee Eun Bi.

And Horaayy, gue makin antusias nonton Who Are You waktu gue liat oppa-opaa yang kece badai :p Han Yi Anh adalah temen deket nya Eun Byul dari kecil dan mereka kayaknya memiliki hubungan khusus. Tapi, yaa itu tadi.. Si Eun Byul jutek abis lah sama Han Yi Ahn, padahal Han Yi Ahn suka looh sama Eun Byul !

Dan di episode-episode berikutnya kisah baru tentang Eun Bi makin hidup. Eun Bi menjalani hidupnya dengan penuh kebimbangan. Why? Karena yang gue bilang itu tadi, dia amnesia. Dan teman-teman di sekolahnya memanggilnya dengan nama "Go Eun Byul". Maybe lu pasti bingung kenapa bisa kayak gini alurnya. Jadi gini..... *gakmauspoilerkasianelunya* hahahah
Gituuuu :p

Tapi, nggak cuma Eun Bi kok yang bingung atas siapa dirinya yang sesungguhnya. Di episode-episode berikutnya terkuak juga beberapa keraguan dari teman dekat Eun Bi, dan teman-teman yang lain. Hal ini karena perbedaan yang udah signifikan dengan ciri khas Eun Byul yang sesungguhnya *nyarisspoiler* Han Yi Ahn tuh.. dia sampai galau gitu mikirin kejadian ini. Gak habis pikirlah pokoknya dia.

Selain Han Yi Ahn, cowok yang menghiasi hidup "Eun Byul" , ada juga nih Gong Tae Kwang. Dia itu terkenal cowok yang freak,absurd,gila, bala-bla-bla. Eun Byul yang biasanya nggak pernah sekalipun bicara ama Tae Kwang mendadak menyapa dan gemar menyungginkan senyum manisnya
dihadapan Tae Kwang. Awalnya, Tae Kwang yang aneh merasa aneh dengan cewek yang dianggapnya aneh ini. Tapi perlahan.... Malah muncul perasaan aneh yang membuatnya aneh sendiri.. Eaaahhahah aneeeh..

Dan di episode-episode berikutnya lagi Tae Kwang semakin dekat dengan "Go Eun Byul". Banyak kisah-kisah mereka berdua yang bikin gue ngakak, dan baperan.. :( Apalagi sejak Tae Kwang menunjukkan tanda-tanda ia menyukai "Eun Byul".. Gue rasa,gue udah suka juga sama Tae Kwang. Menurut gua dia bener-bener keren, apalagi dengan gayanya yang begitu, sikapnya yang begitu, dan tatapannya yang begitu... Its so really emeshiiiiinnnnn <3<3

Episode-episode yang berikutnya lagi makin seru dan baper mode on sejak Tae Kwang yang udah bukan jadi sekedar figuran lewat di hatinya Eun Bi. Gue bener-bener cant wait dengan part-part khusus mereka berdua. Cocoklaaah menurut gue. Tapi sayangnya, nyaris di episode-episode terakhir, Eun Bi nggak merasa dilema. Why? Bcuz dia udah punya satu nama di hatinya yang akan dia pilih nantinyaa.. Ummm

 

Drakor satu ini bener-bener menarik menurut gue, asli ciamik banget. Lu yang belum nonton yuksss pada nontoon dijamin baveraaann. Ah, jadi pengen nonton lagi :"


Ohya, ngemeng-ngemeng gue adalah #TimTaeKwang yakkk :D :d \m/
ini pas tae kwang lagi candain eun bi



tae kwang beliin mie buat eun bi






ini waktu tae kwang abis nembak eun bi

nangkep kepiting bareng buat di makan:D


cocok gakkkk

good listeners



hahaha kece kan mereka berduaaa, cius daaahhh!

pendapatlu gimana? atau lu mau gua suguhin yang versi eun bi ama han yi anh nya?















Ohyaaa ada juga pas mereka lagi bertiga, ini mah terkesan kayak lagi rebutin Eun Bi




nahhh gimana? do ya intersenting buat ngebabat film ini jugaaaaaa??/??????????????/
Capcuss laaaah :D
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

LATEST POSTS

  • [Novel Review] ANTOSIANIN—Putri Sarah Oliva
  • [Novel Review] Bingkai Memori—Petronela Putri
  • [JanuaryRRChallenge] See You Again—Arini Putri
  • #CuapCuap2017 Kilas Balik SBMPTN
  • Review "3 Koplak Mengejar Cinta"- Haris Firmansyah

Categories

  • novel 1
  • review 1

Featured Post

[BOOKREVIEW] Everything We Keep - Kerry Lonsdale

Tittle: Everything We Keep Author: Kerry Lonsdale Penerbit: PT Elex Media Komputindo Release: 17, July Published by the arra...

Recent Posts

VIGESTATION
Diberdayakan oleh Blogger.

Fashion

Laporkan Penyalahgunaan

  • Home
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Blog Archive

  • ►  2019 (1)
    • Januari (1)
  • ►  2018 (1)
    • Juli (1)
  • ►  2017 (21)
    • Desember (1)
    • November (3)
    • Oktober (1)
    • Agustus (2)
    • Juli (5)
    • Juni (3)
    • Mei (4)
    • Januari (2)
  • ►  2016 (12)
    • Desember (1)
    • Oktober (3)
    • Agustus (2)
    • Mei (1)
    • Maret (1)
    • Februari (3)
    • Januari (1)
  • ▼  2015 (18)
    • Desember (3)
    • November (2)
    • Agustus (4)
    • Juli (3)
    • Juni (2)
    • Mei (2)
    • April (1)
    • Januari (1)
  • ►  2014 (3)
    • November (1)
    • Oktober (2)

Cari Blog Ini

Blog Archive

  • ►  2019 (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (1)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2017 (21)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (5)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (4)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2016 (12)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (1)
  • ▼  2015 (18)
    • ▼  Desember (3)
      • [Review] Brink of Sense— Mertha Sanjaya
      • [Short Story] Mengenangmu Lewat Sebuah Lagu
      • Review K-Drama "Who Are You" -School 2015
    • ►  November (2)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2014 (3)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)

Subscribe

Stay Connected

Follow us

3/Food/post-list

Like us on Facebook

Hello, here you can tell something about yourself or you can put your blog description here or even you can add some quote of your choice here. This is an optional text area which you can hide or delete from the layout. Its totally dependent upon you if you want this text area or not.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • pinterest
  • Bloglovin
facebook twitter instagram pinterest bloglovin etsy

About me

Read More

Months had too ham cousin remove far spirit. She procuring the why performed continual improving.

Follow Us

  • medium
  • youtube
  • instagram

Boxed Version

  • boxedVersion
  • Home
  • Megamenu
    • Travel
    • Lifestyle
    • Fashion
    • Beauty
  • Social
  • Features
    • Left Sidebar Post
    • Fullwidth Post
    • Right Sidebar Post
  • Blog
  • Download
  • Home
  • About
  • Contact

Contact

Mengenai Saya

Vigestha
Lihat profil lengkapku

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Welcome to my personal blog

Welcome to my personal blog
share tips, thoughts, and useful random things.

Categories

Labels

  • novel 1
  • review 1

My Instagram

My Instagram

Default Variables

  • disqusShortname
  • commentsSystem
  • fixedSidebar
  • postPerPage
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • pinterest

Social Plugin

  • facebook
  • twitter
  • reddit
  • pinterest
  • linkedin
  • vk
  • instagram
  • youtube
  • whatsapp
  • rss

Menu Footer Widget

  • Home
  • About
  • Contact Us

Romantic

Pages

  • Beranda

Traveling

Popular Posts

  • [Novel Review] ANTOSIANIN—Putri Sarah Oliva
  • [Novel Review] Bingkai Memori—Petronela Putri
  • [JanuaryRRChallenge] See You Again—Arini Putri
  • #CuapCuap2017 Kilas Balik SBMPTN

Link List

  • Home
  • Features
  • _Multi DropDown
  • __DropDown 1
  • __DropDown 2
  • __DropDown 3
  • _ShortCodes
  • _SiteMap
  • _Error Page
  • Mega Menu
  • Learn Blogging
  • Documentation
  • _Web Documentation
  • _Video Documentation
  • Download This Template

About Me

Hello, here you can tell something about yourself or you can put your blog description here or even you can add some quote of your choice here.

Popular Posts

  • [Novel Review] ANTOSIANIN—Putri Sarah Oliva
  • [Novel Review] Bingkai Memori—Petronela Putri
  • [JanuaryRRChallenge] See You Again—Arini Putri
  • #CuapCuap2017 Kilas Balik SBMPTN
  • [Naskah Drama] "Kembalikan Indonesiaku" 2016
  • [Novel Review] Muara Rasa—Deva Annesya
  • Review "3 Koplak Mengejar Cinta"- Haris Firmansyah
  • The First Time Ngecuap
  • Review Sebelas – Dya Ragil
  • [Review] Brink of Sense— Mertha Sanjaya

Advertisement

Category3

Vintage

Copyright © 2015 VIGESTATION. Designed by OddThemes