[Review] Brink of Sense— Mertha Sanjaya



Yeay! Ini adalah novel #YARN selanjutnya yang telah ku baca.  Seperti yang telah kukatakan sebelumnya bahwa daku amat semangat membaca novel seri ini. Yah, begitulah.
Ohya,izinkan daku berterimakasih kepada Kak Daniel Dian karena dia telah meng- giveaway- kan novel karangan Kak Mertha ini sebagai salah satu hadiah kuisnya. IM REALLY HAPPY.

Capcus!


Pengarang: Mertha Sanjaya
Penerbit: Ice Cube
Penyunting: Katrine Gabby Kusuma
Tata sampul dan Isi: Deborah Amadis Mawa
vi+ 254 hlm., 13 x 19 cm
ISBN 978-979-91-0906-4
Cetakan Pertama, Agustus 2015
Blurb
“Mengapa kau menari di sini?” tanya Kevin lantang. “Bukankah kau bisa menari di panggung dan dapat uang lebih banyak?”


“Aku tidak butuh uang. Aku hanya suka menari. Menari, menari, dan menunggu.”


Keputusan sang ayah untuk pindah ke New York membawa angin segar dalam kehidupan Kevin Huston. Di kota yang sibuk itu, dia bisa melupakan kenangan buruk akan ibunya dan bisa memulai hidup baru tanpa ada yang tahu riwayatnya sebagai mantan pasien di Pusat Rehabilitasi Mental Golden Sunshine (“Senyum, senyum, senyum karena kau ada di Golden Sunshine!”). Kevin berhasil menarik perhatian Carla Friday, gadis paling populer di sekolah dan dia bisa berteman dengan siapa pun yang dia mau. Siapa pun kecuali Scarlett Mendelsohn, gadis penari yang ia temui di Battery Park. Berulang kali Kevin mencoba mendekati Scarlett, tapi gadis itu tidak menggubrisnya, seolah pikirannya berada di tempat lain. Tapi Kevin tidak mau menyerah. Karena ada sesuatu dari gadis itu yang mengingatkannya pada kondisinya dahulu.


 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Duh, sebelum jatuh cinta dengan isinya saya rasa telah jatuh cinta lebih dulu pada covernya! Desainnya benar-benar ciamik. Dengan warna putih-hitam yang mendominasi. Kesannya kayak nih novel di black-white effect! Desain cover bener-bener telah menarik rasa penasaran saya tentang kisah apa di dalam novel Brink of Senses, terlebih pada seorang gadis yang berbackground merah, seperti seorang ballerina!

Ups! Tadinya saya pikir gadis yang menari itu adalah tokoh utamanya, namun setelah saya menelisik ke bagian belakang novel saya nemenukan Kevin Huston berpendar pada blurb. Dan di bawahnya ada gambar seorang lekaki didominasi background hitam. Saya yakin itu pasti si Kevin. Jadi, apa yang akan terjadi dengan mereka?

Menghirup aroma baru di New York, setidaknya itu lebih baik bagi Kevin saat ini dibanding harus memikirkan peristiwa-peristiwa ketika di Newport. Tapi itu sudah jadi masa lalu, Joseph telah menyusun rencana hidup yang baru lagi bagi kedua putranya. Tapi belum banyak yang berubah dari diri Kevin, apalagi dia masih ditemani dengan ocehan, ejekkan, rengekkan Gabe, adiknya yang terkadang membuatnya dongkol, juga ayah Kevin. Tapi itu sebelum Kevin bertemu Carla Friday, gadis dengan 1001 pesona. Dalam sedetik Kevin bagai tersihir oleh kecantikan Carla,  gadis itu bahkan meresponnya dengan mantap.

Keinginan Kevin yang ingin melihat Patung Liberty secara nyata, tak sengaja mempertemukannya dengan gadis bergaun merah. Entah kenapa gadis itu telah menyita perhatiannya hanya dalam waktu yang sangat singkat. Singkat cerita dia menemukan gadis itu menari di Baterry Park.

Sampai beberapa bab, saya begitu tenang membaca novel ini. Kisah Kevin yang berusaha untuk mengenal Scarlett, gadis penari di Baterry Park itu semakin menarik saja. Scarlett terlihat tampak menutup dirinya, namun ada sesuatu yang membuat Kevin berniat mengulik kehidupan Scarlett lebih jauh.  Marcus  cukup menganggu bagi Kevin di awal, ia seakan-akan ingin menjotos orang aneh itu. Saya juga pikir tadinya Marcus adalah orang gila/pengemis yang sukanya memungut uang hasil Scarlett menari. Tapi ternyata ada sesuatu dibalik itu semua.

Pada bab lainnya juga ada sedikit pengembalian pada kisah Kevin. Kisah kelamnya. Kita akan tahu apa yang pernah terjadi pada K.H sebelumnya, dan Golden Sunshine.

Konflik yang terjadi pun menurut saya cukup ringan, mulai dari perdebatan-perdebatan kecil antar totkoh (Kevin dengan Scarlett, Kevin dengan Marcus, Kevin dengan Dean, Scarlett dengan Marcus misalnya),  Kevin yang nyaris kambuh karena tak bisa mengendalikan emosinya. Ohya, untuk yang ini feel yang saya dapatkan juga kurang, saya kira dengan penyakit yang pernah diidapnya itu akan membuat dia meledak-meledak. Tapi tak sebatas itu.

Hingga di detik-detik bab terakhir ada hal yang tak bisa saya sangka. Disini Kak Mertha cukup kece dalam rahasia- merahasiakan. Saya ngga nyangka ini begini, dan ngga nyangka itu begitu. What a surprise lah!

Sampai di akhir cerita, ada beberapa hal yang saya aggak kecewakan..
Karakter Kevin, dia terlalu lugu dan terlihat sedikit cuek. Saya mungkin lebih suka kalau Kevin dihiasi karakter humor nya, jadi kelihatan kalau dia nggak kaku-kaku amat.  Disini saya lebih memfavoritkan karakter Albert, teman Kevin dengan aksen Persia payahnya itu.
Scarlett yang tadinya kekeuh menyangkal pernyataan tersebut dengan mudahnya segera berbalik. Saya ngga ngerti, mungkin perlu ditambahin bumbu-bumbu yang bisa bikin Scarlett really-really percaya secara perlahan.
Trus  tentang penyakit yang dialami Kevin atau Scarlett pun hanya bisa saya tangkap secara umum. Misalnya definisi skizoafektif, skizofrenia, dan biopolar. Sejujurnya saya ingin mengetahui lebih dalam tentang hal itu, apakah penyakit itu cukup berbahaya, atau bagaimana cara menanggulanginya. Um, maybe Kak Metha ingin pembaca mengulik sendiri lebih jauh tentang penyakit ini. Tapi makasih kak,kalau nggak baca Brink of Senses kemungkinan saya nggak akan pernaah tau seputar nama-nama yang masih asing di telinga tersebut.
Dan dibagian hubungan Kevin dan Scarlett saya merasa cukup puas. Karena mereka berpotensi *toooooottt* #nospoilhahahaha

Its time to rate!


3 of 5 stars for Brink of Senses verse me !
Congrats kak Metha!
Overall novelmu kece buat jadi temen santai, isinya ringan dan menarik karena mengangkat tema yang nggak biasa.  Saya tunggu novel KECE mu selanjutnya Kak! Tetap semangat menulis! ^^

Quotes of Brink of Sense



"Kepercayaan adalah salah satu kunci utama dalam kesuksesan menjalin persahabatan."—48
“Menunggu itu menyebalkan.”—83
“Dibohongi oleh orang yang kau percayai adalah hal terburuk kedua setelah dicampakkan oleh orang yang kau nanti-nanti.”—198
“Kalau kau menunggunya minta maaf duluan, menyapa duluan, atau kalau ka uterus menunggu-nunggu waktu yang tepat untuk minta maaf, aku yakin waktu yang akan mati bosan menuunggumu!”—216







Share:

0 komentar