Hello Bye, Jaosam!



08.29
Sekitar  setengah jam yang lalu aku baru saja terbangun dari hibernasi singkatku. Kurasakan aliran keringat yang kian menderas. Aku duduk di balkon sambil mencoba mengingat semalam. Kehadiranmu dibunga tidurku yang bak nyata.
Kamu mendekat, menggoreskan aksara indah dengan cat warna yang beragam tepat diwajahku. Membuatnya tak sekadar merona. Aku sendiri terpesona dihipnotis paras tak biasamu yang selalu berhasil memikat attention para gadis yang terjumpai.
Aku terus hanyut dengan eksistensimu bersama suasana ini. Kemeja putih polos yang tak ku ketahui merknya membalut tubuhku lewat dekapan hangatmu. Kau seolah-olah nyata. Tapi ternyata, kenyataan seakan-akan mempermainkan. Aku terbangun dan kau menghilang. Aku menangis.
Lagu kenangan dari penyanyi favorit kita berdua setia mengalun indah menggiring pagiku lewati matahari yang terus naik. Lagu ini rasanya memang diciptakan untuk kita berdua. Ya, hanya untuk kita berdua. Aku tak pernah lupa saat persilihan menyelimuti diri kita dan lagu ini yang jadi pengobatnya. Mendengar berdua, merenung berdua, menghayati liriknya berdua. Indahnya, kita menikmatinya!
“Kau tak pernah mengajakku berdansa!”
“Kau gila!”
“Apa?”
“Lagu ini terlalu keras untuk dipaksa bergerak slow.”
“Lalu? Kenapa tak ajak menari?”
“Kau mau kita epilepsi?.”
“Haha!”
Kemudian kita melanjutkan menyanyi bersama. Sengaja menyendandungkan lagu itu sekuat-kuat mungkin sampai pita suara terburai dan gendang telinga tak lagi bergema. Kau pernah berkata, entah saat kita menikmati lagu ini untuk yang keberapa kalinya.
“Berjanjilah padaku agar selalu mencintai lagu ini, dengan atau tanpaku.”
“Hah? Maksudnya?” Kataku yag sama sekali tak bisa mendengar sayup suaranya diantara riuh aliran alternatif rock yang kini menggema di apartemenku. Dan kamu mengulangi pernyataan itu lewat bisikan yang membuatku sedikit terperangah. Lalu air mukamu memaksaku untuk tak terlalu komplain dengan ucapanmu barusan. Aku menjawab dalam hati “Aku selalu mencintai lagu ini untuk kudengar. Aku selalu mencintai lagu ini untuk aku nyanyikan. Dan aku lebih mencintai lagu ini bila keduanya kulakuan bersama kamu.”
Tapi, semenjak peristiwa buruk itu terjadi, aku memang epilepsi.
Berhari-hari menyanyikan lagu ini di kamar saat masa-masa berkabung. Memutar lagu ini kencang-kencang sampai aku dihujat sebagai orang gila oleh para tetanggaku. Harusnya aku yang menghujat kalian, karna kalian tak mengerti perasaanku!
Kadang aku bernyanyi sambil teriak, sesekali terpingkal. Kadang aku bernyanyi di  balkon sampai mataku bengkak. Air mata, begadang. Merekalah yang kala itu setia menemaniku mendengar lagu ini. Bukan kamu! Yang tak tepati janji!
1,5 tahun aku lupa dengan irama ini. Tak pernah tau bahkan dengan lirik tersusun yang dulu, sangat-sangat dulu tak pernah absen kita nyanyikan, nikmati saja. Aku terkurung lebih beratus-ratus detik tanpa mendengar lagi lagu ini. Aku dipaksa jiwa lain untuk bahkan sengaja membenci lagu yang dulu amat-amat aku dan kamu cinta. Dan aku membenci lagu ini.

08. 42
Keberhasilanku untuk mengingat betul-betul mimpi itu hanya sebagian. Dan sebagiannya lagi tak dapat ku ingat jelas. Yang ada sekarang aku malah terjebak memori silam bersamamu akibat kaset lagu yang baru-baru ini kutemukan kembali setelah mempugar kardus dan sekarang sedang kuputar. Ke amnesiaanku tentang irama dan liriknya hilang begitu saja meski telah bertahun. Aku lancar menyenandungkan semuanya, dari dalam hati.
Aku mencoba untuk tidak mengosongkan pikiranku hanya karna ini. Aku telah bangkit dan apakah semuanyaadalah percuma hanya terplaylist nya kembali karena lagu jadul dari Daughtry yang kembali terputar ini? Tidak-tidak. Tidak. Ini sulit.
Bayangkan saja seseorang yang pernah mengisi hidupmu dan dia kau nobatkan sebagai manusia terbaik bagimu lalu kemudian kau harus melupakannya begitu saja hanya karena semua kejadian yang sama sekali bukan karena kekeliruannya. Dia tak pernah minta dan aku tak pernah mau melakukannya. Tapi takdir Tuhan memaksa kami.  Siapa yang harusnya tersakiti didunia ini? Harusnya dia. Bila dia masih merasakannya.
.... Lagu berhenti. Aku terus menekan tombol play dan lagu itu memulai lagi dari awal. Pagi ini sudah yang kedelapan kalinya. Huh, kupingku takkan pernah bosan kan mendengarnya? Hey, hey, kenapa mataku basah? Oh, mana. Mana bingkai foto bergambar kita berdua sayang? Aku ingin segera menggunakannya untuk menutup daerah mataku yang perlahan bermetamofis menjadi kemerahan. Aku malu kau melihatku menangis, sayang?

“Tuhan, kami masih belia. Mengapa secepat ini kau putuskan jalinan kami? Aku dan dia sedang senang-senangnya merajut asa dan mencoba merangkainya. Mengapa dihancurkan semua mimpi-mimpi itu?” Kini suaraku terlontar keras sambil mengadah tangan bersama kepala yang menegak ke atas. Aku kumat. Meronta-ronta sendiri di balkon seperti orang ayan. “Aku gila! Aku gila tanpa dia!” Jerit batinku.
Badanku terus bergeliak tak beraturan. Sampai aku tak sadar lagu itu kini telah berhenti kembali. Kembali sunyi, senyap. Pemandagan pagi hari yang memilukan bagiku.
Drrt..Drrt.. Handphone ku berdering.
“Lihat kebawah sekarang.”
Sebuah pesan singkat yang memerintahkanku. Aku mencoba berdiri sambil dipopong jajaran pagar lantai atas. Mataku menyapu segala keadaan yang terlihat dibawah. Terus mencari ke sumber tujuanku.
Seorang laki-laki berkemeja garis-garis putih biru melambaikan tangannya padaku. Samar-samar ku dengar ia memanggil namaku. Sebuah bucket bunga disembunyikannya dari belakang oleh salah satu tangannya. Aku bisa melihatnya jelas dari atas sini. Senyum manisnya pun kelihatan.
Tak butuh waktu lama aku telah berada tepat 15 cm dari hadapannya. Pandangannya aneh, tapi penuh arti.
“Happy birthday Gretha!” Katanya sambil membuka kedua tangannya dan terlihatlah bucket bunga yang ia sembunyikan tadi.
Tidak! Aku bahkan melupakan hari ulang tahunku. Aku menepuk jidat.
“Terimakasih banyak. Bunganya cantik.” Kataku melihat bucket bunga yang sekejap sudah berpindah ke tanganku.
“You’re very welcome. Gre?”
“Ya?”
“I wish nothing. But the best for you.”
“Love you, Arlenda!”
“Love you too, Gretha.”
Aku memeluk laki-laki didepan ku ini erat. Pagi yang mengejutkan. Dan menyenangkan. Aku baru tersadar, bahwa Tuhan telah memberikan hadia teristimewa padaku. Kenapa aku malah tak bersyukur dan selalu mengeluh dengan yang Tuhan khendaki. Aku marah Tuhan menjauhiku dengan Jaosam, mengenalkanku dengan Jaosam dan mempersilahkan kami saling jatuh cinta dan menikmati sebuah lagu kenangan tanpa henti. Kemudian merebut Jaosam dariku dan tak mengizinkan kami bersama lebih . Aku marah dengan semua yang pernah terjadi. Marah dengan hidupku yang kacau.
Tapi ternyata, Tuhan amat menyanyangiku. Dia melakukan ini karna Dia punya rencana indah. Dia mengambil sesuatu dari tanganku, tapi kemudian menggantinya. Aku harap ini yang terbaik. Dan aku yakin ini yang terbaik.
Arlenda mengusap sisa-sia air mata yang sengaja tak turun dari kelopak mataku. Ah, malu. Arlenda melihatku menangis. Untungnya ia tak mempertanyakan ini lebih jauh.
Arlenda sekarang adalah masa depanku. Yang Tuhan berikan untukku. Jaosam adalah masa laluku, yang Tuhan jadikan pelajaran bagiku. Semuanya bermakna untuk hidupku.
Kini, Arlenda jadi pengisi hariku. Aku tau kesulitan dia menembus dinding hatiku yang dulu telah ku cor permanen bersama Jaosam. Tapi kuasa bukanlah dikendaliku, Arlenda kini berhasil menembusnya, dan lagi ia bersedia membersihkan puing-puing dinding yang telah hancur tak berbentuk itu. Ia mengosongkannya sampai bersih, lalu dengan sabar membangun kembali dengan satu persatu batu bata yang akan ia susun sendiri agar menjadi dinding, katanya. Ia berusaha memintaku untung memplesternya dengan hati agar dinding bangunan itu semakin kuat. Aku luluh. Lambat laun, dinding itu semakin besar, kami selalu memperluasnya dan mempercantiknya. Dinding itu, semoga saja kokoh. Tak ada lagi yang mampu menghancurkan. Tapi ya, semuanya bukanlah dikendaliku. Aku yakin, kalaukan dinding akan hancur lagi artinya Tuhan ingin menyuguhkan seseuatu yang lebih indah dan baik lagi untukku. Ah, seharusnya aku tak perlu mencemaskan itu. Tugasku hanyalah mensyukuri  apa yang terjadi hari ni, dan apapun yang akan terjadi kedepannya.
For Jaosam: Thanks for everything. Meski kamu bukan yang tepat lagi dihati, kamu akan tetap ada disini. Aku menyimpannya direlung terjauh, akan aku pugar saat aku perlu. Tapi tak akan ku sesali dan mengharap lagi darinya. Rhyme in Peace.
For Arlenda: Selamat pagi, calon masa depanku! I hope you the best for my life. Temani aku fitting baju ya hari ini ;)
Aku berteriak kencang “Terima kasih Tuhan..... Love you.”






Share:

0 komentar