Kompetisi #FFMataHati by Dian Nafi
Tulisan ini diikutan dalam kompetisi #FlashFictionMataHati yang diadakan @ummihasfa
Jumlah kata: 141
Perempuan muda yang jilbabnya terulur hingga menutupi perut
tersedu-sedu. Sebuah buntelan setia dipeluknya.
“Ayo, Azfar. Tentukan pilihanmu!”
Aku menatap lemah Andrina,
istri tercinta yang sedari tadi tak pernah berhenti menangis. Mata dan
hidungnya sama-sama merah dan mengeluarkan cairan.
“Azfar!”
Pandangku beralih ke sumber suara. Suara yang tak pernah asing
menghiasi telingaku 32 tahun terakhir. Aku juga menatap lemah ke arahnya.
“Bisakah Ibu mengurungkan keputusan Ibu?”
“Tidak! Aku sudah terlanjur membencinya!”
“Tapi Bu..”
“Sudahlah, Mas. Andrina ikhlas lahir batin.” Bidadariku
angkat bicara.
“Ayo Azfar, tunggu apalagi? Agar wanita ini cepat hengkang
dari sini.” Teriak wanita yang kakinya adalah surgaku itu. Emosinya menyiratkan
amarah.
Dan aku tak punya waktu untuk bernegosiasi panjang lebar
lagi.
Aku memejam. Tubuhku menggeram. Tangan Andriana yang
menjijing buntelan lekas ku gengam. Air mataku turut menghunjam.
Langkahku menghampiri Ibu, kucium tempurung tangannya yang
kurebut paksa.
“Assalamu’alaikum. Aku pergi, Bu..”


0 komentar