(Sebuah naskah drama teatrikal bertema kemerdekaan Indonesiaa, drama ini telah tampilkan dalam kegiatan hiburan menyambut Mahasiswa Baru FPPB Universitas Bangka Belitungg Tahun 2016)
*CAMERA*
*ROLLING*
*ACTION*
Di
suatu hutan yang tak bernama, meneteplah sejumlah warga pribumi yang tak lain
merupakan korban dari kejahatan para penjajah Belanda, mereka memutuskan melarikan
diri dan bermigrasi ke hutan ini karena dirasa sudah tiada lagi tempat yang
baik untuk ditampungi. Beberapa wilayah di perkotaan sudah dikuasi oleh
penjajah. Hingga kini, udah
bertahun-tahun lamanya mereka bersembunyi di tempat seperti ini. Tak heran lagi, hutan itu sudah bagaikan
desa bagi mereka. Meski jauh dari peradabaan, mereka bersyukur, karena sampai
saat ini belum ada penjajah yang mampu menemui mereka. Jadi, untuk waktu yang tidak dapat
ditentukan, mereka masih bisa menghirup udara dengan bebas dan memenuhi kebutuhan hidup walaupun dengan
sistem yang amat sederhana. . . . . Ya, untuk sementara mereka aman..
(Scene 1)
Di suatu senja, hampir menuju magrib *kicauan
burung*
Sejumlah warga yang tinggal di hutan mulai
melaksanakan aktivitasnya. Ibu-ibu di keluarga tersebut menunggu
Sedangkan ketiga orang anak sedang bermain
sedang riang-riangnya.
Do..mikado
mikado eska eska do eska do bela beli….
Anak 3: *bunyi kriuk-kriuk* “Mak… Lapar……”
*setengah menangis*
Ibu 1: *menghampiri* “Sebentar lagi nak, tunggu
Bapak pulang bawa”
Anak 1: “Bagaimana kalau kita menari dulu?”
Gadis : “Oke, kalau begitu biar mpok yang
pimpin.”
*nari*
Tak
lama kemudian dua orang bapak kembali sambil memikul kayu bakar dan sayur-mayur
yang mereka dapatkan tumbuh bebas di sekitar hutan.
Anak 2: “Bapak pulaang…………….” (berlari
menghampiri Bapak)
Mereka
mulai bersiap-siap untuk menyantap makanan ketika derap langkah sepatu besar
terdengar di hutan ini.
Ibu 1 dan 2: (panic) “Ada penjajah….”
*semua
berdiri* Para warga pribumi itu kelimpungan, mereka berlarian ke sana ke mari dengan
gaduhnya. Bingung, apa yang harus dilakukan. Ternyata penjajah berhasil
menemukan mereka. Padahal, tidak ada peta tentang hutan ini yang bisa penjajah
temukan apalagi dengan bantuan Google Maps. Derap langkah pun makin terdengar.
Kini, untuk mencari tempat persembunyian rasanya tak sempat lagi.
*Suara Tembakkan* DUAARRRRRRRRR………………..
(Munculah lima orang penjajah)
Kapten penjajah: *tertawa* “HAHAHAHA… Di
sini kalian bersembunyi rupanya! SKAK MAT KALIAN. Hahahahhahahahahahah…”
Penjajah 1: “Apa kami bilang, kami akan
menemukan kalian.” *mengangkat senjata*
(Semua warga berdiri dengan ketakukan di
belakang ketua adat)
Para
penjajah maju selangkah demi selangkah mendekati para pejuang.
Ketua adat berbalik: *Bagaimana, kita tidak
punya alat apapun untuk menyerang mereka.” *Ketakutan*
Anak 3: (maju ke depan) “AYO MAJU, KALAU BERANI”….
(Semua terkejut, penjajah bengong) *Krik-krik…”
(Semua penjajah tertawa)
Penjajah 1: “WAH-WAH! ANAK BAU KENCUR
MENANTANG KITA, LANCANG SEKALI KAU, NAK!
(anak 3 ditarik oleh anak 1 dan 2)
Gadis: (maju ke depan) “Apa? Apa yang
kalian mau lagi? Kalian sudah berhasil mengambil wilayah kami, dan menyiksa
sebagian dari warga kami. Tidak puaskah dengan semua ini?? (berteriak)
Tolong… jangan lakukan lagi!” *berlutut kepada
penjajah*
Penjajah 2: “Oh…… Tidak bisa, sayang.”
*mengedipkan mata dua kali ke arah gadis)
(Semua pemain *backsound IEWWWWW*)
Kapten Penjajah : “Sudah. jangan
berlama-lama. Prajurit, TANGKAP MEREKA!”
warga pribumi berlarian ke sana
kemari-kemari, menghindari diri dari tangkapan penjajah belanda.
*backsound berkejar-kejaran, suara tembakan,
teriakkan*
Ketua adat: “Semuanya, lari ke sini..”
(Warga pribumi langsung mengikuti jejak
ketua adat, lalu tiba-tiba seorang anak 2 terjatuh, dan di tangkap oleh penjajah)
“Mak… Pak… Tolong….”
(Bapak berbalik) “Anakku!” (berlari
berusaha melepaskan anak 2, lalu ia juga ditangkap)
Penjajah 3: “Jangan mendekat, atau mereka
akan ditembak.” (Penjajah lain ngangkat senjata)
Kapten Penjajah: “Bawa mereka!” (Berbicara
ke pada penjajah lain)
Anak
“Emak………………..”
Ibu: *Berteriak* “Jangan culik mereka…
Anakku….. (berlari mengejar penjajah, tapi penjajah sudah menghilang)
Malang
nian, nasib Si Ibu, bukannya sekarang sedang makan bersama-sama tapi kedua
orang yang disayanginya malah diculik penjajah entah di bawa ke mana
Ibu: (terduduk) “Anakku…… Suamiku….
Keluargaku……” * backsound menangis*
*nari*
(Semua warga pribumi mendekati ibu, dan
menenangkannya)
Bapak 2: (menengadahkan tangan) “Ya Allah….. cobaan apalagi yang Engkau
berikan kepada kami, negara-kami sudah habis dibantai oleh koloni tak
berprikemanusiaan seperti mereka”
Ibu 2: (memeluk Ibu 1) “Yang sabar… Kita berdoa
semoga mereka dilindungi Yang Kuasa..)
Malam
datang, tapi tidak seperti malam-malam sebelumnya. Hutan yang tadinya nyaman-nyaman saja didiami warga kini
berganti menjadi hutan yang terasa seram, mencekam. Karena penjajah telah menemukan hutan ini.
Mereka telah mengetahui keberadaan warga yang bersembunyi. Dan mereka bisa saja
datang kembali, untuk mengambil kekuasaan negeri, bahkan meregangi nyawa-nyawa
para pribumi.
Ketua adat: (mondar-mandir 7kali)
*backsound cring.. AHA* “Warga.. Saya
Ada Ide)
(Semua warga pribumi menghampiri Ketua
adat) “Apa? Apa?” (Pak Ketua ada berbisik)
(Ibu1, Ibu 2, Bapak 1, Gadis, dan ketua
adat berkumpul dan membentuk lingkaran, entah apa yang mereka bicarakan)
(Anak 1 dan anak 3): *mengangkat bahu* lalu
bermain domikado Mikado eska eska do eska
do bela beli
*backsound alam*
Setelah
hampir satu jam mereka merundingkan sesuatu..
(berdiri) “Jadi, SETUJU?”
(Ibu1, Ibu 2, Bapak 1, Gadis berdiri, anak
1 dan anak 3 menghampiri)
Ibu1, Ibu 2, Bapak 1,: “SETUJU!”
Anak 1 dan Anak 3: “SETUJU!” *ala anak
kecil”
*krik-kirik* (Ibu1, Ibu 2, Bapak 1, Gadis,
Ketua adat bengong, lalu tertawa bersama-sama)
**
Di
sebuah hutan lain, tak jauh dari hutan tempat bersembunyinya warga pribumi,
koloni penjajah belanda menyeret Bapak, dan anak tersebut dengan cara yang
begitu sarkas.
Anak 2: “Bapak… Kita mau di bawa ke mana?
(berbicara kepada Bapak)
Bapak 2: (Menggelengkan kepala) Tolong…..
Lepaskan kami!”
Penjajah 3: “Apa? Lepaskan? Enak saja!”
(Anak 2 dan Bapak 2 di ikat dengan tali,
dan dikurung) (Lalu semua penjajah mulai tidur)
Kapten Penjajah: Tetap di sini! Awas
kalian!
*sound musik
**
*backsound kukuruyuk
Ke-esokan
harinya.
Pagi
datang mengerjap. Suara kicauan burung *kicauan
burung* , serta bunyi tenangnya air yang mengalir di sungai *suara
air sungai* terdengar jelas di dalam
sebuah hutan. Warga pribumi telah lama bangun, membuat amunisi, yakni bamboo runcing.
Sepertinya mereka akan bergeriliya di tengah hutan.
Ketua adat: “Ayo, cepat. Sebelum kita
terlambat.”
Warga
pribumi kemudian menyusuri setiap hutan. Mencari-cari apa yang mereka maksud.
Ketua adat yakin, bahwa penjajah itu masih berada di hutan.
Dan
benar saja, dari jarak yang lumayan jauh dari hutan mereka, mereka menemukan
para penjajah tengah berbaring, sepertinya sedang tertidur pulas.
Anak 1 dan anak 3 :”Itu, Mereka!” (menunjuk
bersama-sama)
Ibu1: (menhampiri) “Anakku…. Suamiku……….”
(Para penjajah terbangun)
Penjajah 3: “Ada apa ini?”
(Warga pribumi yang lain ikut mendekat)
Kapten Penjajah: *bertepuk tangan* Wah-wah!
Hebat juga kalian, bisa mengetahui keberadaan kami!”
Penjajah 1: “Benar, Bos. Mereka menantang
kita rupanya!”
Ketua adat: “Menyerah lah kalian!”
Penjajah 3: “Wah-wah besar juga nyalinya!
Kapten Penjajah: (maju selangkah) Dengan amunisi macam ini,
kalian mau melawan kami? CUIH! (meludah)
Bapak 1: Jangan banyak cingcong, mari
selesaikansegera !”
Kapten Penjajah: (murka) SIAPKAN SENJATA
KALIAN, SERANG!.............
(Berperang…..)
Perang
sengit pun terjadi. Warga pribumi mengerahkan seluruh tenaganya untuk melawan
penjajah-penjajah Belanda yang juga tak mau kalah. Suara tembakan senapan
terdengar di udara. Senjata canggih dan bamboo runcing berpacu dalam satu
waktu. Siapa yang menang..
Satu-per-satu
penjajah runtuh pertahanannya. Senjata itu ternyata tidaklah sehebat desainnya.
Nyatanya, tusukan sebuah bamboo runcing sederhana lah yang lebih cepat
melumpuhkan para penjajah itu.
(Tinggal tersisa kapten penjajah, ia melongo-longo melihat
prajurit-nya yang telah jatuh. Warga pribumi mengacungkan bamboo runcingnya dan
melangkah menuju Kapten Penjajah)
Kapten
penjajah mendadak ketakutan, keringat sebesar biji jagung bermunculan dari
wajahnya, ia pun melakukan sesuatu..
(Kapten penjajah, menembakkan dirinya
sendiri dengan senjata, jatuh, dan mati)
(Warga pribumi terpelongo untuk sesaat)
*Sound
tanda kemenaangan
“MERDEKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA…… KITA
MERDEKAAAA…….. MERDEKA…….” *Berteriak bahagia.
Akhirnya,
impian penjajah untuk untuk menguasi tanah air lebih jauh nampaknya harus
dikubur dalam-dalam. Dikubur dalam-dalam juga bersama jasad mereka kalah dalam
pertempurang di medan perang. Usaha
warga pribumi untuk mengeyahkan mereka bukanlah sekedar sia-sia. Kini,
mereka bisa kembali lagi ke wilayah peradabaan Mereka. Mereka.. Mereka yang
telah berkorban atas apapun untuk negaranya, adalah pejuang! Pejuang bangsa!
Bangsa Indonesia! Mereka benar-benar pahlawan.
Tapi,
jangan lupakan juga pahlawan yang satunya lagi…”
“Bambu
Runcing yang sederhana”



