• Home
  • Download
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Travel
  • Contact Us

Follow us

VIGESTATION



 
pic by okezone.com
 (Sebuah naskah drama teatrikal bertema kemerdekaan Indonesiaa, drama ini telah tampilkan dalam kegiatan hiburan menyambut Mahasiswa Baru FPPB Universitas Bangka Belitungg Tahun 2016)

 *CAMERA*

*ROLLING*

*ACTION*



Di suatu hutan yang tak bernama, meneteplah sejumlah warga pribumi yang tak lain merupakan korban dari kejahatan para penjajah Belanda, mereka memutuskan melarikan diri dan bermigrasi ke hutan ini karena dirasa sudah tiada lagi tempat yang baik untuk ditampungi. Beberapa wilayah di perkotaan sudah dikuasi oleh penjajah. Hingga kini,  udah bertahun-tahun lamanya mereka bersembunyi di tempat seperti  ini. Tak heran lagi, hutan itu sudah bagaikan desa bagi mereka. Meski jauh dari peradabaan, mereka bersyukur, karena sampai saat ini belum ada penjajah yang mampu menemui mereka.  Jadi, untuk waktu yang tidak dapat ditentukan, mereka masih bisa menghirup udara dengan bebas dan  memenuhi kebutuhan hidup walaupun dengan sistem yang amat sederhana. . . . . Ya, untuk sementara  mereka aman..

(Scene 1)
Di suatu senja, hampir menuju magrib *kicauan burung*
Sejumlah warga yang tinggal di hutan mulai melaksanakan aktivitasnya. Ibu-ibu di keluarga tersebut menunggu
Sedangkan ketiga orang anak sedang bermain sedang riang-riangnya.

Do..mikado mikado eska eska do eska do bela beli….

Anak 3: *bunyi kriuk-kriuk* “Mak… Lapar……” *setengah menangis*

Ibu 1: *menghampiri* “Sebentar lagi nak, tunggu Bapak pulang bawa”

Anak 1: “Bagaimana kalau kita menari dulu?”

Gadis : “Oke, kalau begitu biar mpok yang pimpin.”

*nari*

Tak lama kemudian dua orang bapak kembali sambil memikul kayu bakar dan sayur-mayur yang mereka dapatkan tumbuh bebas di sekitar hutan.

Anak 2: “Bapak pulaang…………….” (berlari menghampiri Bapak)

Mereka mulai bersiap-siap untuk menyantap makanan ketika derap langkah sepatu besar terdengar di hutan ini.

Ibu 1 dan 2: (panic) “Ada penjajah….”

*semua berdiri* Para warga pribumi itu kelimpungan,  mereka berlarian ke sana ke mari dengan gaduhnya. Bingung, apa yang harus dilakukan. Ternyata penjajah berhasil menemukan mereka. Padahal, tidak ada peta tentang hutan ini yang bisa penjajah temukan apalagi dengan bantuan Google Maps. Derap langkah pun makin terdengar. Kini, untuk mencari tempat persembunyian rasanya tak sempat lagi.

*Suara Tembakkan* DUAARRRRRRRRR………………..

(Munculah lima orang penjajah)

Kapten penjajah: *tertawa* “HAHAHAHA… Di sini kalian bersembunyi rupanya! SKAK MAT KALIAN. Hahahahhahahahahahah…”

Penjajah 1: “Apa kami bilang, kami akan menemukan kalian.”  *mengangkat senjata*

(Semua warga berdiri dengan ketakukan di belakang ketua adat)

Para penjajah maju selangkah demi selangkah mendekati para pejuang.

Ketua adat berbalik: *Bagaimana, kita tidak punya alat apapun untuk menyerang mereka.” *Ketakutan*

Anak 3: (maju ke depan)  “AYO MAJU, KALAU BERANI”….

(Semua terkejut, penjajah bengong) *Krik-krik…”
(Semua penjajah tertawa)

Penjajah 1: “WAH-WAH! ANAK BAU KENCUR MENANTANG KITA, LANCANG SEKALI KAU, NAK!

(anak 3 ditarik oleh anak 1 dan 2)

Gadis: (maju ke depan) “Apa? Apa yang kalian mau lagi? Kalian sudah berhasil mengambil wilayah kami, dan menyiksa sebagian dari warga kami. Tidak puaskah dengan semua ini?? (berteriak)
 Tolong… jangan lakukan lagi!” *berlutut kepada penjajah*

Penjajah 2: “Oh…… Tidak bisa, sayang.” *mengedipkan mata dua kali ke arah gadis)

(Semua pemain *backsound IEWWWWW*)

Kapten Penjajah : “Sudah. jangan berlama-lama.  Prajurit, TANGKAP MEREKA!”

warga pribumi berlarian ke sana kemari-kemari, menghindari diri dari tangkapan penjajah belanda.

*backsound berkejar-kejaran, suara tembakan, teriakkan*

Ketua adat: “Semuanya, lari ke sini..”

(Warga pribumi langsung mengikuti jejak ketua adat, lalu tiba-tiba seorang anak 2 terjatuh, dan di tangkap  oleh penjajah)
“Mak… Pak… Tolong….”

(Bapak berbalik) “Anakku!” (berlari berusaha melepaskan anak 2, lalu ia juga ditangkap)

Penjajah 3: “Jangan mendekat, atau mereka akan ditembak.” (Penjajah lain ngangkat senjata)

Kapten Penjajah: “Bawa mereka!” (Berbicara ke pada penjajah lain)

Anak  “Emak………………..”

Ibu: *Berteriak* “Jangan culik mereka… Anakku….. (berlari mengejar penjajah, tapi penjajah sudah menghilang)

Malang nian, nasib Si Ibu, bukannya sekarang sedang makan bersama-sama tapi kedua orang yang disayanginya malah diculik penjajah entah di bawa ke mana

Ibu: (terduduk) “Anakku…… Suamiku…. Keluargaku……” * backsound menangis*

*nari*

(Semua warga pribumi mendekati ibu, dan menenangkannya)
Bapak 2: (menengadahkan tangan)  “Ya Allah….. cobaan apalagi yang Engkau berikan kepada kami, negara-kami sudah habis dibantai oleh koloni tak berprikemanusiaan seperti mereka”

Ibu 2: (memeluk Ibu 1) “Yang sabar… Kita berdoa semoga mereka dilindungi Yang Kuasa..)


Malam datang, tapi tidak seperti malam-malam sebelumnya. Hutan yang tadinya  nyaman-nyaman saja didiami warga kini berganti menjadi hutan yang terasa seram, mencekam.  Karena penjajah telah menemukan hutan ini. Mereka telah mengetahui keberadaan warga yang bersembunyi. Dan mereka bisa saja datang kembali, untuk mengambil kekuasaan negeri, bahkan meregangi nyawa-nyawa para pribumi.

Ketua adat: (mondar-mandir 7kali) *backsound cring.. AHA* “Warga.. Saya Ada Ide)

(Semua warga pribumi menghampiri Ketua adat) “Apa? Apa?” (Pak Ketua ada berbisik)

(Ibu1, Ibu 2, Bapak 1, Gadis, dan ketua adat berkumpul dan membentuk lingkaran, entah apa yang mereka bicarakan)

(Anak 1 dan anak 3): *mengangkat bahu* lalu bermain domikado Mikado eska eska do eska do bela beli

*backsound alam*

Setelah hampir satu jam mereka merundingkan sesuatu..

(berdiri) “Jadi, SETUJU?”

(Ibu1, Ibu 2, Bapak 1, Gadis berdiri, anak 1 dan anak 3 menghampiri)

Ibu1, Ibu 2, Bapak 1,: “SETUJU!”

Anak 1 dan Anak 3: “SETUJU!” *ala anak kecil”

*krik-kirik* (Ibu1, Ibu 2, Bapak 1, Gadis, Ketua adat bengong, lalu tertawa bersama-sama)

**

Di sebuah hutan lain, tak jauh dari hutan tempat bersembunyinya warga pribumi, koloni penjajah belanda menyeret Bapak, dan anak tersebut dengan cara yang begitu sarkas.

Anak 2: “Bapak… Kita mau di bawa ke mana? (berbicara kepada Bapak)
Bapak 2: (Menggelengkan kepala) Tolong….. Lepaskan kami!”
Penjajah 3: “Apa? Lepaskan? Enak saja!”

(Anak 2 dan Bapak 2 di ikat dengan tali, dan dikurung) (Lalu semua penjajah mulai tidur)
Kapten Penjajah: Tetap di sini! Awas kalian!

*sound musik

**

*backsound kukuruyuk

Ke-esokan harinya.

Pagi datang mengerjap.  Suara  kicauan burung *kicauan burung* , serta  bunyi tenangnya air yang mengalir di sungai *suara air sungai* terdengar jelas di dalam sebuah hutan. Warga pribumi telah lama bangun, membuat amunisi, yakni bamboo runcing. Sepertinya mereka akan bergeriliya di tengah hutan.

Ketua adat: “Ayo, cepat. Sebelum kita terlambat.”

Warga pribumi kemudian menyusuri setiap hutan. Mencari-cari apa yang mereka maksud. Ketua adat yakin, bahwa penjajah itu masih berada di hutan.

Dan benar saja, dari jarak yang lumayan jauh dari hutan mereka, mereka menemukan para penjajah tengah berbaring, sepertinya sedang tertidur pulas.

Anak 1 dan anak 3 :”Itu, Mereka!” (menunjuk bersama-sama)

Ibu1: (menhampiri) “Anakku…. Suamiku……….”

(Para penjajah terbangun)

Penjajah 3: “Ada apa ini?”

(Warga pribumi yang lain ikut mendekat)

Kapten Penjajah: *bertepuk tangan* Wah-wah! Hebat juga kalian, bisa mengetahui keberadaan kami!”

Penjajah 1: “Benar, Bos. Mereka menantang kita rupanya!”

Ketua adat: “Menyerah lah kalian!”

Penjajah 3: “Wah-wah besar juga nyalinya!
Kapten Penjajah:  (maju selangkah) Dengan amunisi macam ini, kalian  mau melawan kami? CUIH! (meludah)

Bapak 1: Jangan banyak cingcong, mari selesaikansegera !”

Kapten Penjajah: (murka) SIAPKAN SENJATA KALIAN, SERANG!.............


(Berperang…..)


Perang sengit pun terjadi. Warga pribumi mengerahkan seluruh tenaganya untuk melawan penjajah-penjajah Belanda yang juga tak mau kalah. Suara tembakan senapan terdengar di udara. Senjata canggih dan bamboo runcing berpacu dalam satu waktu. Siapa yang menang..

Satu-per-satu penjajah runtuh pertahanannya. Senjata itu ternyata tidaklah sehebat desainnya. Nyatanya, tusukan sebuah bamboo runcing sederhana lah yang lebih cepat melumpuhkan para penjajah itu.

(Tinggal tersisa  kapten penjajah, ia melongo-longo melihat prajurit-nya yang telah jatuh. Warga pribumi mengacungkan bamboo runcingnya dan melangkah menuju Kapten Penjajah)

Kapten penjajah mendadak ketakutan, keringat sebesar biji jagung bermunculan dari wajahnya, ia pun melakukan sesuatu..

(Kapten penjajah, menembakkan dirinya sendiri dengan senjata, jatuh, dan mati)

(Warga pribumi terpelongo untuk sesaat)
*Sound  tanda kemenaangan
“MERDEKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA…… KITA MERDEKAAAA…….. MERDEKA…….” *Berteriak bahagia.

Akhirnya, impian penjajah untuk untuk menguasi tanah air lebih jauh nampaknya harus dikubur dalam-dalam. Dikubur dalam-dalam juga bersama jasad mereka kalah dalam pertempurang di medan perang. Usaha  warga pribumi untuk mengeyahkan mereka bukanlah sekedar sia-sia. Kini, mereka bisa kembali lagi ke wilayah peradabaan Mereka. Mereka.. Mereka yang telah berkorban atas apapun untuk negaranya, adalah pejuang! Pejuang bangsa! Bangsa Indonesia! Mereka benar-benar pahlawan.

Tapi, jangan lupakan juga pahlawan yang satunya lagi…”

“Bambu Runcing yang sederhana”



‌Intensitas memikirkan akan semakin meningkat saat nggak sengaja mengaitkan sesuatu dengan sasarannya. Kayak walaupun udah lama nggak ketemu sama sosok itu tapi ingatan akan kembali bergema, misal kalo ketemu lewat mimpi. Sebenernya menyenangkan, ngerasain lagi sesuatu yang nyaris bikin lupa. Tapi males juga, karena hal itu ngilas balik lagi beberapa hal dan ngerusak sebuah kemauan yg lagi diusahain. Bangun-bangun, semua rasanya indah. lebih indah lagi kalo misalkan bisa jadi nyata. Berusaha untuk anggep biasa aja sesuatu yang baru ditemui dibunga tidur, meski sejujurnya pengen bilang.. "terimakasih Tuhan, Engkau pasti gak mau membiarkan aku kecewa lebih jauh makanya cuma dikasih sebatas mimpi" sambil tetep ngarep Tuhan kasih sesuatu yang lebih membahagiakan dari ini. Dari pada semua jadi bener tapi nanti gak ngerti cara nanggepin kayaknya udah cukup dari ini aja. tapi gimana kalo pada akhirnya dipaksa harus tau cara nanggepin hal yang ingin kamu hindari tapi sebetulnya kamu harapkan juga?
Belum sampe 24 Jam, lagi-lagi Pencipta yang Maha Baik merealisasikan asa itu secara 'hidup'. padahal belum minta ke Tuhan  tapi tentu Tuhan udah tau dulu otak umatnya meski baru sampe pikiran.
Tuhan, kalo di mimpi aku masih bisa deg-degan. Gimana dengan hal yang bukan langsung ilang kalo dirasa ini?

be voice.

i ever told you

be voice

i throwing you many question

but you answered with no words

like whispering but never heard

you are the stone

static

i give you chances

more than you deserve

but the mouth i’ve got spelling out “ e c h o “

its funny with your last zzzz i  can hear nothing

did you think?

totally you mess this thing up

my favorit braker cause it working!



ya! congratulation, you rocking did it


for being no voice


after i said “don’t be echo.”





im so down
so im done

-July, 2017



Awalan dari sebuah temu

Mengkritik embun-embun tabu

Tanpa sadar, aku jatuh pada matamu

Pada mata yang indah itu

Tapi, sejak berbulan-bulan lalu

 Sayu itu tak dapat lagi kunikmati

Aku mencari pemilik mata paling indah diciptakan Tuhan

Yang telah longsor dari visual

Mengganti semuanya dengan tahun-tahun baru

Aku hampir lupa pada kerindangan

Lantas tidak, karena telah ter-cap sebagai kenangan

Untukmu, mata indah yang ku sayang

Izinkan aku satu pijakan kaki lagi denganmu

Bolehkan aku menuai temu

Denganmu

Sungguh hanya denganmu


Ini Rindu

Kusatukan semuanya dalam buku harianku

Suatu saat, jika Tuhan biarkan aku melihat mata indah itu lagi

Kemudian aku akan melepasnya

Mengikhlaskan mata itu dilihat oleh banyak mata lainnya

Yang mungkin akan terpesona juga

Dan selanjutnya kuminta pada Tuhan

Agar pada mata itu, aku tak jatuh lagi

Karena rindu  semakin menghakimi

Untukmu, mata indah yang ku sayang

Rasanya ingin membawamu pulang

Hingga setiap hari mampu ku tuai temu

Denganmu

Sungguh hanya denganmu

Aku ingin menuntaskan rindu


-Bangka, 27 Juli 2017





Yehaaa, SO SO SO SORRY banget gak ada new entry untuk beberapa minggu ini, yang rusuh chit chat tanya kenapa gak ada Playlist Of The Week heheh maafkan gue lagi bermasalah nih jadi belum bisa upload lagi *nulis aja belom, hape gue lagi labil tiba-tiba gak hotspot gak kedetect di PC jadi gak bisa ngeposting dulu, modem juga udah rusak alhasil ini aja pake blogwalking hmmmm
Tapi makasih ya antusiasme kalian *yang rusuh sangat-sangat membuat gue semangat buat nulis.. udah, mau bilang ini aja intinya keep reading yaaa dan tunggu gue balik hueheheh *with love*

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

LATEST POSTS

  • [Novel Review] ANTOSIANIN—Putri Sarah Oliva
  • [Novel Review] Bingkai Memori—Petronela Putri
  • [JanuaryRRChallenge] See You Again—Arini Putri
  • #CuapCuap2017 Kilas Balik SBMPTN
  • Review "3 Koplak Mengejar Cinta"- Haris Firmansyah

Categories

  • novel 1
  • review 1

Featured Post

[BOOKREVIEW] Everything We Keep - Kerry Lonsdale

Tittle: Everything We Keep Author: Kerry Lonsdale Penerbit: PT Elex Media Komputindo Release: 17, July Published by the arra...

Recent Posts

VIGESTATION
Diberdayakan oleh Blogger.

Fashion

Laporkan Penyalahgunaan

  • Home
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Blog Archive

  • ►  2019 (1)
    • Januari (1)
  • ►  2018 (1)
    • Juli (1)
  • ▼  2017 (21)
    • Desember (1)
    • November (3)
    • Oktober (1)
    • Agustus (2)
    • Juli (5)
    • Juni (3)
    • Mei (4)
    • Januari (2)
  • ►  2016 (12)
    • Desember (1)
    • Oktober (3)
    • Agustus (2)
    • Mei (1)
    • Maret (1)
    • Februari (3)
    • Januari (1)
  • ►  2015 (18)
    • Desember (3)
    • November (2)
    • Agustus (4)
    • Juli (3)
    • Juni (2)
    • Mei (2)
    • April (1)
    • Januari (1)
  • ►  2014 (3)
    • November (1)
    • Oktober (2)

Cari Blog Ini

Blog Archive

  • ►  2019 (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (1)
    • ►  Juli (1)
  • ▼  2017 (21)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ▼  Juli (5)
      • [Naskah Drama] "Kembalikan Indonesiaku" 2016
      • Berkonpirasi dengan Opini
      • [POEM] "SSYE"
      • [POEM] Menuntaskan Rindu
      • SORRY GAK UPLOAD
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (4)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2016 (12)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2015 (18)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2014 (3)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)

Subscribe

Stay Connected

Follow us

3/Food/post-list

Like us on Facebook

Hello, here you can tell something about yourself or you can put your blog description here or even you can add some quote of your choice here. This is an optional text area which you can hide or delete from the layout. Its totally dependent upon you if you want this text area or not.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • pinterest
  • Bloglovin
facebook twitter instagram pinterest bloglovin etsy

About me

Read More

Months had too ham cousin remove far spirit. She procuring the why performed continual improving.

Follow Us

  • medium
  • youtube
  • instagram

Boxed Version

  • boxedVersion
  • Home
  • Megamenu
    • Travel
    • Lifestyle
    • Fashion
    • Beauty
  • Social
  • Features
    • Left Sidebar Post
    • Fullwidth Post
    • Right Sidebar Post
  • Blog
  • Download
  • Home
  • About
  • Contact

Contact

Mengenai Saya

Vigestha
Lihat profil lengkapku

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Welcome to my personal blog

Welcome to my personal blog
share tips, thoughts, and useful random things.

Categories

Labels

  • novel 1
  • review 1

My Instagram

My Instagram

Default Variables

  • disqusShortname
  • commentsSystem
  • fixedSidebar
  • postPerPage
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • pinterest

Social Plugin

  • facebook
  • twitter
  • reddit
  • pinterest
  • linkedin
  • vk
  • instagram
  • youtube
  • whatsapp
  • rss

Menu Footer Widget

  • Home
  • About
  • Contact Us

Romantic

Pages

  • Beranda

Traveling

Popular Posts

  • [Novel Review] ANTOSIANIN—Putri Sarah Oliva
  • [Novel Review] Bingkai Memori—Petronela Putri
  • [JanuaryRRChallenge] See You Again—Arini Putri
  • #CuapCuap2017 Kilas Balik SBMPTN

Link List

  • Home
  • Features
  • _Multi DropDown
  • __DropDown 1
  • __DropDown 2
  • __DropDown 3
  • _ShortCodes
  • _SiteMap
  • _Error Page
  • Mega Menu
  • Learn Blogging
  • Documentation
  • _Web Documentation
  • _Video Documentation
  • Download This Template

About Me

Hello, here you can tell something about yourself or you can put your blog description here or even you can add some quote of your choice here.

Popular Posts

  • [Novel Review] ANTOSIANIN—Putri Sarah Oliva
  • [Novel Review] Bingkai Memori—Petronela Putri
  • [JanuaryRRChallenge] See You Again—Arini Putri
  • #CuapCuap2017 Kilas Balik SBMPTN
  • [Naskah Drama] "Kembalikan Indonesiaku" 2016
  • [Novel Review] Muara Rasa—Deva Annesya
  • Review "3 Koplak Mengejar Cinta"- Haris Firmansyah
  • The First Time Ngecuap
  • Review Sebelas – Dya Ragil
  • [Review] Brink of Sense— Mertha Sanjaya

Advertisement

Category3

Vintage

Copyright © 2015 VIGESTATION. Designed by OddThemes