• Home
  • Download
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Travel
  • Contact Us

Follow us

VIGESTATION
Hello.. Apa kabar semuanya? Kali ini gue balik lagi nih.
Ohya, sebelumnya gue ucapin Selamat Hari Pahlawan ya yang jatuh pada beberapa hari yang lalu (Agak telat :p)
Nah, kali ini gue pengen negpost cerpen milik gue yang bertema tentang menghargai dan meneruskan cita-cita para pahlawan. Sebenernya gue males ngepost nih cerpen tapi berhubung ada permintaan dari salah satu mahluk hidup yang ngebet banget baca ini, ya akhirnya gue publikasi juga sekalian lewat blog. Nah, cerpen ini bakal gue ikut sertain dalam lomba yang diadakan di sekolah gue.
Maaf banget nih, kalo agak nggak luwes. Maklum, masih amateur :D
Lansgung aja, cekidot!



“Jangan Biarkan Cita-Cita Mereka Ikut Pergi”

                                                  Karya : Vigestha Repit Dwi Yarda
Kelas : XII IPA 1

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu menghargai jasa para pahlawannya.” – Ir Soekarno

“Gimana,  kalian udah siap? … Apa? Oke. Oke.”  Klik. Telepon ditutup. Dicky, Emas, Vio, Chris dan  Faldi menatap Rafky dengan wajah penuh penasaran.
“Gimana Rif?” Tanya mereka.
Rifky menyusun segala perlengakapan. Batu, helm dan kayu pun sudah sudah ia pegang.
 “Oke, kita cabut sekarang.”
Rifky, Dicky, Emas, Vio, Faldi, dan Chris pun segera bergegas menuju halaman belakang sekolah. Mereka serentak naik ke atas pagar yang tertancap pecahan gelas-gelas kaca. Tak ada rasa takut ketika mereka mencoba bolos jam pelajaran dan kabur dari sekolah. Yang ada dipikiran mereka adalah tawuran. Bagaimana agar lawan mereka dapat mereka kalahkan. Seberapa banyak lawan mereka yang akan terluka ketika mereka melempar batu dan kayu-kayu yang berukuran tak kecil itu. Dalam sekejap mereka sudah berada di jalan Ir.Soekarno  yang tak jauh dari sekolah mereka. Ternyata di jalan tersebut sangat ramai. Bukan ramai karena macet, tapi ramai karena dipadati oleh anak laki-laki berseragam putih abu-abu yang sedang berlari kesana kemari. Saling berkejar-kejaran, berlempar-lemparan.
“Rifky.. ayoo.”  Emas berteriak lantang kepada Rifky yang sedang memasang helm ke kepalanya. Kemudian tanpa babibu lagi Ia segera belari cepat ke arah rumunan anak-anak tak jelas itu. Mereka saling pukul-pukulan, lempar-lemparan. Tak peduli dengan kendaran-kendaraan lain yang sedang melewati jalan tersebut. Rintitan bunyi klakson, atau mungkin beberapa teriakkan amarah dari para pengendara tak akan sukses membuat mereka menghentikan aksi anarkis konyol para anak SMA itu. Begitu pula dengan orang-orang disekitar. Pedagang kaki lima, penjual bakso, penyapu jalan pun, bagi mereka  tawuran antar sekolah Harapan Bangsa dengan sekolah Ahmad Yani sudah jadi pandangan yang biasa bagi mereka. Tak ada yang berani ikut campur, karena jika mereka ikut menghentikan kekacauan itu siswa-siswa yang sedang mencari jati diri tersebut akan berbalik memukul orang-orang yang dianggap menganggu suasana tersebut. Padahal sesungguhnya mereka lah yang mengganggu suasana.
Dicky menendang salah seorang siswa yang berbeda seragam dengannya. Siswa itu tersungkur. Tak lama teman-teman dari siswa itu menghampiri. Tak terima dengan perlakuan Dicky kepada salah satu rekan mereka, cowok-cowok berseragam batik itu pun balik menghantam Dicky dengan pukulan bertubi-tubi.
“Dicky, Rif.. Dicky!! ” Vio berteriak lantang kearah Rifky yang sedang sibuk melempar batu kearah lawan dan sesekali menghindar agar tak terkena lemparan batu balasan.
Emas yang mengetehaui Dicky kena hakimi menyiapkan kayu-kayu yang telah mereka letakkan di ujung tiang listrik. Belum sempat ia memukul tubuh lawan-lawannya itu mobil polisi segera datang.
“Brayy satpol bray, kaboorrrrrrrrrrr……………” Salah seorang panglima tawuran dari SMA Ahmad Yani pun segera berteriak keras memberikan ajakan kepada teman-temannya untuk segera lari dari jalan raya itu.  Mereka pun dengan ketakutan segera berlari kencang, meninggalkan polisi dan jalan itu tanpa jejak. Klakson mobil riuh terdengar seperti amarah karena pengendaranya kerap ngerem mendadak akibat anak-anak tawuran yang tak lihai menyebrang. Nyebrang seenaknya. Sayangnya nyawa mereka masih tetap saja selamat meski harus berlari lari ditengah jalan raya yang padat dengan kendaraan roda doa maupun roda empat itu. Rifky dan teman-teman pun menyadari kedatangan polisi yang dengan sigap turun dari mobil dan berusaha mengejar para anak-anak pembuat onar dijalan itu. Beberapa diantara dari polisi itu menembakkan gas air mata.
“Mampus,  emergency. lari woy, lari..” Rifky segera mengarahkan teman-temannya itu cepat-cepat pergi sebelum polisi-polisi tersebut menangkap mereka.
“Dick, Dicky… bangun… Astaga Dicky…. !” Vio kewalahan membangunkan Dicky yang ternyata tidak sadarkan diri setelah habis dibantai segerombolan lawannnya itu.
“Gotong-gotong dulu deh cepetaaan…”
Emas, Vio, , segera memopong tubuh temannya itu. Sementara Faldi masih sibuk memberikan bogeman-bogeman pada salah satu anak SMA lawan yang berhasil ia tangkap.
“Nih, balesan buat yang suka cari perkara sama kita !” Faldi terus meninjunya tanpa ampun.
“Fal, lo sadar nggak mobil polisi udah nongol. Lo mau kena bogeman juga?” Rafky segera menarik baju Faldi yang masih terus menghajar siswa itu.
“Fal, udah.. Fal !” Rafky terus menarik lengan Faldi. Tapi Faldi tak menghiraukan.
Duarrr… Tembakan terdengar jelas di Jl. Ir.Soekarno . Polisi Nampak berlari kea rah mereka setelah menyadari siswa-siswa yang habis tawuran disitu tinggal tersisa 3 orang. Faldi, Rifky, dan siswa SMA Ahmad Yani itu. Yang lain, telah hilang ditelan semesta.
“Faldi, lo bolot ya?” Panggil Rifky sekali lagi. Faldi baru tersadar dan buru-buru meninggalkan jalan raya.
“Eh, tengil. Cepetan lo lari, bilang sama temen-temen lo, ini belum selesai.” Ucap Rifky sambil mengangkat kerah lawan tawurannya itu. Mereka pun menghilang secepat kilat. Seperti biasa, polisi selalu kalah cepat.

Rifky terseok-seok ditengah jalan. Ia merasa hari ini badannya sangat lelah. Bukan lelah karena habis melakukan aktivitas di sekolah tapi karena kejadiantadi. Ya, kegiatan tawuran telah menjadi rutinitas bagi Rifky dan teman-temannya.  Jangan ditanya mengapa guru-guru dan pihak sekolah masing- masing tidak mengambil tindakan untuk ini. Guru-guru pun sudah lelah dengan aksi mereka. Ingin mengeluarkan mereka? Kasihan. Mereka sudah kelas 3.
 Tak lama bayangan Rifky terkelam ketika 3 tahun yang lalu. Ketika lomba hari Pahlawan, Rifky jadi salah perwakilan dari sekolah mereka yang mementaskan drama menjadi Bung Karno. Namun para beberapa siswa dari SMA Ahamd Yani mengejek mereka habis-habisan. Rifky dan temannya menggeram. Tak elak adu jotos pun dilakukan mereka untuk mengetahui sampai dimana batas kejantanan mereka yang masih belum pantas dibilang dewasa dengan tingkah yang sebegitu kekanakannya. Sejak saat itu mereka sering mengadakan tawuran antar sekolah.

Rifky sampai di rumah.  Rumahnya Nampak lenggang. Biasanya, jam segini memang tidak ada orang di rumah. Tiba-tiba Rifky merasa suntuk. Ia menengok kearah kumpulan buku-buku yang terpajang rapi di rak. Buku-buku itu milik ayahnya. Tapi tak pernah sekali pun ia menyentuh buku-buku usang itu. Iseng-iseng ia mengambil acak salah satu buku tersebut. Ditatapnya buku usang yang telah kusam tersebut. Kulit sampulnya nampak robek seperti telah dimakan rayap. Ia melihat judulnya. “Pertempuran 10 November”. Ia kemudian mulai membaca nya sampai ia tertidur pulas.





Critt… Bunyi mobil berdesing kuat didepan rumahnya. Klakson-klakson saling memburu. Sangat terdengar jelas ditelinga Rifky, bagaimana tidak, rumahnya berada tepat jalan raya. Ia segera terbangun dari tidurnya dilihat jam sudah menujukkan pukul 06.32 . Rafky terkejut, ternyata dari siang ia ketiduran sampai pagi. Dilihat sinar matahari sudah menyeruak ke dalam ruang kamar Rifky lewat jendela yang terbuka. Rifky segera bersiap-siap dan bergegas berangkat ke sekolah.  Ternyata Rifky terlambat. Pagar sekolah telah terkunci rapat. Parah satpam-satpam disni, baru telat 7menit aja udah ditutup.” Desis nya dalam hati. Ia pun segera beralih menuju halaman belakang, memanjat pagar-pagar besi karat dengan lihainya. Mirip sekali dengan perampok kelas kakap yang tak pernah kepergok ketika memanjat pagar. Sekejap ia sudah berada di pekarangan.
Sesampainya di depan kelas, Rifky segera melenggang masuk.
“Rifky? Dari mana saja kamu?” Suara Pak Narto terdengar jelas di telinga Rifky.
“Telat. ” Jawabnya singkat.
“Kamu pikir kamu bisa duduk seenaknya? Sini kamu!” Perintah Pak Narto.
Rifky tidak menghiraukan, dan berjalan menuju bangkunya. Ia memang terlatih untuk tidak sopan terhadap guru. Apalagi pada guru yang dianggapnya lemah.
“Rifky! Dengar kata saya? Berdiri kamu di depan kelas.” Ucap Pak Narto dengan wajah yang sama sekali tidak bisa dibilang “garang”.
Rifky kemudian berhenti, dan segera berbalik. Ia bisa saja tidak menuruti perintah Pak Narto seperti hari-hari biasanya. Tapi entah kenapa hari ini ia tidak bersemangat melakukan itu dan lebih memilih untuk mengerjakan hukumannya di depan kelas.
Rifky pun dengan malas menyeret kakinya berdiri di depan kelas.
Kemudian Pak Narto pun kembali melanjutkan pelajaran.
“Murid-murid, taukah kalian kalau dua hari lagi hari apa?”
“Tau pak.” Jawab murid-murid.
“Hari apakah itu, ada yang tau?”
“Hari senin.” Jawab murid-murid asal.
“Mau ngelawak ya? maksud Bapak dua hari lagi kita akan memperingati hari yang bersejarah bagi negeri kita ini. Ada yang tau?”
 “Hari Pahlawan, Pak. 10 Nopember.” Ucap Rinai sambil mengacung  kelima jarinya.
“Nah, benar sekali, Nai.”
Tiba-tiba Pak Narto menoleh kearah Rifky yang sepertinya sedang terhanyut dalam lamunan.
“Rifky, kamu tau sebentar lagi hari apa?”
“Rifky?”
“Rifky……”
Rifky tiba-tiba tersentak dan terkejut ternyata sedari tadi Pak Narto berbicara dengannya. Entah apa yang sedang ia pikirkan.
“Iya, Pak.”
“Haduh kamu ini, sebentar lagi hari apa?”
“Hari Minggu, Pak. Besok kan?”
Hahahahahahahha. Sontak seisi kelas terbahak-bahak.
“Besok tuh hari Pahlawan, Rifky. Gimana sih.” Jawab salah satu siswa.
“Oh, hari Pahlawan. Oh, itu gue juga tau. Gue nggak ngeh tadi.”
“Alasan saja kamu ini Rifky.”
Anak menyorak remeh Rifky. Rifky cuek bebek.
“Sudah, anak-anak. Kita biarkan saja manusia asing di depan kita ini menjadi seorang pemimpi. Dari tadi disuruh berdiri di depan kelas bukannya ikut mikir malah ngelamun.”
“Hahaha, kalo dia ngelamun sih namanya bukan pemimpi, Pak. Pelamun. Ngayal nggak jelas.” Celetuk siswa berpostur jangkung yang duduk dibangku paling belakang.
“Hahahhaha….”  seisi kelas kembali tertawa. Kali ini guru yang bukan bertipikal killer tapi easy going itu malah ikut terpingkal-pingkal.
“Haaha, kamu benar Wira.” Ucap Pak Narto yang kembali mengundang gelak tawa seisi kelas kecuali Rifky.
Rifky hanya menatap sinis kearah teman-teman di depannya. Kemudian kembali berkutat dengan segala yang memenuhi isi otakknya.
“Baiklah. Nah, tanggal 10 Nopember ini sarat dengan peristiwa Surabaya, dengan Pahlawan Bung Tomo. Nah, ada yang bisa menjelaskan bagaiman peristiwa tersebut?
Anak-anak punterdiam. Salah satu diantar mereka tidak ada yang mengangkat tangan. Sepertinya mereka tidak mengetahui bagaimana peristiwa tersebut.
“Jadi, tidaak ada yang mengetahui? Rifky, mungkin kamu tau?” Tanya Pak Narto setengah menahan tawa. Jelas sekali gerak-gerik Pak Narto  meremehkan anak yang sedang berdiri dihadapannya ini.
Salah satu anak pun nyeletuk. “Pak Narto ada-ada aja deh, nanya ke Rifky. Dia hari Pahlawan aja nggak tau kapan, malah nanya peristiwa Hari Pahlawan.”
 “Hahhahahha” suasana pun lagi-lagi pecah.
“Enak aja. Gue bukan elo yang gak tau.” Bantah Rifky yang ntah kapan-kapan kembali lagi kealam sadarnya.
“Emang, kamu tau Rifky? Kalau kamu tau, Bapak kasih izin kamu duduk.”
Untuk beberapa saat Rifky termangu.  Ia mencoba mengingat-ngingat kuat bacaan di buku yang ia baca kemarin. Buku itu bercerita tentang kisah 10 Nopember. Anak-anak menunggu lontaran kata dari mulut Rifky yang sedari tadi belum keluar. Mereka mulai meremehkan mahluk yang dibilang Pak Narto asing tersebut. Tapi remehan tersebut buru-buru hilang dari bayang-bayang mereka setelah melihat Rifky yang mulai mengambil sikap.
Rifky menceritakan dari awal sebab terjadinya perang Surabaya. Ia menceritakannya dengan bahasanya sendiri. Beberapa nama Pahlawan dan orang-orang yang terlibat pun ia beberkan hingga akhir dari peristiwa tersebut. Anak-anak pun terpana mendengar cerita dari Rifky. Pun Pak Narto, yang dari tadi malah ternganga melihat Rifky. Penampilan Rifky didepan tadi bak peserta yang mengikuti lomba story telling dalam bahasa Indonesia.
“Jadi, Peristiwa Surabaya adalah peristiwa perang yang pertama kali terjadi setelah proklamasi kemerdekaan. Dan akibat dari kematian Mallby, E.C Mansergh pun mengeluarkan ultimatum 10 November 1945  untuk meminta pihak Indonesia menyerahkan senjata dan menghentikan perlawanan, ultimatum tersebut ditolak mentah-mentah. Para pejuang yang hanya berbekal bambu runcing lebih memilih untuk berjuang dengan perang hingga titik darah penghabisan. Beribu-beribu korban yang mati dalam persitiwa tersebut. ” Terang Rifky mengakhiri penjelasannya.
“Saya udah boleh duduk, Pak?” Tanya Rifky setelahnya.
“Bapak?” Panggil Rifky sekali lagi. Pak Narto pun segera tersadar.
 “ I.. Iya silakan Rif.” Persila Pak Narto.
Sorak-sorai pun dan tepuk tangan riuh pun terasa jelas di kelas tersebut. Rifky menyeka keringatnya. Ternyata pelajaran Pak Narto yang beralangsung 2jam hari ini dia yang menggantikan.
Rifky pun perlahan menuju tempat duduknya. Sekejap ia merasa ada angin positif memasuki tubuhnya. Ia merasa bangga dengan apa yang baru saja ia katakan. Terlebih lagi diam-diam dia mulai kagum dengan tokoh yang berjuang pada peristiwa yang ia ceritakan tadi.

“Hajar…….” Teriak Emas dengan suara membara. Ia dengan cepat berlari menuju beberapa siswa berbatik dan mulai melontarkan batu-batu kearah mereka.
 Di siang yang terik sejumlah anak-anak dari dua sekolah kembali melakukan aksi tak patut dicontoh. Mereka tawuran lagi sepulang sekolah. Meresahkan pengguna jalan lagi.
 Dicky dengan berani masuk ke area lawan-lawannya itu dan mulai gebuk-gebukan dengan beberapa siswa. Sedangkan Faldi ikut melontarkan batu-batu di dekat trotoar.
Rifky, Vio, dan Chris berdiri sejajar menangkis setiap lemparan batu-batu dari arah yang berlawanan. Lalu lalang orang-orang lewat pun tak mereka hiraukan. Banyak pengguna yang ngeri melihat aksi itu sehingga lebih memeilih memutar jalan lain daripada melewati kandang macan tersebut.
“Merdekaa atau matiiii !” Teriak salah seorang siswa berpakaian batik dengan kain merah putih berbalut di kepalanya.  Rifky, Vio, dan Chris sempat terbahak-bahak melihat penampilan siswa itu yang sudah seperti Pahlawan siap bertempur.
“Hahah, hoii.. Lo kira ini Perang Surabaya? Mentang-mentang besok lusa Hari Pahlwan?” Cibir Chris dengan nada berteriak menghina siswa tawuran SMA Ahmad Yani itu.
Siswa tersebut tak menghiraukan, malah dengan cekatan melempar  batu gunung berukuran sedang kearah Rifky dan teman-temannya.  Dengan sigap mereka mengelak. Tapi kemudian batu itu terlontar tepat kearah belakang Rafky. Terdengar suara orang roboh. Rafky segera menoleh. Dilihatnya seorang kakek tua renta tergeletak dengan darah yang bercucuran di kepalanya. Ia sangat terkejut, batu yang sebenarnya tadi ditujukan untuk Ia dan teman-temannya malah terkena orang yang tak bersalah. Dalam sekejap ia merasa badannya ikut sakit.
“Kuraang ajar !” Gerutu Rifky. Ia segera mengejar siswa berpakaian aneh itu. Beberapa batu pun melambung tinggi dan jatuh tepat di kepala sang pelempar tadi.
Rifky kemudian berbalik dan segera menghampiri kakek tua itu. Dengan kegugupan yang melekat, ia mencoba membangunkan kakek tua itu.
“Kek, kakek..” Panggil Rifky. Ia dengan pelan mengguncang tubuh kakek itu, mendekatkan telinga di dada sang kakek. Vio pun menghampirinya. “Kena nih kakek ya, Rif? Waduh gawat, bisa-bisa kita..”
“Iya, tuh orang bego banget yang lempar ke sini.” Ucap Rifky setengah berdegup. Ia takut kakek itu meninggal konyol hanya karna serangan batu tadi.
 Tiba-tiba kakek itu mencelakkan mata. “Kakek itu sadar, Rif.” Teriak Vio.
Rifky tanpa aba-aba langsung menggendong sang kakek.
“Rif, kenapa?” Teriak Faldi yang melihat insiden itu dari jauh.
“Nggak pa-pa. Udah kalian lanjutin dulu.” Rifky dengan cepat membawanya dari tempat keanarkisan tersebut. Kemudian dengan lirih kakek itu berbicara “Itu rumah saya.” Menunjuk pada sebuah rumah kecil pada jalan setapak tersebut. Rifky pun dengan sigap membawa kakek itu kesana.
Rifky buru-buru membelikan kakek itu obat-obat luka. Ia segera membersihkan luka sang kakek. Kakek itu pun masih terkulai lemas. “Kakek nggak apa-apa kok. ” Jawab Kakek.
“Nggak kek, wajah kakek berdarah kena batu. Maafkan saya kek.”
“Maaf? Kalo kakek tidak salah kan bukan kamu yang melakukannya?”
“Iya, Kek. Tapi kalau saya tadi tidak menghindar, nggak mungkin kakek begini.”
“Sudahlah, Cu. Lagian kakek nggak kenapa-kenapa.”
Kakek itu memegang kepala, agak meringis. Kemudian memejamkan mata.
“Kamu kalau mau balik silakan, Cu.” Rifky terperangah mendengar kata-kata sang kakek yang seperti tidak ingin dibebankan olehnya. “Tidak, Kek. Saya tidak mungkin meniggalkan kakek begini. Saya harus bertanggung jawab.”
Rifky kemudian aneh sendiri mendengar apa yang baru saja dilontarkan oleh mulutnya. Bertanggung jawab? Bisa-bisanya. Gue nggak pernah ngomong kayak gini sebelumnya.
“Nggak apa-apa Cu. Mungkin kamu mau melanjutkan tawuran tadi.” Jawab sang kakek sambil tetap memejamkan mata. Mungkin ia mencoba menahan sakitnya. Rifky tidak menjawab omongan sang kakek. Ia takut nanti jika dijawab terus yang mucul adalah kata-kata kasar yang ia katakana seperti biasa. Ia tidak tega melakukan itu kepada Si kakek. Ia memandang sekeliling ruangan di dalam rumah sederhana yang mungkin berkuruan 4x4 tersebut. Banyak foto-foto usang tentang perjuangan Indonesia terpampang didinding berkayu lusuh itu. Ia memerhatikannya dengan seksama.
“Di sini ada banyak foto-foto ketika Pahlawan sedang berjuang. Sepertinya kakek itu mengidolakan mereka. ” Ujar Rifky dalam hati.
Tiba-tiba  pandangan Rifky beralih pada sebuah seragam yang tergantung didepan pintu.
 “Hah, jadi kakek ini dulunya memang Pahlwan?” Umbar nya dalam hati.
 “Kakek ini seorang veteran?” Tanya nya sambil membawa pandangan ke seragam veteran.
“Iya, Cu. Dulu…” Rasa penasaran pun muncul dibenak Rifky, baru kali ini ia bertemu dengan veteran secara langsung.
“ Kakek bisa certain sedikit bagaimana pengalaman kakek ketika berjuang melawan penjajah?” Kakek itu tersenyum kecil, kemudian  mulai menceritakan peristiwa-peristiwa ketika kakek itu bertempur di medan perang bersama pejuang yang lain.

“Wah, hebat ya Kek. Walaupun pejuang hanya menggunakan bambu   runcing sedangkan para penjajah menggunakan senjata-senjata canggih, tetap saja ya tidak ada rasa takut yang dihinggapi. Mereka rela berkorban untuk Indonesia. Meski harus berdarah-darah sekalipun. Sungguh heroik. ” Puji Rifky setelah mendengar cerita yang cukup panjang dari veteran itu.
“Ya, itulah Pahlawan. Pahlawan pejuang Indonesia.” Ujar kakek sambil menyeka air matanya yang dari tadi bercucuran. Rifky telah membuatnya kembali mengenang masa-masa berpuluh tahun silam. Saat Indonesia masih dihujani berbagai peperangan.
“Tapi sayang sekali, jaman sekarang ini kebanyakan orang-orang Indonesia apalagi generasi-generasi sekarang, tidak peduli lagi terhadap sejarah Indonesia, tidak peduli lagi betapa keras perjuangan para pahlawan yang mati-matian mempertahankan Indonesia agar tidak direbut para penjajah, tidak peduli lagi betapa hebatnya pahlawan bertempur digaris perang, tidak memikirkan kerelaan pejuang yang berkorban sampai titik darah penghabisan. Mereka tidak menghargai semua yang telah diberikan tanpa pamrih oleh mereka. Menghargai? Boro-boro, ingat saja mungkin iya mungkin tidak. Padahal semua ini mereka lakukan untuk kita.”
Tubuh Rifky bergetar hebat mendengar apa yang baru saja kakek itu ucapkan. Ia merasa ikut tersindir dengan ucapan itu. Ia pun termenung, memikirkan betapa besar perjuangan para Pahlawan bagi bangsa ini. Ia teringat dengan segala prilaku yang selama ini tumbuh di dirinya. Ia pemalas, tidak pernah belajar, sering melawan guru, yang lebih parah ia suka tawuran. Malu rasanya jika ia membandingkan dirinya dengan para pahlawan. Para pejuang tersebut bertempur di medang perang untuk mempertahankan sebuah bangsa besar, untuk kelangsungan hidup warga Republik Indonesia, sedangkan ia dan teman-temannya bertempur di jalan raya hanya untuk mendapat kepuasan sendiri yang sama sekali tidak ada gunanya bagi sebuah bangsa. Kakek benar. Rifky merasa amat malu.



“Kek, apakah  sangat besar harapan para pahlawan bagi generasi-generasi muda seperti kami?” Tetesan air mata pun tumpah dari kelopak mata Rifky kala menanyakan hal itu Sang kakek termanggu  untuk beberapa saat.
“Tentu, Cu. Siapa lagi yang akan meneruskan cita-cita para Pahlawan, Cita-cita Ir.Soekarno, Bung Tomo, dan semua Pahlawan lainnya,  kalau bukan kalian? Mereka telah menautkan impian-impian besar mereka yang belum tercapai pada kalian. Mereka ingin kalian meneruskannya.  Kalian lah harapan kami. Untuk kemerdekaan Indonesia di masa mendatang, semua ini ada ditangan kalian.” Ucap kakek itu lirih.
“Lalu, apakah murid bandel seperti saya ini masih bisa melakukan sesuatu untuk Bangsa? Meneruskan cita-cita para Pahlawan? Kakek pun menyunggingkan senyumnya.
“Tentu. Asal kamu mau berubah, kamu belum terlambat. Ada banyak cara-yang masih bisa kamu lakukan untuk meneruskan perjuangan mereka. Tapi bukan dengan cara bertempur dan berperang, seperti tawuran yang Cucu sering lakukan. Kalian harus memiliki rasa patriotisme dan nasionalisme tentunya, serta punya sikap perilaku yang positif. Misalnya kalian sebagai pelajar, tugas kalian adalah belajar dengan giat, hingga suatu saat impian kalian bisa terwujud dan kalian bisa memajukan Indonesia, mempertahankan bangsa ini. Jangan mau lagi kita diinjak-injak oleh orang luar.” Ujar kakek tersebut.
Rifky pun terdiam sejenak. Kemudian ia menangguk, membenarkan seluruh ucapan kakek itu.

Tak terasa hari udah semakin sore, hari ini ada  sebuah pelajaran berharga yang ia dapat dari seorang kakek yang ia tolong. Kakek veteran itu telah mengubah segala pandangannya terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi ketika pahlawan berjuang. Dalam hatinya tertaut penyesalan karena selama ini tidak peduli dan masa bodoh terhadap sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia yang telah dilakukan oleh para pejuang yang cinta tanah air. Ia merasa saat ini belum melakukan apa-apa sebagai generasi yang seyogyanya menghargai, mencintai dan meneruskan jasa para pahlawannya.
 Rifky pun kemudian berterima kasih banyak kepada Sang kakek yang telah merubah mindsetnya.  Dan segera pamit pulang.

Malam itu udara sangat dingin. Menusuk-nusuk hingga sampai ke tulang. Rifky terbaring di tempat tidurnya, smebari memirkan kejadian tadi siang. Ia kemudian membaca beberapa buku heroik dan ia semakin terhipnotis dengan buku-buku itu. Ia merasa sangat begitu bangga terhadap para pahlwan-pahlawan yang telah berjuang demi negaranya sendiri, Indonesia. Mulai saat itu ia bertekad pada diri sendiri untuk mengubah segala perilaku buruknya dan mulai menjadi generasi bangsa yang berjiwa patriotisme. Ia ingin meneruskan keingan para Pahlawan.

Esok harinya di sekolah, Rifky pun membicarakan kejadian kemarin kepada Emas, Dicky, Vio, Chris, Faldi, dan beberapa teman-teman lain yang sepertinya tertarik dengan obrolan itu. Rifky menceritakan kisah-kisah tentang perjuangan Pahlawan seperti apa yang diceritakan kakek itu, seorang kakek veteran yang kini menggantukan harapan kepada generasi-generasi muda selanjuntya. Emas, Dicky, Vio, dan Faldi pun merasa malu dengan apa yang selama ini mereka lakukan. Dan mulai hari itu pun mereka berjanji untuk tidak akan tawuran lagi.
           


10 November, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Hari ini di Sekolah SMA Harapan Bangsa ramai diadakan perlombaan dalam rangka memperingati hari Pahlawan. Banyak siswa-siwa dari sekolah lain sengaja diundang oleh SMA Harapan Bangsa untuk ikut berpartisipasi dalam perlombaan tersebut. Semua anak-anak tampil dengan kostum berpenampilan seperti tokoh pahlawan.
“Rif, keren banget penampilan lo?” Puji Chris sambil menyentuh seragaram Rifky.
“Yaiyalah, udah mirip Bung Karno belom?” Cengir Rifky lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih.
“Em, mirip nggak ya? Mungkin mirip Bung Karno ketika 17 tahun. Hahaha.” Jawab Chris asal.
“Haha, bisa aja lo, Chris. Lo juga keren tau.”
“Thanks bro, eh itu ditangan lo apaan? Puisi? Sebanyak itu?”
“Oh, ini. Bukan, ini buat ditempel dimading. Jadi kemaren gue udah bikin sejumlah program kerja. Gue pengen ngebentuk study work team untuk siswa-siswi di sekolah kita ”
“Hah, lo bikin program kerja? Serius?” Chris langsung menarik lembaran kertas dari tangan Rifky dan membacanya. “Tujuannya untuk meningkatkan kreativitas dan intelektual para siswa-siswi dan membentuk karakter berkualitas. Keren banget, Rif.” Ujar Chris sambil menggeleng-gelengkan kepala saking kagumnya.
“Gue harap ini bisa terlaksana secepetnya, Chris. Doain ya.”
“Iya, pasti gue doain. Bisa kok.” Jawab Chris sambil menepuk bahu Rifky.

“Baiklah, sekarang ini dia peserta perwakilan SMA Harapan Bangsa dalam lomba membaca puisi, kita sambut.. Rifky Agustian.”
Sorak sorai dari supporter khusunya dari SMA Harapan Bangsa menyeruak. Memberikan suntikan semangat bagi seorang Rifky yang mulai gugup.
“Kamu bisa Rif. Bismilahirrohmanirrohim.” Lafasnya dalam hati
Kemudian ia pun naik ke atas panggung membacakan puisi ciptaannya.

                                                            “Janji Untuk Para Pahlawan.”

Hei Pahlawan
Manusia tanpa pamrih melindungi kami
Rela berperang hingga darah mengalir ngeri
Tapi tak sedikitpun ketakutan itu kau menghampiri
Yang terfikir bagaimana bisa mempertahankan negeri
Hei Pahlawan
Manusia pemberani menghalau rintangan
Hanya berbekal bambu runcing pun kau kerahkan nyali
Serang, kalahkan para penjajah yang bersenapan canggih
Titik darah penghabisan pun berani kau akhiri
Hei Pahlawanku
Apa yang bisa ku balas untukmu
Apa yang bisa ku berikan padamu
Aku tak pandai berperang, tak berani melawan
Aku tak sekuat orang dulu, tak sehebat kalian, pahlawan
Tapi aku berjanji
Aku akan selalu mencintai negeri ini
Aku akan jadi generasi bangsa berkualitas tinggi
Yang takkan biarkan orang luar menginjak bangsa kita lagi
Aku janji !
Terimakasih wahai para pahlawan yang setia mengabdi
Pengorbananmu kan tetap terpatri di dalam hati

Semua murid-murid bertepuk tangan dengan puisi yang baru saja di bacakan Rifky. Rifky merasa sangat bangga, ia tersenyum manis dan segera turun dari panggung.
“Rif, lo keren banget sumpah. Puisi lo bikin seantero sekolah bergetar tau nggak?” Puji Emas dengan wajah terkagum-kagum. Beberapa teman yang lain pun ikut menyalaminya.
“Huh, lega deh. Iya, makasih ya. Ini juga berkat kalian kok.” Jawab Rifky.
Tiba-tiba beberapa siswa berseragam sekolah berbeda dengan mereka pun menghampiri Rifky.
“Rif, selamat ya? Puisi lo keren banget.” Ucap salah satu siswa yang berada paling depan.
“Wah, makasih ya sob. Makasih juga udah mau datang ke acara kami.”
“Hei, emosi. Kan ujungnya-ujungnya kita jadi tawuran gini.” Ujar Emas sambil tersenyum. z
“Iya bro, kami juga minta maaf ya. Kami duluan yang sebenarnya  cari gara-gara. Udah 3 tahun bro kita kayak gini. Kami jera deh berantem dan tawuran lagi. Kemarin, salah satu rekan kami ada yang ketangkep polisi pas tawuran.”
“Hah? Terus?” Tanya Emas kaget.
“Ya untungnya sih sekarang udah bebas. Kami semua disuruh bikin perjanjian untuk nggak ikut tawuran lagi.” Jawab siswa itu menepuk bahu Emas.
“Oh, syukurlah kalo gitu. Iya, kami juga bro jera tawuran.” Ucap Chris.
“Hehe, jadi mulai sekarang kita resmi berteman baik ya?” Tanya Rifky ikut menambah percakapan.
“Iyaa. Pasti.” Jawab anak berseragam batik itu.
Mereka semua pun saling berjabat tangan. Satu lagi hal yang telah Rifky dan temannya buktikan. Sekarang mereka telah menjalin hubungan baik antar SMA Harapan Bangsa dan SMA Ahmad Yani.
Ternyata ada sebagian guru-guru yang menyaksikan mereka, para guru pun ikut tersenyum.
“Wah, jadi besok-besok Jl.Ir Soekarno nggak bakal ramai lagi dong kalo nggak ada kita?” Tanya Dicky memecahkan tawa.
“Haha, mau dibikin ramai? Besok deh, kita adain turnamen futsal di lapangan dekat Jl.Ir Soekarno. Pasti ramai yang bakal nonton. Hahah.” Tukas Nando, yang ikut diselingi tawa oleh mereka semua.
Tiba-tiba Pak Narto muncul.
“Cie-cie, udah baikan ya?” Tanya Pak Narto usil.
“Ye, Bapak. Iya dong, Pak. Mesti.” Balas Dicky.
Anak-anak SMA Ahmad Yani pun dengan sopan mencium tangan Pak Narto.
“By the way, Rifky. Puisi kamu tadi bagus banget. Nggak salah Bapak milih kamu.” Puji Pak Narto kearah Rifky.
“Wah, Bapak bisa aja nih. Makasih Pak.”
“Iyaa, tapi mentang-mentang puisinya bagus ntar jangan nggak kamu terrapin ya. Tadi kamu udah bilang ‘janji’ loh di puisi itu.”
“Tau, tuh Rif. Hayo lo. ” Jawab Faldi.
“Ya enggaklah, Pak. Rifky Agustian kan sekarang udah berubah. Ia udah bertekad mau meneruskan cita-cita pahlawan.” Celetuk Emas asal. Vio buru-buru menjitak kepala Emas.
“Insya Allah, Pak. Para pahlawan telah banyak berjuang, berkorban untuk kita. Bahkan dengan nyawa sekali pun, Pak. Apa kita tega hanya menikmati perjuangan mereka sebatas ini saja tanpa melanjutkan impian-impian besar mereka. Saya rasa, masih banyak yang ingin mereka benahi untuk Indonesia, tapi usia takmmembiarkan mereka hidup hingga saat ini. Nah, sekarang giliran kita, berjuang untuk mereka. Teruskan mimpi-mimpi mereka yang belum sempat terealisasikan.
Karena sekarang pahlawan-pahlawan kita telah pergi, tapi jangan biarkan cita-cita mereka ikut pergi juga.” Timpalnya.








 







Haii, balik lagi nih sama gue. Yaps, akhirnya gue kembali punya mood and time buat nulis. Oke, sekarang kita bicarin masalah yang ada di atas. Liat kan? :D
Nah, buat temen2 pelajar udah ada yang punya pacar? Atau pernah pacaran mungkin? Gue sih nggak yakin kalo lo geleng- geleng kepala baca pertanyaan gue tadi. Kebanyakan pelajar jaman sekarang pasti udah pernah nyobain yang namanya pacaran. Termasuk gue sendiri sih, wkwk. Yah kalo buat lo yang emang belom pernah pacaran sih seenggaknya lo juga ngerti kan definisi pacaran.
Eh , tapi menurut lo pacaran itu sendiri penting ga sih khususnya buat pelajar? Yaa kan secara seusia anak pelajar gitu ‘GAK AKAN MUNGKIN PERNAH BISA’ luput dari yang namanya mulai menyukai lawan jenis, karna saling takut kehilangan akhirnya dibuatlah komitmen yang namanya pacaran. Trus kalo pacaran apa nggak ngeganggu kefokusan lo belajar? Ini nih yang sering gue tanyain ke temen2 gue yang udah punya pacar. Ada yang bilang kalo pacaran atau punya pacar itu bisa jadi moodbooster buat belajar soalnya ada yang nyupportin belajar, jadi ningkatin semangat buat belajar. Yahh gue sih masih kurang yakin karna kalo gue liet tiap hari temen gue itu kerjaannya gak pernah bisa jauh dari smsan/telfonan/chatting sama pacarnya. Nah, kapan dong waktu dia mau belajar? Pas di sekolah? Yakin itu udah cukup? Wkwk, yang ada mah di sekolah ntar malah sibuk mikirin pacarnya dan sok- sok cemas apakah pas pulang sekolah ntar udah nampang 7 sms yang masuk dari pacarnya yang nanyain kabar duluan. Naah, galau kan jadinya diskolah? Hahah..
Eh tapi gak semua orang yang punya pacar kali yaa begitu, tergantung tingkat kedewasaan sang individu nya aja mungkin. Soalnya gue  juga pernah nanya masalah ini juga ke psikolog yang ada di sekolah gue. Alhasil, gue langsung di “Ciee ciee Gesta” in sama temen sekelas. Hadeh.
Tuh psikolog nanggepnya gini “Yaa ada bisanya juga sih, contohnya gini. Kamu misalnya pacaran sama seseorang, anggaplah dia satu angkatan sama kamu. Pas ada ulangan bisaa aja kamu dan cowo kamu  berkompetisi dapet nilai ulangan bagus, otomatis itu bikin kamu semangat kan buat belajar. Atau bahkan misal kamu satu kelas sama doi, kamu pasti malu dong kalo misalnya nilai kamu gak lebih gede dari dia, kamu takut dia illfil kan, nah kamu pasti bakal macu semangat belajar lagi bair gak malu-maluin di kelas..”
Jiahh asli ni orang nyeramahin gue kali ya. Hey gue Cuma nanya hey, pasti dikira itu private problem gue. Oh noo  :O . Wkwkwk.. berarti pacaran itu berpengaruh besar dong sama minat belajar, gitu pikiran awal gue. Tapi sebelum gue berpikir lebih lanjut buat nyari pacar untuk nambah minat belajar gue temen disebelah gue nyelenong “emangnya nya masih ada cowok yang  mikirnya ke arah jauh kedepan kek gitu? Masih banyak cowok peduli pendidikan? Lah iye kalo lu pacaran sama cowo nerd, cupu, atau cowo intelelek yang gila prestastasi pendidikan, nah kalo lu pacaran sama cowo yang gimane-gimane. Bagimane?”  wahh apa yang dibilang mahluk satu ini juga gak bisa dilalaikan. Terlebih kalo misalkan kita udah cibeudd sama dia. Nah, yang ada kita gak bakal diteterin belajar sama dia, malah disuruh nemenin dia smsan/ telfonan terus atau bahkan diajakin jj mulu. Neh, kalo gini mana bisa kita belajar. Ngeri nih, cowo sindikat pencuri waktu. Wkwkkw =D
Ohyee gue juga jadi inget waktu-waktu gue masih punya pacar. Gue juga heran kadang- kadang, gue sama cowo gue itu sok-sok sering nyupport “yaudah, belajar dulu sana, yang semangat yaa” , “besok ulangan, udah belajar gih, pokoknya nilai nya ga boleh jelek” blablabla. ehh tapi nih tuh tangan ga berentiiii smsan muluuuu . Ntar kalo ditanyain “eh sms mulu, belajarnya udah emang?”. “Hehe, iyaa ini juga sambil kok. Temenin aku belajar yaa” . Temenin belajar? Lewat sms? Banyakan belajar nya apa bales smsnya cobaa? Ujung-ujungnya tuh buku dikacangin karna malah sibuk mencet2 keypad. Dan kalo udah ngantuk buku yang malah gak diliet bahkan sampai 2 menit itupun langsung ditutup, dimigrasikan kedalam sebuah tas bersama buku-buku lain yang gue bersumpah kalo buku-buku itu juga sama nasibnya kayak buku yang tadi. Diretsleting bak orang yang udah bener2 siap buat nerima materi besok. Trus, trus sms gini ke sang pujaan “Yank, udah ni belajarnya. Udah ngantuk, mau bobo dulu, kamu jangan bobo kelamaan ya, gudnite sayang”. Yang pasti emot sejenis “ {} dan :*  juga terketik jelas sebagai penutup sms terakhir yang indah di hari itu. Ueekkk, selalu pengen istighfar kalo gue keinget itu.

Nah, omongan gue malah jadi ngaco kan. Hehew. Yaa jadi gitu, kalo menurut gue pribadi sih kalo bagi gue sendiri gue pacaran itu ‘GAK AKAN MUNGKIN PERNAH BISA’  focus. Yang pasti pikiran kita bakal bercabang-bercabang meen, dan yang jadi prioritas utama pasti PACAR. Bukannya mikirin Tuhan atau pelajaran. Makanya sekarang gue stop pacaran. Eh itu berarti  lo jomblo dong Ges? No, bukan jomblo gue mah ,gue JOMBLO KELAS KAKAP. JOMBLO BERKUALITAS. HIGH SESSION. HIGH QUALITY JOMBLO. IAM SINGLE I AM HAPPY I AM PROMOTE. HAHA apaan laah..
Okee itu aja dari gue, dan semuanya berbalik ke elo sendiri gan. Kalo emang pacaran bisa (udah bisa)  buat lo semangat belajar atau buat ngelakuin hal positif, yaa why not? Tapi kalo lu emang masih ababil tapi lo bener- bener mau focus sama pendidikan lo (yahh kayk gue ini :D) lebih baik lo sabar-sabar dulu deh buat gak pacaran. Sampe nanti lo udah bisa ngeraih seluruh cita-cita dan mendapatkan Your great future. Aamiin….. J


Hihooo semuanyaaa

Ffuuff akhirnya selesai juga gue bikin blog -_-

Sebenernya udah lama gue nyiapin email buat ngeblog. Tapi ya kemalesan gue lebih tinggi dari apapun yang ada didiunia ini. Huhahahah . Nah trus sekarang gue iseng ajaa bukain email gue dan ngotak ngatik blog. Akhirnyaa jadi deeeeh...

Hahah sumpah yaa apa yang gue tulisisn ini ngga bermakna banget. Tapi BOMAT AHHH. GAgagagagkkkkk

Postingan Lebih Baru Beranda

LATEST POSTS

  • [Novel Review] ANTOSIANIN—Putri Sarah Oliva
  • [Novel Review] Bingkai Memori—Petronela Putri
  • [JanuaryRRChallenge] See You Again—Arini Putri
  • #CuapCuap2017 Kilas Balik SBMPTN
  • Review "3 Koplak Mengejar Cinta"- Haris Firmansyah

Categories

  • novel 1
  • review 1

Featured Post

[BOOKREVIEW] Everything We Keep - Kerry Lonsdale

Tittle: Everything We Keep Author: Kerry Lonsdale Penerbit: PT Elex Media Komputindo Release: 17, July Published by the arra...

Recent Posts

VIGESTATION
Diberdayakan oleh Blogger.

Fashion

Laporkan Penyalahgunaan

  • Home
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Blog Archive

  • ►  2019 (1)
    • Januari (1)
  • ►  2018 (1)
    • Juli (1)
  • ►  2017 (21)
    • Desember (1)
    • November (3)
    • Oktober (1)
    • Agustus (2)
    • Juli (5)
    • Juni (3)
    • Mei (4)
    • Januari (2)
  • ►  2016 (12)
    • Desember (1)
    • Oktober (3)
    • Agustus (2)
    • Mei (1)
    • Maret (1)
    • Februari (3)
    • Januari (1)
  • ►  2015 (18)
    • Desember (3)
    • November (2)
    • Agustus (4)
    • Juli (3)
    • Juni (2)
    • Mei (2)
    • April (1)
    • Januari (1)
  • ▼  2014 (3)
    • November (1)
    • Oktober (2)

Cari Blog Ini

Blog Archive

  • ►  2019 (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (1)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2017 (21)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (5)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (4)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2016 (12)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2015 (18)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Januari (1)
  • ▼  2014 (3)
    • ▼  November (1)
      • Cerpen "Jangan Biarkan Cita-Cita Mereka Ikut Pergi."
    • ►  Oktober (2)
      • Pacaran bisa bikin semangat belajar???
      • First time

Subscribe

Stay Connected

Follow us

3/Food/post-list

Like us on Facebook

Hello, here you can tell something about yourself or you can put your blog description here or even you can add some quote of your choice here. This is an optional text area which you can hide or delete from the layout. Its totally dependent upon you if you want this text area or not.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • pinterest
  • Bloglovin
facebook twitter instagram pinterest bloglovin etsy

About me

Read More

Months had too ham cousin remove far spirit. She procuring the why performed continual improving.

Follow Us

  • medium
  • youtube
  • instagram

Boxed Version

  • boxedVersion
  • Home
  • Megamenu
    • Travel
    • Lifestyle
    • Fashion
    • Beauty
  • Social
  • Features
    • Left Sidebar Post
    • Fullwidth Post
    • Right Sidebar Post
  • Blog
  • Download
  • Home
  • About
  • Contact

Contact

Mengenai Saya

Vigestha
Lihat profil lengkapku

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Welcome to my personal blog

Welcome to my personal blog
share tips, thoughts, and useful random things.

Categories

Labels

  • novel 1
  • review 1

My Instagram

My Instagram

Default Variables

  • disqusShortname
  • commentsSystem
  • fixedSidebar
  • postPerPage
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • pinterest

Social Plugin

  • facebook
  • twitter
  • reddit
  • pinterest
  • linkedin
  • vk
  • instagram
  • youtube
  • whatsapp
  • rss

Menu Footer Widget

  • Home
  • About
  • Contact Us

Romantic

Pages

  • Beranda

Traveling

Popular Posts

  • [Novel Review] ANTOSIANIN—Putri Sarah Oliva
  • [Novel Review] Bingkai Memori—Petronela Putri
  • [JanuaryRRChallenge] See You Again—Arini Putri
  • #CuapCuap2017 Kilas Balik SBMPTN

Link List

  • Home
  • Features
  • _Multi DropDown
  • __DropDown 1
  • __DropDown 2
  • __DropDown 3
  • _ShortCodes
  • _SiteMap
  • _Error Page
  • Mega Menu
  • Learn Blogging
  • Documentation
  • _Web Documentation
  • _Video Documentation
  • Download This Template

About Me

Hello, here you can tell something about yourself or you can put your blog description here or even you can add some quote of your choice here.

Popular Posts

  • [Novel Review] ANTOSIANIN—Putri Sarah Oliva
  • [Novel Review] Bingkai Memori—Petronela Putri
  • [JanuaryRRChallenge] See You Again—Arini Putri
  • #CuapCuap2017 Kilas Balik SBMPTN
  • [Naskah Drama] "Kembalikan Indonesiaku" 2016
  • [Novel Review] Muara Rasa—Deva Annesya
  • Review "3 Koplak Mengejar Cinta"- Haris Firmansyah
  • The First Time Ngecuap
  • Review Sebelas – Dya Ragil
  • [Review] Brink of Sense— Mertha Sanjaya

Advertisement

Category3

Vintage

Copyright © 2015 VIGESTATION. Designed by OddThemes