“Fal, udah.. Fal !” Rafky
terus menarik lengan Faldi. Tapi Faldi tak menghiraukan.
Duarrr… Tembakan terdengar
jelas di Jl. Ir.Soekarno . Polisi Nampak berlari kea rah mereka setelah
menyadari siswa-siswa yang habis tawuran disitu tinggal tersisa 3 orang. Faldi,
Rifky, dan siswa SMA Ahmad Yani itu. Yang lain, telah hilang ditelan semesta.
“Faldi, lo bolot ya?”
Panggil Rifky sekali lagi. Faldi baru tersadar dan buru-buru meninggalkan jalan
raya.
“Eh, tengil. Cepetan lo
lari, bilang sama temen-temen lo, ini belum selesai.” Ucap Rifky sambil
mengangkat kerah lawan tawurannya itu. Mereka pun menghilang secepat kilat.
Seperti biasa, polisi selalu kalah cepat.
Rifky terseok-seok
ditengah jalan. Ia merasa hari ini badannya sangat lelah. Bukan lelah karena
habis melakukan aktivitas di sekolah tapi karena kejadiantadi. Ya, kegiatan
tawuran telah menjadi rutinitas bagi Rifky dan teman-temannya. Jangan ditanya mengapa guru-guru dan pihak
sekolah masing- masing tidak mengambil tindakan untuk ini. Guru-guru pun sudah
lelah dengan aksi mereka. Ingin mengeluarkan mereka? Kasihan. Mereka sudah
kelas 3.
Tak lama bayangan Rifky terkelam ketika 3
tahun yang lalu. Ketika lomba hari Pahlawan, Rifky jadi salah perwakilan dari
sekolah mereka yang mementaskan drama menjadi Bung Karno. Namun para beberapa
siswa dari SMA Ahamd Yani mengejek mereka habis-habisan. Rifky dan temannya menggeram.
Tak elak adu jotos pun dilakukan mereka untuk mengetahui sampai dimana batas
kejantanan mereka yang masih belum pantas dibilang dewasa dengan tingkah yang
sebegitu kekanakannya. Sejak saat itu mereka sering mengadakan tawuran antar
sekolah.
Rifky sampai di rumah. Rumahnya Nampak lenggang. Biasanya, jam segini
memang tidak ada orang di rumah. Tiba-tiba Rifky merasa suntuk. Ia menengok
kearah kumpulan buku-buku yang terpajang rapi di rak. Buku-buku itu milik
ayahnya. Tapi tak pernah sekali pun ia menyentuh buku-buku usang itu.
Iseng-iseng ia mengambil acak salah satu buku tersebut. Ditatapnya buku usang
yang telah kusam tersebut. Kulit sampulnya nampak robek seperti telah dimakan
rayap. Ia melihat judulnya. “Pertempuran 10 November”. Ia kemudian mulai membaca
nya sampai ia tertidur pulas.
Critt… Bunyi
mobil berdesing kuat didepan rumahnya. Klakson-klakson saling memburu. Sangat
terdengar jelas ditelinga Rifky, bagaimana tidak, rumahnya berada tepat jalan
raya. Ia segera terbangun dari tidurnya dilihat jam sudah menujukkan pukul
06.32 . Rafky terkejut, ternyata dari siang ia ketiduran sampai pagi. Dilihat
sinar matahari sudah menyeruak ke dalam ruang kamar Rifky lewat jendela yang
terbuka. Rifky segera bersiap-siap dan bergegas berangkat ke sekolah. Ternyata Rifky terlambat. Pagar sekolah telah
terkunci rapat. Parah satpam-satpam disni, baru telat 7menit aja udah ditutup.”
Desis nya dalam hati. Ia pun segera beralih menuju halaman belakang, memanjat
pagar-pagar besi karat dengan lihainya. Mirip sekali dengan perampok kelas
kakap yang tak pernah kepergok ketika memanjat pagar. Sekejap ia sudah berada
di pekarangan.
Sesampainya di depan
kelas, Rifky segera melenggang masuk.
“Rifky? Dari mana saja
kamu?” Suara Pak Narto terdengar jelas di telinga Rifky.
“Telat. ” Jawabnya
singkat.
“Kamu pikir kamu bisa
duduk seenaknya? Sini kamu!” Perintah Pak Narto.
Rifky tidak menghiraukan,
dan berjalan menuju bangkunya. Ia memang terlatih untuk tidak sopan terhadap
guru. Apalagi pada guru yang dianggapnya lemah.
“Rifky! Dengar kata saya?
Berdiri kamu di depan kelas.” Ucap Pak Narto dengan wajah yang sama sekali
tidak bisa dibilang “garang”.
Rifky kemudian berhenti,
dan segera berbalik. Ia bisa saja tidak menuruti perintah Pak Narto seperti
hari-hari biasanya. Tapi entah kenapa hari ini ia tidak bersemangat melakukan
itu dan lebih memilih untuk mengerjakan hukumannya di depan kelas.
Rifky pun dengan malas
menyeret kakinya berdiri di depan kelas.
Kemudian Pak Narto pun
kembali melanjutkan pelajaran.
“Murid-murid, taukah
kalian kalau dua hari lagi hari apa?”
“Tau pak.” Jawab
murid-murid.
“Hari apakah itu, ada yang
tau?”
“Hari senin.” Jawab murid-murid
asal.
“Mau ngelawak ya? maksud
Bapak dua hari lagi kita akan memperingati hari yang bersejarah bagi negeri
kita ini. Ada yang tau?”
“Hari Pahlawan, Pak. 10 Nopember.” Ucap Rinai
sambil mengacung kelima jarinya.
“Nah, benar sekali, Nai.”
Tiba-tiba Pak Narto
menoleh kearah Rifky yang sepertinya sedang terhanyut dalam lamunan.
“Rifky, kamu tau sebentar
lagi hari apa?”
“Rifky?”
“Rifky……”
Rifky tiba-tiba tersentak
dan terkejut ternyata sedari tadi Pak Narto berbicara dengannya. Entah apa yang
sedang ia pikirkan.
“Iya, Pak.”
“Haduh kamu ini, sebentar
lagi hari apa?”
“Hari Minggu, Pak. Besok
kan?”
Hahahahahahahha. Sontak
seisi kelas terbahak-bahak.
“Besok tuh hari Pahlawan,
Rifky. Gimana sih.” Jawab salah satu siswa.
“Oh, hari Pahlawan. Oh,
itu gue juga tau. Gue nggak ngeh
tadi.”
“Alasan saja kamu ini
Rifky.”
Anak menyorak remeh Rifky.
Rifky cuek bebek.
“Sudah, anak-anak. Kita
biarkan saja manusia asing di depan kita ini menjadi seorang pemimpi. Dari tadi
disuruh berdiri di depan kelas bukannya ikut mikir malah ngelamun.”
“Hahaha, kalo dia ngelamun
sih namanya bukan pemimpi, Pak. Pelamun. Ngayal nggak jelas.” Celetuk siswa
berpostur jangkung yang duduk dibangku paling belakang.
“Hahahhaha….” seisi kelas kembali tertawa. Kali ini guru
yang bukan bertipikal killer tapi easy going itu malah ikut terpingkal-pingkal.
“Haaha, kamu benar Wira.”
Ucap Pak Narto yang kembali mengundang gelak tawa seisi kelas kecuali Rifky.
Rifky hanya menatap sinis
kearah teman-teman di depannya. Kemudian kembali berkutat dengan segala yang
memenuhi isi otakknya.
“Baiklah. Nah, tanggal 10
Nopember ini sarat dengan peristiwa Surabaya, dengan Pahlawan Bung Tomo. Nah,
ada yang bisa menjelaskan bagaiman peristiwa tersebut?
Anak-anak punterdiam.
Salah satu diantar mereka tidak ada yang mengangkat tangan. Sepertinya mereka
tidak mengetahui bagaimana peristiwa tersebut.
“Jadi, tidaak ada yang
mengetahui? Rifky, mungkin kamu tau?” Tanya Pak Narto setengah menahan tawa.
Jelas sekali gerak-gerik Pak Narto
meremehkan anak yang sedang berdiri dihadapannya ini.
Salah satu anak pun
nyeletuk. “Pak Narto ada-ada aja deh, nanya ke Rifky. Dia hari Pahlawan aja nggak
tau kapan, malah nanya peristiwa Hari Pahlawan.”
“Hahhahahha” suasana pun lagi-lagi pecah.
“Enak aja. Gue bukan elo
yang gak tau.” Bantah Rifky yang ntah kapan-kapan kembali lagi kealam sadarnya.
“Emang, kamu tau Rifky?
Kalau kamu tau, Bapak kasih izin kamu duduk.”
Untuk beberapa saat Rifky
termangu. Ia mencoba mengingat-ngingat
kuat bacaan di buku yang ia baca kemarin. Buku itu bercerita tentang kisah 10
Nopember. Anak-anak menunggu lontaran kata dari mulut Rifky yang sedari tadi
belum keluar. Mereka mulai meremehkan mahluk yang dibilang Pak Narto asing
tersebut. Tapi remehan tersebut buru-buru hilang dari bayang-bayang mereka
setelah melihat Rifky yang mulai mengambil sikap.
Rifky menceritakan dari
awal sebab terjadinya perang Surabaya. Ia menceritakannya dengan bahasanya
sendiri. Beberapa nama Pahlawan dan orang-orang yang terlibat pun ia beberkan
hingga akhir dari peristiwa tersebut. Anak-anak pun terpana mendengar cerita
dari Rifky. Pun Pak Narto, yang dari tadi malah ternganga melihat Rifky. Penampilan
Rifky didepan tadi bak peserta yang mengikuti lomba story telling dalam bahasa Indonesia.
“Jadi, Peristiwa Surabaya
adalah peristiwa perang yang pertama kali terjadi setelah proklamasi kemerdekaan.
Dan akibat dari kematian Mallby, E.C Mansergh pun mengeluarkan ultimatum 10
November 1945 untuk meminta pihak
Indonesia menyerahkan senjata dan menghentikan perlawanan, ultimatum tersebut
ditolak mentah-mentah. Para pejuang yang hanya berbekal bambu runcing lebih
memilih untuk berjuang dengan perang hingga titik darah penghabisan. Beribu-beribu korban yang mati dalam persitiwa tersebut. ” Terang
Rifky mengakhiri penjelasannya.
“Saya udah boleh duduk,
Pak?” Tanya Rifky setelahnya.
“Bapak?” Panggil Rifky
sekali lagi. Pak Narto pun segera tersadar.
“ I.. Iya silakan Rif.” Persila Pak Narto.
Sorak-sorai pun dan tepuk
tangan riuh pun terasa jelas di kelas tersebut. Rifky menyeka keringatnya.
Ternyata pelajaran Pak Narto yang beralangsung 2jam hari ini dia yang
menggantikan.
Rifky pun perlahan menuju
tempat duduknya. Sekejap ia merasa ada angin positif memasuki tubuhnya. Ia
merasa bangga dengan apa yang baru saja ia katakan. Terlebih lagi diam-diam dia
mulai kagum dengan tokoh yang berjuang pada peristiwa yang ia ceritakan tadi.
“Hajar…….” Teriak Emas
dengan suara membara. Ia dengan cepat berlari menuju beberapa siswa berbatik dan
mulai melontarkan batu-batu kearah mereka.
Di siang yang terik sejumlah anak-anak dari
dua sekolah kembali melakukan aksi tak patut dicontoh. Mereka tawuran lagi
sepulang sekolah. Meresahkan pengguna jalan lagi.
Dicky dengan berani masuk ke area
lawan-lawannya itu dan mulai gebuk-gebukan dengan beberapa siswa. Sedangkan
Faldi ikut melontarkan batu-batu di dekat trotoar.
Rifky, Vio, dan Chris
berdiri sejajar menangkis setiap lemparan batu-batu dari arah yang berlawanan.
Lalu lalang orang-orang lewat pun tak mereka hiraukan. Banyak pengguna yang
ngeri melihat aksi itu sehingga lebih memeilih memutar jalan lain daripada
melewati kandang macan tersebut.
“Merdekaa atau matiiii !”
Teriak salah seorang siswa berpakaian batik dengan kain merah putih berbalut di
kepalanya. Rifky, Vio, dan Chris sempat
terbahak-bahak melihat penampilan siswa itu yang sudah seperti Pahlawan siap
bertempur.
“Hahah, hoii.. Lo kira ini Perang Surabaya?
Mentang-mentang besok lusa Hari Pahlwan?” Cibir Chris dengan nada berteriak
menghina siswa tawuran SMA Ahmad Yani itu.
Siswa tersebut tak
menghiraukan, malah dengan cekatan melempar
batu gunung berukuran sedang kearah Rifky dan teman-temannya. Dengan sigap mereka mengelak. Tapi kemudian
batu itu terlontar tepat kearah belakang Rafky. Terdengar suara orang roboh.
Rafky segera menoleh. Dilihatnya seorang kakek tua renta tergeletak dengan
darah yang bercucuran di kepalanya. Ia sangat terkejut, batu yang sebenarnya
tadi ditujukan untuk Ia dan teman-temannya malah terkena orang yang tak
bersalah. Dalam sekejap ia merasa badannya ikut sakit.
“Kuraang ajar !” Gerutu
Rifky. Ia segera mengejar siswa berpakaian aneh itu. Beberapa batu pun
melambung tinggi dan jatuh tepat di kepala sang pelempar tadi.
Rifky kemudian berbalik
dan segera menghampiri kakek tua itu. Dengan kegugupan yang melekat, ia mencoba
membangunkan kakek tua itu.
“Kek, kakek..” Panggil
Rifky. Ia dengan pelan mengguncang tubuh kakek itu, mendekatkan telinga di dada
sang kakek. Vio pun menghampirinya. “Kena nih kakek ya, Rif? Waduh gawat,
bisa-bisa kita..”
“Iya, tuh orang bego
banget yang lempar ke sini.” Ucap Rifky setengah berdegup. Ia takut kakek itu
meninggal konyol hanya karna serangan batu tadi.
Tiba-tiba kakek itu mencelakkan mata. “Kakek
itu sadar, Rif.” Teriak Vio.
Rifky tanpa aba-aba
langsung menggendong sang kakek.
“Rif, kenapa?” Teriak
Faldi yang melihat insiden itu dari jauh.
“Nggak pa-pa. Udah kalian
lanjutin dulu.” Rifky dengan cepat membawanya dari tempat keanarkisan tersebut.
Kemudian dengan lirih kakek itu berbicara “Itu rumah saya.” Menunjuk pada
sebuah rumah kecil pada jalan setapak tersebut. Rifky pun dengan sigap membawa
kakek itu kesana.
Rifky buru-buru membelikan
kakek itu obat-obat luka. Ia segera membersihkan luka sang kakek. Kakek itu pun
masih terkulai lemas. “Kakek nggak apa-apa kok. ” Jawab Kakek.
“Nggak kek, wajah kakek
berdarah kena batu. Maafkan saya kek.”
“Maaf? Kalo kakek tidak
salah kan bukan kamu yang melakukannya?”
“Iya, Kek. Tapi kalau saya
tadi tidak menghindar, nggak mungkin kakek begini.”
“Sudahlah, Cu. Lagian
kakek nggak kenapa-kenapa.”
Kakek itu memegang kepala,
agak meringis. Kemudian memejamkan mata.
“Kamu kalau mau balik
silakan, Cu.” Rifky terperangah mendengar kata-kata sang kakek yang seperti
tidak ingin dibebankan olehnya. “Tidak, Kek. Saya tidak mungkin meniggalkan
kakek begini. Saya harus bertanggung jawab.”
Rifky kemudian aneh
sendiri mendengar apa yang baru saja dilontarkan oleh mulutnya. Bertanggung jawab? Bisa-bisanya. Gue nggak
pernah ngomong kayak gini sebelumnya.
“Nggak apa-apa Cu. Mungkin
kamu mau melanjutkan tawuran tadi.” Jawab sang kakek sambil tetap memejamkan
mata. Mungkin ia mencoba menahan sakitnya. Rifky tidak menjawab omongan sang
kakek. Ia takut nanti jika dijawab terus yang mucul adalah kata-kata kasar yang
ia katakana seperti biasa. Ia tidak tega melakukan itu kepada Si kakek. Ia
memandang sekeliling ruangan di dalam rumah sederhana yang mungkin berkuruan
4x4 tersebut. Banyak foto-foto usang tentang perjuangan Indonesia terpampang
didinding berkayu lusuh itu. Ia memerhatikannya dengan seksama.
“Di sini ada banyak
foto-foto ketika Pahlawan sedang berjuang. Sepertinya kakek itu mengidolakan
mereka. ” Ujar Rifky dalam hati.
Tiba-tiba pandangan Rifky beralih pada sebuah seragam
yang tergantung didepan pintu.
“Hah, jadi kakek ini dulunya memang Pahlwan?”
Umbar nya dalam hati.
“Kakek ini seorang veteran?” Tanya nya sambil
membawa pandangan ke seragam veteran.
“Iya, Cu. Dulu…” Rasa penasaran
pun muncul dibenak Rifky, baru kali ini ia bertemu dengan veteran secara
langsung.
“ Kakek bisa certain sedikit
bagaimana pengalaman kakek ketika berjuang melawan penjajah?” Kakek itu
tersenyum kecil, kemudian mulai menceritakan
peristiwa-peristiwa ketika kakek itu bertempur di medan perang bersama pejuang
yang lain.
“Wah, hebat ya Kek.
Walaupun pejuang hanya menggunakan bambu runcing
sedangkan para penjajah menggunakan senjata-senjata canggih, tetap saja ya
tidak ada rasa takut yang dihinggapi. Mereka rela berkorban untuk Indonesia.
Meski harus berdarah-darah sekalipun. Sungguh heroik. ” Puji Rifky setelah
mendengar cerita yang cukup panjang dari veteran itu.
“Ya, itulah Pahlawan.
Pahlawan pejuang Indonesia.” Ujar kakek sambil menyeka air matanya yang dari
tadi bercucuran. Rifky telah membuatnya kembali mengenang masa-masa berpuluh
tahun silam. Saat Indonesia masih dihujani berbagai peperangan.
“Tapi sayang sekali, jaman
sekarang ini kebanyakan orang-orang Indonesia apalagi generasi-generasi sekarang,
tidak peduli lagi terhadap sejarah Indonesia, tidak peduli lagi betapa keras
perjuangan para pahlawan yang mati-matian mempertahankan Indonesia agar tidak
direbut para penjajah, tidak peduli lagi betapa hebatnya pahlawan bertempur
digaris perang, tidak memikirkan kerelaan pejuang yang berkorban sampai titik
darah penghabisan. Mereka tidak menghargai semua yang telah diberikan tanpa
pamrih oleh mereka. Menghargai? Boro-boro, ingat saja mungkin iya mungkin
tidak. Padahal semua ini mereka lakukan untuk kita.”
Tubuh Rifky bergetar hebat
mendengar apa yang baru saja kakek itu ucapkan. Ia merasa ikut tersindir dengan
ucapan itu. Ia pun termenung, memikirkan betapa besar perjuangan para Pahlawan
bagi bangsa ini. Ia teringat dengan segala prilaku yang selama ini tumbuh di
dirinya. Ia pemalas, tidak pernah belajar, sering melawan guru, yang lebih
parah ia suka tawuran. Malu rasanya jika ia membandingkan dirinya dengan para
pahlawan. Para pejuang tersebut bertempur di medang perang untuk mempertahankan
sebuah bangsa besar, untuk kelangsungan hidup warga Republik Indonesia,
sedangkan ia dan teman-temannya bertempur di jalan raya hanya untuk mendapat
kepuasan sendiri yang sama sekali tidak ada gunanya bagi sebuah bangsa. Kakek
benar. Rifky merasa amat malu.
“Kek, apakah sangat besar harapan para pahlawan bagi
generasi-generasi muda seperti kami?” Tetesan air mata pun tumpah dari kelopak
mata Rifky kala menanyakan hal itu Sang kakek termanggu untuk beberapa saat.
“Tentu, Cu. Siapa lagi
yang akan meneruskan cita-cita para Pahlawan, Cita-cita Ir.Soekarno, Bung Tomo,
dan semua Pahlawan lainnya, kalau bukan
kalian? Mereka telah menautkan impian-impian besar mereka yang belum tercapai
pada kalian. Mereka ingin kalian meneruskannya. Kalian lah harapan kami. Untuk kemerdekaan
Indonesia di masa mendatang, semua ini ada ditangan kalian.” Ucap kakek itu
lirih.
“Lalu, apakah murid bandel
seperti saya ini masih bisa melakukan sesuatu untuk Bangsa? Meneruskan
cita-cita para Pahlawan? Kakek pun menyunggingkan senyumnya.
“Tentu. Asal kamu mau
berubah, kamu belum terlambat. Ada banyak cara-yang masih bisa kamu lakukan
untuk meneruskan perjuangan mereka. Tapi bukan dengan cara bertempur dan
berperang, seperti tawuran yang Cucu sering lakukan. Kalian harus memiliki rasa
patriotisme dan nasionalisme tentunya, serta punya sikap perilaku yang positif.
Misalnya kalian sebagai pelajar, tugas kalian adalah belajar dengan giat,
hingga suatu saat impian kalian bisa terwujud dan kalian bisa memajukan
Indonesia, mempertahankan bangsa ini. Jangan mau lagi kita diinjak-injak oleh
orang luar.” Ujar kakek tersebut.
Rifky pun terdiam sejenak.
Kemudian ia menangguk, membenarkan seluruh ucapan kakek itu.
Tak terasa hari udah
semakin sore, hari ini ada sebuah
pelajaran berharga yang ia dapat dari seorang kakek yang ia tolong. Kakek
veteran itu telah mengubah segala pandangannya terhadap peristiwa-peristiwa
yang terjadi ketika pahlawan berjuang. Dalam hatinya tertaut penyesalan karena
selama ini tidak peduli dan masa bodoh terhadap sejarah perjuangan kemerdekaan
Indonesia yang telah dilakukan oleh para pejuang yang cinta tanah air. Ia
merasa saat ini belum melakukan apa-apa sebagai generasi yang seyogyanya
menghargai, mencintai dan meneruskan jasa para pahlawannya.
Rifky pun kemudian berterima kasih banyak
kepada Sang kakek yang telah merubah mindsetnya. Dan segera pamit pulang.
Malam itu udara sangat
dingin. Menusuk-nusuk hingga sampai ke tulang. Rifky terbaring di tempat
tidurnya, smebari memirkan kejadian tadi siang. Ia kemudian membaca beberapa buku
heroik dan ia semakin terhipnotis dengan buku-buku itu. Ia merasa sangat begitu
bangga terhadap para pahlwan-pahlawan yang telah berjuang demi negaranya
sendiri, Indonesia. Mulai saat itu ia bertekad pada diri sendiri untuk mengubah
segala perilaku buruknya dan mulai menjadi generasi bangsa yang berjiwa
patriotisme. Ia ingin meneruskan keingan para Pahlawan.
Esok harinya di sekolah,
Rifky pun membicarakan kejadian kemarin kepada Emas, Dicky, Vio, Chris, Faldi,
dan beberapa teman-teman lain yang sepertinya tertarik dengan obrolan itu.
Rifky menceritakan kisah-kisah tentang perjuangan Pahlawan seperti apa yang
diceritakan kakek itu, seorang kakek veteran yang kini menggantukan harapan
kepada generasi-generasi muda selanjuntya. Emas, Dicky, Vio, dan Faldi pun
merasa malu dengan apa yang selama ini mereka lakukan. Dan mulai hari itu pun
mereka berjanji untuk tidak akan tawuran lagi.
10
November, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Hari ini di Sekolah SMA Harapan
Bangsa ramai diadakan perlombaan dalam rangka memperingati hari Pahlawan. Banyak
siswa-siwa dari sekolah lain sengaja diundang oleh SMA Harapan Bangsa untuk
ikut berpartisipasi dalam perlombaan tersebut. Semua anak-anak tampil dengan
kostum berpenampilan seperti tokoh pahlawan.
“Rif, keren banget
penampilan lo?” Puji Chris sambil menyentuh seragaram Rifky.
“Yaiyalah, udah mirip Bung
Karno belom?” Cengir Rifky lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih
bersih.
“Em, mirip nggak ya?
Mungkin mirip Bung Karno ketika 17 tahun. Hahaha.” Jawab Chris asal.
“Haha, bisa aja lo, Chris.
Lo juga keren tau.”
“Thanks bro, eh itu
ditangan lo apaan? Puisi? Sebanyak itu?”
“Oh, ini. Bukan, ini buat
ditempel dimading. Jadi kemaren gue udah bikin sejumlah program kerja. Gue
pengen ngebentuk study work team
untuk siswa-siswi di sekolah kita ”
“Hah, lo bikin program
kerja? Serius?” Chris langsung menarik lembaran kertas dari tangan Rifky dan
membacanya. “Tujuannya untuk meningkatkan kreativitas dan intelektual para
siswa-siswi dan membentuk karakter berkualitas. Keren banget, Rif.” Ujar Chris
sambil menggeleng-gelengkan kepala saking kagumnya.
“Gue harap ini bisa
terlaksana secepetnya, Chris. Doain ya.”
“Iya, pasti gue doain.
Bisa kok.” Jawab Chris sambil menepuk bahu Rifky.
“Baiklah, sekarang ini dia
peserta perwakilan SMA Harapan Bangsa dalam lomba membaca puisi, kita sambut..
Rifky Agustian.”
Sorak sorai dari supporter
khusunya dari SMA Harapan Bangsa menyeruak. Memberikan suntikan semangat bagi
seorang Rifky yang mulai gugup.
“Kamu bisa Rif.
Bismilahirrohmanirrohim.” Lafasnya dalam hati
Kemudian ia pun naik ke
atas panggung membacakan puisi ciptaannya.
“Janji Untuk Para Pahlawan.”
Hei Pahlawan
Manusia tanpa
pamrih melindungi kami
Rela
berperang hingga darah mengalir ngeri
Tapi tak
sedikitpun ketakutan itu kau menghampiri
Yang terfikir
bagaimana bisa mempertahankan negeri
Hei Pahlawan
Manusia pemberani
menghalau rintangan
Hanya
berbekal bambu runcing pun kau kerahkan nyali
Serang,
kalahkan para penjajah yang bersenapan canggih
Titik darah
penghabisan pun berani kau akhiri
Hei
Pahlawanku
Apa yang bisa
ku balas untukmu
Apa yang bisa
ku berikan padamu
Aku tak
pandai berperang, tak berani melawan
Aku tak
sekuat orang dulu, tak sehebat kalian, pahlawan
Tapi aku
berjanji
Aku akan
selalu mencintai negeri ini
Aku akan jadi
generasi bangsa berkualitas tinggi
Yang takkan
biarkan orang luar menginjak bangsa kita lagi
Aku janji !
Terimakasih
wahai para pahlawan yang setia mengabdi
Pengorbananmu
kan tetap terpatri di dalam hati
Semua murid-murid bertepuk
tangan dengan puisi yang baru saja di bacakan Rifky. Rifky merasa sangat
bangga, ia tersenyum manis dan segera turun dari panggung.
“Rif, lo keren banget
sumpah. Puisi lo bikin seantero sekolah bergetar tau nggak?” Puji Emas dengan
wajah terkagum-kagum. Beberapa teman yang lain pun ikut menyalaminya.
“Huh, lega deh. Iya,
makasih ya. Ini juga berkat kalian kok.” Jawab Rifky.
Tiba-tiba beberapa siswa berseragam
sekolah berbeda dengan mereka pun menghampiri Rifky.
“Rif, selamat ya? Puisi lo
keren banget.” Ucap salah satu siswa yang berada paling depan.
“Wah, makasih ya sob.
Makasih juga udah mau datang ke acara kami.”
“Hei, emosi. Kan
ujungnya-ujungnya kita jadi tawuran gini.” Ujar Emas sambil tersenyum. z
“Iya bro, kami juga minta maaf ya. Kami duluan yang sebenarnya cari gara-gara.
Udah 3 tahun bro kita kayak gini. Kami jera deh berantem dan tawuran lagi.
Kemarin, salah satu rekan kami ada yang ketangkep polisi pas tawuran.”
“Hah? Terus?” Tanya Emas
kaget.
“Ya untungnya sih sekarang
udah bebas. Kami semua disuruh bikin perjanjian untuk nggak ikut tawuran lagi.”
Jawab siswa itu menepuk bahu Emas.
“Oh, syukurlah kalo gitu.
Iya, kami juga bro jera tawuran.”
Ucap Chris.
“Hehe, jadi mulai sekarang
kita resmi berteman baik ya?” Tanya Rifky ikut menambah percakapan.
“Iyaa. Pasti.” Jawab anak
berseragam batik itu.
Mereka semua pun saling
berjabat tangan. Satu lagi hal yang telah Rifky dan temannya buktikan. Sekarang
mereka telah menjalin hubungan baik antar SMA Harapan Bangsa dan SMA Ahmad
Yani.
Ternyata ada sebagian
guru-guru yang menyaksikan mereka, para guru pun ikut tersenyum.
“Wah, jadi besok-besok
Jl.Ir Soekarno nggak bakal ramai lagi dong kalo nggak ada kita?” Tanya Dicky
memecahkan tawa.
“Haha, mau dibikin ramai?
Besok deh, kita adain turnamen futsal di lapangan dekat Jl.Ir Soekarno. Pasti
ramai yang bakal nonton. Hahah.” Tukas Nando, yang ikut diselingi tawa oleh
mereka semua.
Tiba-tiba Pak Narto
muncul.
“Cie-cie, udah baikan ya?”
Tanya Pak Narto usil.
“Ye, Bapak. Iya dong, Pak.
Mesti.” Balas Dicky.
Anak-anak SMA Ahmad Yani
pun dengan sopan mencium tangan Pak Narto.
“By the way, Rifky. Puisi kamu tadi bagus banget. Nggak salah Bapak
milih kamu.” Puji Pak Narto kearah Rifky.
“Wah, Bapak bisa aja nih.
Makasih Pak.”
“Iyaa, tapi
mentang-mentang puisinya bagus ntar jangan nggak kamu terrapin ya. Tadi kamu
udah bilang ‘janji’ loh di puisi itu.”
“Tau, tuh Rif. Hayo lo. ”
Jawab Faldi.
“Ya enggaklah, Pak. Rifky
Agustian kan sekarang udah berubah. Ia udah bertekad mau meneruskan cita-cita
pahlawan.” Celetuk Emas asal. Vio buru-buru menjitak kepala Emas.
“Insya Allah, Pak. Para
pahlawan telah banyak berjuang, berkorban untuk kita. Bahkan dengan nyawa
sekali pun, Pak. Apa kita tega hanya menikmati perjuangan mereka sebatas ini
saja tanpa melanjutkan impian-impian besar mereka. Saya rasa, masih banyak yang
ingin mereka benahi untuk Indonesia, tapi usia takmmembiarkan mereka hidup
hingga saat ini. Nah, sekarang giliran kita, berjuang untuk mereka. Teruskan
mimpi-mimpi mereka yang belum sempat terealisasikan.
Karena sekarang
pahlawan-pahlawan kita telah pergi, tapi jangan biarkan cita-cita mereka ikut
pergi juga.” Timpalnya.
0 komentar