My Day's note
Sabtu, 24 Januari 2015
Atas hari-hari baru yangtelah dilewatkan. Atas semua
kejadian-kejadian baru yang Tuhan kirimkan.
Aku menundukkan kepalaku disudut ruang tamu. Mata tak
terpejam tapi pikiran berhasil melalang buana hingga ke samudera antartika. Aku
tercenung pada beberapa hambatan. Oh bukan hambatan, tapi masalah. Masalah?
Terlalu berlebihan. Em, peristiwa.
Aku melangkahkan kakiku menuju gerbang sekolah. Singkatnya
aku pun sampai. Tapi sebelum sampai tepat didepan kelasku aku bertemu dengan
para pendidik hebatku, dan sempatkan menaruh tempurung tangan kanan mereka
dikeningku. Kebetulan ketika itu aku sudah terlambat sekitar 5 menit.
Pertanyaanya : kenapa aku masih bisa masuk? Jawabannya : Kami ditoleransi
maksmial 5 menit bila turun hujan. Dan aku tepat sekali.
Sepanjang koridor yang kutapaki, aku memandang sekelilingku.
Pepohonan hijau, kandang hewan limited edition, majalah dinding yang baru saja
diganti rubriknya, joglo, kelas-kelas, serta anak tangga yang berikutnya kan ku
naiki. Tiba-tiba pikiran untuk dijauhkan dari tempat ini menyerang.
Aku bertemu mereka yang dua tahun belakangan ini setia satu
lokal bersama. Fabulous15Th. Rename
dari StOfESO. Pikiran tadi pun menghilang setelah aku
membantainya dengan sejumlah rutinitas yang biasa kulakukan saat berada
dikelas.
Belajar, bercanda, makan. Akitivas ku hari ini. Buruknya aku
(masih) tidak terlalu peduli dengan materi pelajaran yang dicairkan oleh salah
satu pendidikku lewat ucapan. Aku hanya mematung memandangi kertas soal dan
pembahasan materi berderet penuh angka itu. Sampai teman bangku ku nyeletuk,
“Keliatan kalo lagi ngelamun.” Aku tak terlalu tersentak. Melototkan mataku sok
fokus ke arah kertas itu kemudian. “Haha, keliatan lagi ngelamun.” Lalu aku
memandangnya sepersekon, mencomot pensil biruku dan pura-pura mencorat-coret di
kertas pembahasan matematika itu sambil menampilkan cengiran sumringah,
menunjukkan padanya bahwa aku MENCOBA serius dihadapan pendidiku yang BAHKAN
berdiri menjelaskan 40cm didepan mataku. Iya, tubuhnya menyentuh sisi depan
mejaku. Bodohnya lagi, aku anteng-anteng saja menanggapi kicauan teman sebelahku tanpa peduli dia
melihatku.
“Haha. Ngga ngerti?” Dia tertawa kecil yang dipastikan tak mungkin tak
terdengar oleh sang pendidik. Mungkin cuek saja.
Oke aku menyerah.Pikirku. Menggelengkan kepala tanpa
menghadapnya, tapi tetap cantik dengan senyum sumringahku. (Cantik? Tidak suka?
Oke abaikan saja kata-kata itu)
“Orang-orang udah hijrah ke halaman kedua lo masih stay
disini?”
“HAH?”
“OH IYA”X_X
Aku tertawa dulu, baru dengan cepat mebalikkan halaman kertasnya dan segera move
on ke halaman baru. Ahh, tapi semoga tidak dengan kisah ***** ku. Apalah yang
sedang kulamunkan ini. Pfft.
“Trus, lo kok bisa sadar kita udah pindah halaman?” Aku
balik melempar tanya. “Padahal kan dari tadi kita lagi ngobrolin Cakka.
Harusnya samaa-sama nggak sadar.” Tapi yang ini tidak kutanyakan.
Ia tertawa kecil. Diikuti tawa kecilku. Kemudian ia
melaporkan hal ini ke kedua teman bangku belakang kami. Kami tertawa besar.
TENG! Pikiran tadi kembali datang. Ah, kenapa. Jangan sekarang. Masih banyak
yang harus ku prioritaskan untuk dipikirkan, bukan ini. Ah, jangan dulu.
Habis istirahat, habis menuju Barin Corner (nama kantin), habis mengambil
cemilan ringan, habis mengambil minuman dingin, habis memberikan uang. habis
menerima kembalian, aku mendapat
informasi bahwa seleuruh anak Fabulous15Th
dipanggil, diarahkan ke aula. Para cewek-ceweknya pun sontak menyiapkan diri.
Sisiran rambut, pita, bando, bedak, bahkan ada yang sempat memanfaatkan webcam dilaptop
teman demi memastikan penampilannya yang
bisa dilihat oleh diri sendiri, ah itu kerjaanya si Ron, Irfi, dan aku
pastinya. Ngomong-ngomong ada yang bisa menebak dengan benar kami mau apa? Kami
mau berfoto untuk buku tahunan.
Jedar! BUKU TAHUNAN? Itu adalah buku paling memilukan yang
cukup ku tau. Kau pun pasti tau isinya apa. Foto-foto alumni. Itu artinya kami
semakin dekat untuk menjadi alumnus.
Apakah ini pengusiran
secara halus? Omaigat, nggak lama lagi kita akan jadi alumni .
Celoteh-celoteh dari temanku kini menghiasi ruang telingaku. Jadi mereka
menyadarinya, pikirku.
Yaps, foto-foto untuk buku tahunan pun telah kami lewati.
Kembali ke kelas, melewati koridor yang ku tapaki tadi pagi, melewati pepohonan
hijau, kandang hewan limited edition, majalah dinding, joglo. Aku merasakkan sesuatu tak asing, De JaVisite.
Suasana itu. Yang sepertinya nanti akan kurindukkan.
Kurindukan karna nanti aku tak kan merasakannya lagi.
Ah, pikiran itu semakin memuncak dikepalaku. “Jangan
sekarang, jangan berpikir tentang itu
dulu, jangan menyedihkan diri sebelum tragedi, masih ada sesuatu yang harus
diprioritaskan sebelum mengenang ini. Ah, jangan sekarang. Ah, aku tak sanggup.
Aku takut melepaskan, takut terlalu
merindu. Pilu.”

0 komentar