Ku perhatikan arlojiku bergerak.
Sedikit bernafas tenang, sebab ini kali pertama aku berhasil menggumam; “Aku tidak terlambat”.
Kududuk di pertepian batu besar  bergelimang.
Mataku menemukan udara diperaduan.
“Sudah rutinitasnya mentari yang terbit akan terbenam di langit Tuhan . Bukanlah lagi jadi fenomena yang istimewa.”
Suara asing berjenis bass itu sama sekali tak mengagetkan nada jantungku.
Ia mendekat. Ikut duduk di sebelahku.
“Sebagai wanita karier dengan jadwal yang tak pernah sepi, aku menikmati nikmatNya yang tak mampu kudustakan ini. Lagi pula, apa urusannya padamu?”
“Aku hanya bingung dengan wanita berusia 30 tahun yang masih gelagapan mencari jati dirinya.”
Sontak mataku menyorot mukanya tajam.
 “Maaf. Tapi aku kerap melihatmu bertandang kemari. Meski bukan pada jam ini.”
“Bukankah siapapun berhak merangkai cara liburannya sendiri?”
“Lalu, apa maksud jati diri seperti katamu?”
 “Air mukamu menyirat kekacau-balauan.”Kemudian bibirnya moncong mengarah ke wajahku.  Padahal dia punya telunjuk atau jempol untuk menunjuk wajahku tapi dia lebih memilih cara yang salah.
Mendongakkan kepala, terpejam.
Meneriaki dalam hati.
Denting arlojiku yang tak bersuara terus berjalan. Mentari tak lagi terlihat, yang ada hanya sinarnya  menge-coklat.
Aku sengaja tak membalas gurauan sarkas sosok itu, lebih baik menyelami kesah laluku dan berusaha melepasnya.
Semburat cahaya menerpa, segera bersyukur untuk hari gratis ini.














Share:

0 komentar