Review "Cinta Tak Perlu Tanda Baca"-Sri Ulang Sari
“Cinta Tak Perlu
Tanda Baca”—Sri Ulang Sari
Gaes.. Ive back! Sedang hanyut bersama buku apa kalian,
gaes? Merapat dulu yuk, because I have to share review from a novel Ive read
this time.
Novel yang saya ulas ini adalah novel terbitan Kinomedia.
Duh, kenapa denger Kinomedia saya langsung keinget hestek galonkopi yaak-,-
heheh cuss.
Judul: Cinta Tak
Perlu Tanda Baca
Pengarang: Sri
Ulang Sari
Penyunting: Arya
Putera Negara
Cover Design:
Aruka
Layout: Andhika
Penerbit:
Kinomedia
Vi + 175 hal,
13x19cm
Cetakan pertama,
2015
“Titik atau koma bagiku sama saja, tak menghentikan apapun atau melanjutkan apapun. Kisah cinta ini tak perlu tanda baca untuk menyelesaikan segalanya.”
Ada sekian banyak problema cinta di dunia ini, tapi aku tak mengerti mengapa ada laki-laki yang benar-benar tak berhasrat pada seorang perempuan meski dia telah menyerahkan dirinya secara utuh sekalipun. Aku tahu cinta tak pernah butuh alasan tapi butuh balasan dan dalam hal ini aku tak memperoleh itu. Meski di dalam hatiku bagai remuk, namun aku sadar tak selayaknya aku memaksakan keinginanku. Setelah sekian lama bertindak bodoh di depannya, sekarang mataku terbuka lebar aku tak punya tempat di hatinya. Tak ada. Semua tempat itu telah diisi oleh seseorang meski aku tak pernah mau percaya ada cinta yang demikian itu.
Setelah jatuh berkali-kali, kehilangan berkali-kali, kini aku paham bahwa tak semua hal harus berjalan sesuai kehendak. Terkadang ada yang bercabang ke mana-mana, ada yang mencapai tujuan dan beberapa malah menemui jalan buntu. Hidup tak ubahnya sebuah perjalanan, dan perjalanan adalah pengalaman, dan cinta adalah sesuatu yang tak habis diselami. Untuk merasakan cinta, kita harus siap mencecapi derita penolakan ataupun kehilangan. Dalam hal ini, aku tak mengalami penolakan, juga tak mengalami kehilangan, aku seutuhnya memiliki cinta. Cinta yang hanya aku yang tahu.
Sebelumnya izinkan saya berterimakasih banyak untuk ini.
![]() |
| Terimakasih utk TTD nya kak, thanks too @Klubbuku_mks |
Cinta Tak Perlu Tanda Baca
atau kita singkat saja CTPTB ini adalah novel dari Kak Sri yang pertama kali
saya baca. Judul dan tagline-nya cukup menyita perhatian saya. Novel ini bercerita tentang kisah hidup Diandra
beserta problema cinta yang dihadapinya.
Cerita pembuka diawali dengan
pertikaian yang terjadi antara Diandra dengan Adrian. Kekasih yang amat dicintai Diandra, yang telah
mengacaukan hati Diandra dengan kesalahannya, hujan menjadi saksi atas insiden
perdebatan mereka. Meski tangis Diandra benar-benar pecah, ia masih sanggup
untuk memafkan Adrian. Namun, hubungan mereka benar-benar telah terpatahkan
saat Diandra menyaksikan pemandangan pahit. Adrian bersama seorang wanita yang
tak lain adalah bos Diandra sendiri. Mereka tertangkap tengah menikmati
keindahan berdua di Bali. Deandra pergi dengan hati yang hancur.
Diandra kemudian mencoba move on, berusaha menjauhkan
diri dan hati dari Adrian, sampai harus pindah kerja. Untungnya di tempat
barunya, ia mendapatkan angin segar dengan bertemu Selena, karyawan sesamanya,
dan seorang laki-laki yang berhasil menelusup hatinya, Julian Sastrawan.
Sosok Julian yang disuguhkan memang nyaris sempurna,
sikapnya terlihat dingin dan tertutup. Fisiknya? Badannya sispack, punya bibir
sensual, dan mata biru indah yang telah
membuat seorang Diandra berhasil mengusir Adrian dari relungnya dan mencoba
mencari peluang untuk mendapatkan hati atasannya itu.
Namun sayang, respon Julian
amatalah berbeda. Dia tidak menanggapi hati Diandra yang benar-benar ia juga
sendiri tahu hati itu hanya untuknya. Bahkan, saat Diandra lose control dan
berusaha mencuri bibir Julian,malah tamparan kesadaran yang diterima gadis itu.
Awalnya, saya benar-benar
nggak tahu sebab Julian not responding
terhadap perasaan Diandra kepadanya yang telah menggebu. Dan dijelaskan bahwa
Julian punya masa kelam yang membuatnya sulit berdiri dan menata hati lagi.
Sampai dichapter terakhir, barulah terungkap apa yang sebenarnya terjadi pada
Julian hingga ia sulit membuka hatinya pada Diandra.
Novel ini kadang membawa kita
sejenak untuk mengetahui sisi kehidupan seorang Diandra, tentang dirinya yang
telah kehilangan orang tua saat usianya amat dini, lalu bagaimana dia mencoba
peruntungan hidup dengan bekerja di tempat prostitusi, hingga sampai ia
menempuh jalan yang lebih baik dari masa kelamnya dulu. Retno, sahabat Diandra.
Saksi atas diri Diandra, pemfasilitas hidup Diandra hingga Diandra bisa
menaikkan taraf hidupnya, orang yang kadang telah Diandra anggap bak ibunya
sendiri.
Bicara masalah minus, sepanjang
saya membaca novel ini banyak sekali typo yang saya temukan.
Beberapa diantarnya adalah.
On page 67 ‘it’
yang seharusnya adalah ‘itu’
On page 74 ‘..karena
itu aku ingin melakukan kesalahan lagi..’ seharusnya ‘..karena itu aku tidak
ingin melakukan kesalahan lagi..’
On page 83 ‘Selene’ harusnya ‘Selena’
On page 86 ‘... banyak hal Ayah’ harusnya ‘... banyak
hal, Ayah.’
On page 89 “Well saatnya bekerja.” harusnya “Well,
saatnya bekerja.”
On page 147 “nyusl” harusnya “nyusul”
On page 155 ada dialog dua tokoh yang akhir dan awalnya
tidak disertai tanda kutip.
Dan dalam tiap percakapan novel ini sepertinya tidak
dibubuhi tanda koma tiap pada
kalimat misalnya: “Kamu mau kemana
Diandra?” atau “Aku pasti datang Ret.” Harusnya disertai. Memang, typo nya
ringan. Tapi jika telah cukup banyak seperti ini? J
Tentang masalah kelam yang
disembunyikan Julian saya memang awalnya belum bisa menebak. Secara Julian adalah
laki-laki dengan “look” yang
benar-benar bisa memikat pandangan wanita manapun. Dan juga ketika insiden nama
Jendra disebutkan. Saya juga masih belum bisa menebak. Namun ketika Diandra
berasumsi bahwa Jendra itu adalah nama laki-laki langsung saya bisa menebak
kejanggalan yang terjadi pada Julian. Dan ketika sampai membaca chapter
terakhir, puncak konflik tentang Julian tersebut bukanlah lagi menjadi suatu
kejutan bagi saya. Coba kalau kalimat tentang asumsi Diandra itu diperhalus
mungkin hingga menyembunyikan kalimat seperti itu, pasti yang ada dipikiran
saya adalah “Siapa wanita itu sebenarnya?” Soalnya kalau nama Jendra, nggak
kentara juga menurut saya. Kecuali kalau namanya Bagas, Yudi, Tino, :D
Dan bicara masalah
kelebihannya, beuh.. DIKSI ! Kak Sri kece banget memainkan diksi. Beliau
mengemas sebuah kalimat sederhana menjadi sebuah kalimat penuh makna yang
anggun dan elegan. Rasanya tiap kalimat yang dijejerkan cocok banget buat
dijadiin quotes. Pemilihan kata serta kalimatnya pas, menarik, cantik. Ini yang
bikin saya benar-benar menikmati tiap aliran kisah Diandra yang disuguhkan.
Diksi memang satu hal yang nggak boleh diremehkan ya, guys.
Its time to rate!
*drumrolls*
3,4
Yeay! Congrats for Kak Sri Ulang Sari aka @hujanrintih2
,bener-bener ingin menjejaki tulisanmu yang lain ><
Overall, novel ini menyuguhkan problema cinta yang bisa
dibilang menyedihkan, karena pada endingnya sang tokoh tidak .... *sensor*
*bacasendiriaja* *nggakmauspoil* *:p*
Tapi, dalam CTPTB saya menangkap kesan kalau hidup kita
tak selamanya berjalan mulus, hidup tak bisa selalu seperti khendak kita, pasti
akan ada jatuh berkali-kali,dan inilah namanya perjalanan. Diandra telah
mengajarkan hal itu kepada kita. Meski kisahnya mesti berakhir sedih, tapi
Diandra tidak merasa bahwa ia mengalami penolakan. Atau bahkan kehilangan.
Yuk, buat yang belum baca CTPTB segera serbu novel ini.
Isi luang kalian dengan memahami kisah problema Diandra, dan temukan pesan yang
tersirat. J
Sekian ulasan saya, kita bertemu diulasan berikutnya. See
you ^^
Quotes of “Cinta Tak Perlu Tanda Baca”—Sri Ulang
Sari
“Adanya kalanya sebuah masalah didatangkan untuk kita,
hanya supaya kita lebih tegar.”—7
“Aku benar-benar tidak tahu dari mana datangnya perasaan
sedih ini.”—9
“Kulihat lagi sepasang mata biru itu dan kutemukan
ketenangan di sana.”—67
“Ya Tuhan, selama ini aku bernapas, namun kenapa baru
kali ini aku benar-benar tidak bernapas untuk sejenak.”—84
“Mengapa disaat aku telah jatuh cinta, di mata dia aku
bukanlah siapa-siapa?”—177



0 komentar