
Sore ini, ku duduk dipertepian
Kutatap awan yang langitnya menguning
Seberkas cahaya dengan ramah menyapaku lewat kecilnya hembusan angin
Kilauan jingga seperti emasnya memaksaku agar ikut menari dalam lingkupnya
Sungguh, menggetarkan hati yang diam-diam bergelora
Mungkin sekarang aku t'lah jadi penikmat senja
Kerap menanti keindahan temaram jingga yang memesona
Sengaja menunggu hingga seluruh piringan matahari menghilang dari garis cakrawala
Dan kini dalam kejapnya ia telah menyeruak dikedua ekor mata
Aku memberi salam pada mereka
Pada dedaunan yang mulai gugur dari teduhnya
Pada terpaan nafas angin yang mulai gusar dikejar musimnya
Dan tentunya padamu, senja yang mulai menua
Kau penenang, penjemput lelah, merebahku dalam dekapan hangat sang maya
Sambil menatap riuh kepada suasana yang memetangkan hari
Senja, engkau telah merengkuhku bersama mesin waktu
Mengilas balik persitiwa dulu seperti de javu
Tanpa izin, kau kenalkan aku kembali dengan masa lalu
Pikiranku kemudian bergelayut lagi padamu, senja
Apa maksud lain Tuhan menciptakanmu dibalik warna seindah itu?
Apa karna siang dan malam selalu bertengkar? Berebut tempat
Padahal tentu malamlah yang akan selalu berpegang
Dan senja terus menjadi panglima ketika langit berubah kelam
Semakin lama, pemandangan yang kulihat semakin tak sama
Jingga dalam matahari perlahan tapi pasti menurunkan intensitasnya
Tak ada kata yang sanggup terlontar karena dibuatnya
Inilah teja, akhir dari sebuah senja
Masa yang begitu singkat
Mengapa senja datang tiba-tiba dan berkelebat dengan cepat?
Terasa, hanya harapan semu yang saat ini kudapat
Karena pada akhirnya,
Aku pasti terjerembap oleh gelap yang selalu merangkap
Hai senja,
Sampai kapan pesonamu berhenti memikat?
(sajak: 16 November 2014
pic: 16 Desember 2016)
Kerap menanti keindahan temaram jingga yang memesona
Sengaja menunggu hingga seluruh piringan matahari menghilang dari garis cakrawala
Dan kini dalam kejapnya ia telah menyeruak dikedua ekor mata
Aku memberi salam pada mereka
Pada dedaunan yang mulai gugur dari teduhnya
Pada terpaan nafas angin yang mulai gusar dikejar musimnya
Dan tentunya padamu, senja yang mulai menua
Kau penenang, penjemput lelah, merebahku dalam dekapan hangat sang maya
Sambil menatap riuh kepada suasana yang memetangkan hari
Senja, engkau telah merengkuhku bersama mesin waktu
Mengilas balik persitiwa dulu seperti de javu
Tanpa izin, kau kenalkan aku kembali dengan masa lalu
Pikiranku kemudian bergelayut lagi padamu, senja
Apa maksud lain Tuhan menciptakanmu dibalik warna seindah itu?
Apa karna siang dan malam selalu bertengkar? Berebut tempat
Padahal tentu malamlah yang akan selalu berpegang
Dan senja terus menjadi panglima ketika langit berubah kelam
Semakin lama, pemandangan yang kulihat semakin tak sama
Jingga dalam matahari perlahan tapi pasti menurunkan intensitasnya
Tak ada kata yang sanggup terlontar karena dibuatnya
Inilah teja, akhir dari sebuah senja
Masa yang begitu singkat
Mengapa senja datang tiba-tiba dan berkelebat dengan cepat?
Terasa, hanya harapan semu yang saat ini kudapat
Karena pada akhirnya,
Aku pasti terjerembap oleh gelap yang selalu merangkap
Hai senja,
Sampai kapan pesonamu berhenti memikat?
(sajak: 16 November 2014
pic: 16 Desember 2016)











