Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Lagi-lagi aku harus menyalahkan ayah yang kemarin yang mengajakku menjajaki kuliner di festival makanan.
Aku mengamati timbangan. Rautku berubah jengkel.
"Mengecewakan!"
Ernes muncul dari hadapanku. Dia melepas slayer PMR-nya.
"Naik?"
"Hah?" Aku menoleh. Terkejut melihat dia yang entah kapan-kapan berada di sebelahku. Ia ikut mengamati timbangan.
"Cuma naik 5 kilo lagi." Ucapnya.
"Sebagai pacarmu, aku telah merasa gagal!" Kataku yang kemudian turun dari timbangan itu.
Ernes terbahak.
"Hanya karena massamu yang kian bertambah?"
"Maafkan aku, Ernes. Selama kau menjadi pacarku kau harus rela menerima lontaran kata cela dari hampir seantero sekolah." Sesalku padanya.
Ernes tampak mendelik.
"AKU GENDUT! SANGAT GENDUT! KENAPA KAU MAU JADI PACARKU." Sederet kalimat itupun tanpa izin keluar dari mulutku.
Raut Ernes makin berubah.
"Dengar, Andila. Kau pikir selama jadi pacarmu aku mempermasalahkan berat badanmu itu?
"Tapi sekarang beratku telah menjadi 78 kilo!" Jawabku padanya.
" Tapi aku bahkan tidak peduli dengan semua ocehan mereka." Jelas Ernes tak mau kalah
Aku berusaha membalas tatapan Ernes yang tajam menyorotku.
"Aku mencintaimu karna aku memang mencintaimu."
"Ja..di.." Aku seakan tak dak dapat berkata apa-apa.
"Jadi jangan takut gendut, Andila."
Ernes mengusap pelan ubun-ubunku. Tak peduli dengan tatapan para siswa yang sedari tadi memperhatikan kami dibalik kaca ruang UKS.

Share:

0 komentar