Hujan Bulan Juni, Lebaran dan Lembaran Bulan Juli




(Tulisan ini diikut sertakan dalam kompetisi menulis lanjutan kalimat "Hujan Bulan Juni, lebaran Bulan Juli" yang diakan oleh Kak Aprie Janti di blognya di http://t.co/3wmA2Wq6rH )




 Hujan Bulan Juni, lebaran Bulan Juli, akankah siap kuhadapi.
Pagi ini, lagi sama-sama. Aku kembali mencomot spidol. Kembali meraih kalender kecil yang penuh dengan  catatan kaki. Kembali menyilangi. Tapi kali ini, sasaranku berganti ke angka 30.
Ini memang tugas mononton, tapi aku selalu bersyukur kepada Tuhan karena ia masih memberiku nafas dan menghantarkanku pada hal-hal hikmah di setiap tanggal-tanggal yang telah aku lewati. Khususnya di Bulan Juni. Ya, Juni. Bulan yang membawaku pada guncangan dahsyat. Bulan yang dengan teganya menertawaiku karena kelenyapan asa. Bulan yang menggiring ku hampir mati. Bulan yang jahat! Yang sengaja mendorong api untuk menyiramku. Menjatuhkan hujan hingga menghanguskanku.

1 Juni
Sembari menyeruput mocca greantea pesananku, mataku tak lelah mengedarkan pandangan di sekitar beranda cafe dan melirik monoton jam tangan yang jarumnya selalu berpindah. Ini sudah dua jam empat puluh tujuh menit, tapi tak ada tanda-tanda kehadiran Eros. Aku kembali menyedot minumanku yang sisanya tinggal seperempat, menandakan betapa lelahnya aku menunggu.

Derap langkah terdengar memasuki ruang cafe.

Aku sontak mengambil tissu dan membersihkan sisa cream yang tertempel di bibirku. Aku tidak mau Eros mengejek ria ku lagi setelah kejadian memalukan beberapa minggu lalu. Aku mulai mengambil posisi dan bersiap menyapa Eros dengan sedikit kekecewaanku yang manja. Aku tak sabar bagaimana ia akan merasa amat bersalah karena telah membiarkanku melumut menungguinya di cafe ini sendirian.
Senyumku yang mengembang buru-buru layu setelah ku tahu derap langkah kaki yang datang itu bukan milik seseorang yang kutunggu-tunggu. Aku kembali statis menantinya.
“Huf.”
Kalau sampai pesananku ini habis dan Eros tidak datang juga, aku akan pulang!” Ucapku sambil meminumnya pelan-pelan.

Aku sudah banyak membunuh waktu hanya untuk melihat lalu lalang orang disekitar ruang cafe, dan menatap arlojiku tentunya.Tapi Eros masih enggan saja memunculkan batang hidungnya dihadapanku. Pukul 17.00 tepat. Lebih baik aku pulang.

Di tengah jalan, niatku untuk kembali ke rumah menjadi berubah. Aku hendak mengunjunginya saja di rumahnya. Mungkin saja Eros sekarang masih berkutat dengan pekerjaan barunya. Eros kan pernah bilang kalau akhir-akhir ini aku harus memakluminya. Bodohnya aku kenapa baru menyadari ini. Lebih baik aku Menemuinya dan bicara dengan nada manja di daun telinganya “Kamu kenapa nggak ke temuin akuuu? Kamu lupa? Kamu janji mau bicara masalah pernikahan kita, tau.”

Dan apa yang aku dapat setiba sampai di pekarangan rumah Eros. Orang-orang berkumpul di sana. Mereka semua kelihatan sibuk. Aku melihat seorang ibu-ibu dengan pakaian hitam.
Pantesan Eros sibuk, ternyata ada acara di rumahnya, sungutku.
Loh, tapi acara apa? Kenapa Eros dan keluarganya tidak bilang? Aku merasa aneh sendiri.

Lalu ada yang memeluk tubuhku.

“ Loh, Rin, di rumah kamu ada acara apa sih? Kok nggak bilang-bilang kakak? Bang Eros mu mana?”
Ririn tak menjawab namun memeluk tubuhku makin erat.
Lalu aku menyadari bahwa mata Ririn telah basah. “Kok kamu nangis?”

Semakin banyak orang-orang yang bertandang. Dan aku baru menyadari, bukan hanya ibu-ibu tadi yang memakai pakaian hitam. Tapi mayoritas orang-orang yang ada disini.  Perasaanku berubah tak enak.

Aku meninggalkan Ririn dan segera melangkah masuk ke ruang tamu, ruang di mana banyak orang yang telah berkumpul disana. Aku melihat sesuatu berada di tengah-tengah ruangan itu. Nada jantungku layangkan  tanya.

 “Navya...” Kak Narita memanggilku lemah. Aku segera mengambil posisi di sebelah Kak Narita. Dia mendekapku.

“Kak, i-ini s-siapa?”
“ S-siapa yang m-meninggal?”

Lagi-lagi Kak Narita sama. Tidak menjawab. Dekapannya meningkat membuat dadaku hampir tersengal. Kulihat mata dan hidungnya merah, mengeluarkan banyak cairan. Tatap matanya menyiratkan kesedihan.
“Eros mana, Kak?” Tanyaku sambil berusaha mencari Eros ditengah perkumpulan orang-orang.

“Maafkan dia..”
“Maaf?”
Aku semakin tak mengerti.

Kak Narita menarikku dan mendekatkan jarak pada sosok tubuh yang dibaringkan. Badanku seperti menggigil, nada jantung semakin berteriak. Kenapa Kak Narita menyuruhku.....
 Tanganku gemetaran saat hendak membuka tutup kain.

“Astaghfirullahaladzim, Eros!”

Se per sekian detik waktu berhenti berputar. Aliran nadi tak mengalir. Organ kaku dan kalu.
Mataku. mataku tak dapat memerjap lagi sesudah melihat wajah siapa yang ada dibalik tutupan kain itu.

 Eros tertidur pulas bersama kapas yang telah memenuhi lubang hidungnya, ditemani aroma khas cendana.

Buliran air mataku berlomba-lomba jatuh tanpa diberi aba-aba.
Aku ingin berucap, tapi lidahku menolaknya.
Batinku geriliya berkecamuk hebat
Nafasku sesak.
Aku tidak akan bisa bertemu Eros lagi.
Tak lama, ada yang menangkap tubuhku dari belakang.



**

Semenjak itu, hari-hariku di Bulan Juni selanjutnya berganti sendu. Sunyi selalu erat menggengam tanganku, seakan takut jikalau aku berpaling.
Pekerjaanku kini lebih monoton dibanding melihat lalu lalang orang- orang di cafe. Dan menatap arlojiku.
Rutinitasku hanyalah menunggu, merindu, meratap.
Kadang aku tersenyum dan terbahak mengingat tiap perisitiwa yang pernah mewarnai kita dulu, dan kemudian aku merangkai air di kelopak mataku yang sembab karena aku kembali tersadar bahwa semua itu kini sebatas angan.
Setiap pagi aku berontak di balkon, meneriakkan namamu di udara. Berharap kau bisa mendengarnya di angkasa. Dan kembali lagi bersama denganku. Menwujudkan rencana bukan sekedar impi.
Aku hampir gila tanpamu, Eros!


Bulan Juni terlalu menjadi hujan bagiku. Hujan yang berisi api lalu liar menghanguskanku. Pilu. Aku mencoba untuk tidak bersedih dengan keadaan ini, tapi hatiku tersakiti. Aku berusaha sekuat tenaga merelakan kepergian Eros, tapi akhirnya aku tidak terima juga. Aku tidak rela Eros pergi menanggalkan semua janjinya begitu saja. Janji yang menerbangkanku ke rasi bintang paling manis.

Eros, mengapa kamu tega meninggalkanku
Meninggalkanku begitu saja
Aku sudah letih menunggumu di cafe biasa
Tapi kau tak mau menemuiku
Aku sudah mendatangi rumahmu
Kau masih tak mau menemuiku
Bahkan untuk selamanya, kau telah memutuskan itu.
Mana janjimu untuk menyuntingku di Bulan Juli?
Kau tahu aku sudah menanti itu sejak dulu?
Kenapa kau mengubur segala impianku menjadi bidadarimu?
Kau tidak mencintaku lagi?
Jahat!


**

18 Juni

Masih dalam suasana hati yang berkabung.
Alhamdulillah aku masih bisa melewati tiap waktuku semenjak kejadian 17 hari yang menurutku sudah seperti seabad itu. Tadinya aku berpikir bahwa aku tak kan sanggup menjalaninya tanpa Eros disini.
Sedikit demi sedikit, aku sudah mulai bisa tersenyum. Banyak orang yang setia mendukung kepulihanku. Harusnya aku bersyukur dikelilingi orang sehebat mereka.

“Jangan terlalu lama bersedih, sayang. Life must go on.”
“Kamu tidak tahu perasaanku!”
“Aku amat mengerti. Aku juga ingin kau mengerti.”
“Maksudmu?”
“Semua ini bukanlah diluar kendaliku.
Kita hanyalah manusia-Nya yang tak berdaya atas setiap kehendak.
Bangkitlah. Berjalanlah. Hiduplah kembali seperti biasa. ”
“Seperti saat aku belum pernah mengenalmu?”
“Tentu..”

Aku terbangun dari mimpi. Mataku berair. Eros baru saja menjamahku lewat mimpi. Ia hadir dalam balutan putih mempesona. Tapi bukan itu yang ku membuatku seketika bergirah. Kata-katanya. Ia meminta ku segera keluar dari keterpurukan.


Aku mengusap-ngusap lembaran terakhir. Diari biru sempat menghanyutkan aku lagi pada kenangan itu. Tapi aku tak boleh berlama-lama disana. Aku segera menutupnya dan menyelipkannya dalam kalender. Aku berdiam diri di pusara. Memanjatkan segala doa untuk yang di sana. Dan untuk yang pertama, aku berhasil menahan air mata dan bahkan menyunggingkan sebuah senyuman. Senyuman yang amat ikhlas di tempat peristirahatan Eros.

Eros, hari ini adalah hari terakhir di Bulan Juni. Bulan hujan yang sempat membasahi hati, jiwa, dan perasaanku. Bulan yang menghantarku pada kepergianmu, bulan yang menjemputmu kembali ke pangkuanNya.  Sudah cukup rasanya tiga puluh hari untuk membuatmu di sana resah atas ratapanku di sini. Kini aku telah siap merelakkanmu. Siap memiiki. Memiliki kehilangan.
Karena aku yakin, Tuhan tau tempat terbaik bagimu, meski bukan disini. Setidaknya aku pernah mendapat kesempatan bersamamu.

Dan aku sudah sangat siap dengan hari-hari ku yang baru di Bulan Juli nanti. Aku akan hidup seperti biasa lagi, merajut  asa dan mimpi bersama orang yang lain lagi.

Karena aku sadar, kehilanganmu bukanlah semata-mata kiamat untukku.
 Kehilanganmu adalah ketetapan Tuhan yang tidak dapat ku ganggu.

“Semoga kau tenang di sana, Eros. Doaku selalu setia merangkulmu dari jauh.” Ucapku sembari beranjak dan meinggalkan pusara.

Terimakasih hujan Bulan Juni, selamat datang lebaran, dan lembaran  Bulan Juli.

Share:

0 komentar