Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Aku menunggu seorang laki-laki berbicara ketika mentari mulai menampakkan kejingaannya.
"Lelaki memang selalu salah!" Setelah 50 menit saling berdiam diri, ia membuka percakapan dengan menyodorkan kalimat itu.
"Jadi kau bilang aku menyalahkanmu! Iya, aku memang menyalahkanmu karna itu adalah salahmu!"
"Kau pikir kau juga tidak punya kesalahan apapun selama ini, hingga harus terus mengambing hitamkan laki-laki yang sudah hampir tiga tahun ini setia memberikan bahunya untuk tempatmu bersandar?"
"Alah!" Aku meneriaki kata-katanya yang basi.
Lelaki memang banyak tingkah. Dia kira dia penguasa? Seenaknya memainkan hati wanita.
"Harusnya kau juga intropeksi diri.." Intonasinya perlahan melemah.
"Kau yang seharusnya sadar? Wanita barumu itu sukses menjauhkan kita."
"Maksud apa biacar begitu?" Dia seperti tak terima.
"Lalu? Kau menilai mataku salah ketika melihat apa yang kau lakukan di cafe itu dua minggu yang lalu?" Aku mengendalikan percakapan.
Dia membuka mulutnya, telunjukku menyentuh bibirnya. "Shut up! I dont need any reason."
Dia kembali terduduk. Aku diam sejenak. Untuk beberapa saat angin menyapu sekitar kami, menyetatiskan gerak.
Aku mencoba mengklaim diri bahwa aku benar-benar tak salah.
"Tuhan, rasanya kami terlalu lemah untuk hubungan ini."
Dering handphonenya pun berbunyi, ia beranjak menjauhiku.
Aku pun bersegera meninggalkann tempat itu.

Share:

0 komentar